Hal itu disampaikan dalam konferensi pers bertajuk "Jelang Pelantikan Presiden dan Wakil: Nasib Lingkungan Hidup Tidak Baik-baik Saja". Dalam kesempatan itu, Walhi tidak melihat perubahan substansial pada kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup ke arah yang lebih baik, setidaknya dalam lima tahun ke depan.
"Ya bagus aja kalau dia mau mengambil posisi oposisi dalam pemerintahan. Tapi oposisinya bukan hanya bargaining kekuasaan saja, tapi memang oposisi yang substantif," kata Koordinator Bidang Politik Eksekutif Walhi Khalisah Khalid kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Rabu (16/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dari kajian kami ada beberapa partai politik yang dalam dokumennya itu memuat isu lingkungan hidup, antara lain PKS, PSI lalu NasDem," ujarnya.
"Ya, kita challange saja, kalau dari partai pendukungnya belum menunjukkan itu," katanya.
Sebelumnya, Walhi dan sejumlah LSM lain di bidang lingkungan hidup memberi rapor merah dan harapan kecil terhadap pemerintahan Presiden Jokowi dalam menangani isu lingkungan hidup.
Koalisi sipil memberikan lima catatan penting terkait perhatian pemerintah terhadap isu lingkungan hidup.
Pertama, rendahnya komitmen Pemerintah dan DPR dalam melaksanakan mandat TAP MPR IX/2001 yang mengatur pembaruan agraria dan sumber daya alam.
"Mandat itu adalah bagaimana pemerintah memastikan penyelesaian konflik dan juga kemudian melihat UU sektoral yang bertabrakan dan bertentangan dengan agenda pembenahan agraria dan pengelolaan SDA," kata Khalisah.
Kedua, mereka juga menyoroti proses pembentukan perundangan-undangan yang tidak partisipatif dan berpihak pada keadilan ekologis dan sosial.
Ketiga, tertutupnya informasi publik terhadap pengelolaan lingkungan hidup dan SDA.
Keempat, dinilai dalam masa pemerintahan sebelumnya, banyak penyelesaian konflik agraria yang mandek.
Kelima, lambatnya pelaksanaan reforma agraria dan perlindungan lingkungan hidup.
[Gambas:Video CNN] (mjo/pmg)