Khofifah Minta Pelajar Jatim Waspadai Provokasi

Diskominfotik Jatim, CNN Indonesia | Kamis, 17/10/2019 11:38 WIB
Khofifah Minta Pelajar Jatim Waspadai Provokasi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta para pelajar mewaspadai provokasi. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa meminta pengurus OSIS SMA/SMK Se-Jawa Timur terus mewaspadai berbagai upaya provokasi dan aksi intoleransi yang bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Menurutnya, saat ini banyak bertebaran konten provokatif di media sosial dan ruang privat termasuk saat jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, Minggu (20/10). Khofifah mengajak para siswa lebih bijak menyikapi pemberitaan dan informasi.

"Jangan gampang terpancing, jangan gampang terprovokasi. Dan jangan sampai mudah percaya dengan berita-berita yang tidak bertanggung jawab," ujar Khofifah didepan ribuan pelajar SMA/SMK Se-Jawa Timur dan Pengurus OSIS di Lapangan Mapolda Jatim, Rabu (16/10).


"Harus kita waspadai bersama karena konten tersebut tersebar di Instagram, Twitter, Youtube serta Whatsapp Group. Akun-akun itu menyebarkan narasi, foto, dan video yang mengajak masyarakat termasuk pelajar melakukan aksi." 

Para pelajar SMA/SMK yang dikumpulkan merupakan perwakilan dari seluruh Kabupaten/Kota se-Jawa Timur yang diundang khusus dalam rangka silaturahmi Forkopimda bersama para Pelajar.

Khofifah khawatir pelajar dimanfaatkan oleh orang dewasa untuk kepentingan sesaat. Menurutnya, saat sudah berkumpul di titik kumpul, ada pelajar yang tidak tahu diajak kemana dan untuk apa, sehingga akhirnya diajak kembali ke sekolah masing-masing. Khofifah juga mensinyalir ada pelajar yang ikut aksi karena diiming-imingi uang.

"Tentu saja itu merupakan bagian dari pelanggaran terhadap perlindungan anak. Rentang usia 16-18 tahun atau masih berada di tingkat menengah atas masih masuk kategori anak-anak," imbuhnya.

Khofifah berharap Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Cyber Crime Mabes Polri berperan aktif dalam melacak sumber penyebaran konten-konten provokasi dan intoleransi yang dapat memicu anarkisme.

Ia juga meminta orangtua dan keluarga mampu memberi pemahaman suatu isu dan situasi politik kekinian sehingga mampu mencegah anak melenceng dari tugasnya sebagai pelajar.


(vws)