PSI: Kinerja 2 Tahun Anies Ibarat Capaian Pejabat Wali Kota

CNN Indonesia | Rabu, 16/10/2019 18:38 WIB
PSI: Kinerja 2 Tahun Anies Ibarat Capaian Pejabat Wali Kota PSI memberi sejumlah catatan kritik atas kinerja Anies Baswedan selama dua tahun memimpin Jakarta, terutama berkaitan dengan kebijakan publik. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengkritisi kinerja Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan selama dua tahun menduduki jabatannya.

Juru Bicara DPW PSI DKI Jakarta Rian Ernest menilai kinerja Anies selama ini tidak mencerminkan capaian untuk ruang lingkup seorang gubernur.

Ernest mencatat setidaknya ada 23 janji Anies yang disampaikan saat berkampanye 2017 lalu. Menurut dia pencapaian yang tidak signifikan itu ada pada janji rumah DP Rp 0 yang menjadi program unggulannya.

Ernest menyinggung terkait Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 yang menunjukan setengah atau sekitar lima juta warga DKI kini belum memiliki rumah.


"Sementara, hanya ada 1.790 warga yang berhasil Anies hantarkan ke program rumah DP 0 rupiah. Angka ini menurut kami terlalu kecil. Ini bukanlah pencapaian untuk lingkup tingkat Gubernur. Ini tidaklah beda dengan lingkup kerja wali kota," kata Ernest melalui keterangan tertulisnya, Rabu (16/10).

Apalagi tambahnya, banyak warga yang mengeluh soal harga rumah yang dijanjikan Anies itu. Pemprov diketahui memberi syarat pendaftar rumah DP Rp 0 yakni suami dan istri dengan penghasilan sekitar Rp4 juta hingga Rp7 juta.

Selain rumah, Ernest juga menyinggung soal lapangan kerja yang dijanjikan. Menurutnya angka yang Anies targetkan juga belum tercapai.

Ia pun mengatakan pihaknya tidak menemukan informasi terkait angka pencapaian serapan tenaga kerja di situs pktdev.jakarta.go.id.

"Dulu Anies berjanji dalam kampanye untuk membuka kesempatan bekerja yang lebih luas dengan angka penyerapan kurang lebih 40 ribu tenaga kerja per tahun. Semestinya di dua tahun masa kerja Gubernur Anies Baswedan ini dapat menciptakan 80 ribu tenaga kerja," jelasnya.

Masalah ketiga menurut Ernest adalah pembangunan yang tidak menyeluruh. Ia menyebut pembangunan terkesan elok dan progresif. Namun hal itu tidak dirasakan di seluruh wilayah Jakarta.

Selain itu ia juga menyinggung revitalisasi trotoar Anies yang menurutnya tidak sebanding dengan jumlah trotoar seluruh Jakarta.

"134 kilometer adalah angka yang kecil bila dibandingkan jumlah trotoar yang ada dan bahkan beberapa jalanan belum difasilitasi dengan trotoar yang layak, seperti jalan Raya Munjul, Jakarta Timur. Karena Jakarta bukan hanya Thamrin dan Sudirman," terang Ernest.

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Zita Anjani menilai kinerja Anies selama dua tahun belum bisa memperbaiki kebersihan di ibukota.

Zita menganggap kebersihan di Jakarta masih belum mencerminkan apa yang dijanjikan Anies saat kampanye.

"Kami juga menyoroti soal kebersihan di Jakarta, masih belum mencerminkan maju kotanya, bahagia warganya," kata Zita saat dikonfirmasi terpisah.

Menurutnya Anies masih menanggung banyak pekerjaan rumah. Salah satunya adalah ketika sanitasi yang dimiliki rumah warga di Jakarta belum menggambarkan standar hidup sehat.

"Rumah-jamban jadi satu, konsep kebersihan masih kurang, beda dengan Jepang, walaupun rumah kecil-kecil, tapi penduduk paham kebersihan, daur ulang, dan memilah sampah. Menggambarkan sebuah kota itu maju, ada pada warganya, budaya warganya, bukan bangunan-bangunannya semata. Masalah DKI harus dibenahi dari hilir, yakni perilaku dan gaya hidup," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]

Zita berharap tahun ketiga Anies dapat fokus dalam membenahi perilaku warganya terkait kebiasaan hidup yang bersih dan sehat.

Menurutnya juga dukungan terhadap praktik mengelola lingkungan di masyarakat harus lebih ditingkatkan seperti pengelolaan sampah swadaya dan produksinya.

"Kami ingin pekerjaan di tahun ke tiga memberikan ruang yang besar pada perubahan perilaku. Setiap sen uang rakyat digunakan untuk mengubah perilaku masyarakat, meninggalkan hal-hal yang membuat kualitas hidup kota menurun. Kehidupan kota yang benar-benar berkualitas dan berkelanjutan," kata dia.
(ani/gil)