Demo Ricuh di Kendari, 5 Mahasiswa dan 3 Aparat Terluka

CNN Indonesia | Selasa, 22/10/2019 18:50 WIB
Demo Ricuh di Kendari, 5 Mahasiswa dan 3 Aparat Terluka Polisi berpakaian sipil digiring ke Mapolda Sulawesi Tenggara dalam demo ricuh di Kendari. (CNN Indonesia/ Fandi)
Kendari, CNN Indonesia -- Demo mahasiswa dari berbagai kampus di Mapolda Sulawesi Tenggara, Kota Kendari, berakhir ricuh, Selasa (22/10). Ratusan mahasiswa terlibat bentrok dengan kepolisian. Akibatnya tiga aparat dan lima mahasiswa terluka.

Mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Kendari menggelar demonstrasi di Mapolda Sultra mendesak agar polisi segera mengungkap pelaku penembakan Randi (21) dan Muhammad Yusuf Kardawi (19) pada Kamis (26/9) lalu.

Awalnya, demonstrasi berlangsung damai. Namun, tiba-tiba memanas setelah salah satu oknum polisi dari Resmob Polda Sultra ketahuan berkerumun di tengah massa.


Akibatnya, ia diduga jadi bulan-bulanan massa hingga kepala dan wajahnya berlumuran darah.


Beruntung, ia sempat diamankan oleh aparat TNI yang turut terlibat dalam pengamanan. Massa yang sudah terlanjur beringas, turut memukul anggota TNI yang diketahui bernama Sertu Subakri.

Komandan Regu Provos Kodim 1417 Kendari ini kena pukul di wajah dan sempat pingsan. Selanjutnya, korban dievakuasi ke rumah sakit.

Suasana tegang sempat menurun. Massa melanjutkan orasinya menanyakan lambannya penanganan kasus penembakan Yusuf dan Randi.

Lantaran penjelasan polisi tidak memberikan batas waktu pengungkapan kasus, mahasiswa kemudian mencoba menerobos barikade polisi.

Usai merusak kawat duri, mereka terlibat saling dorong dengan aparat. Bentrokan pun pecah saat mahasiswa melempar batu, lalu dibalas dengan semprotan dari kendaraan water cannon dan gas air mata.


Salah seorang polisi dari Direktorat Intelkam Polda Sultra jadi bulan-bulanan massa. Polisi kemudian membalas dengan menangkap tiga orang mahasiswa.

Ketiga pemuda itu diamuk ramai-ramai oleh aparat dan diseret ke ruangan jaga Propam Polda Sultra.

Setelah perwakilan massa berdialog dengan aparat, ketiga mahasiswa itu dikeluarkan dan dibawa ke rumah sakit. Dua mahasiswa lainnya dikabarkan terluka akibat terjatuh dan dilarikan ke Puskesmas Poasia Kota Kendari.

Selain mahasiswa dan polisi, jurnalis MNC TV Mukhtaruddin juga terluka akibat lemparan batu dalam demo ricuh tersebut.

Bentrokan kemudian berakhir sekira pukul 18.00 WITA, setelah polisi memukul mundur massa.

Demo Ricuh di Kendari, Lima Mahasiswa dan Tiga Aparat TerlukaDemonstrasi mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara. (CNN Indonesia/ Fandi)
LPSK Dorong Proses Hukum

Tim dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) juga kembali menyambangi Kota Kendari, hari ini.

Tim dipimpin langsung Wakil Ketua LPSK Maneger Nasution. Kehadiran tim LPSK masih berkaitan dengan perlindungan bagi saksi dan korban pada kasus kematian dua mahasiswa Universitas Halu Oleo saat berunjuk rasa.

Wakil Ketua LPSK Maneger Nasution mengatakan ada sejumlah pihak yang sudah ditetapkan menjadi terlindung LPSK.

Kedatangan dia dan tim untuk menindaklanjuti keputusan tersebut dalam rangka pemberian perlindungan.

"Kami mendorong kasus (kematian mahasiswa) ini bisa diproses hukum. Sekali lagi, kami mengimbau pihak-pihak yang memiliki informasi untuk tidak takut memberikan keterangan," kata Maneger dalam rilisnya, Selasa (22/10).


Masih menurut Maneger, selain mereka yang telah ditetapkan sebagai terlindung, LPSK akan terus berupaya mendorong pihak-pihak lain yang memiliki informasi mengenai kejadian tewasnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo saat berunjuk rasa akhir September lalu, untuk berani bersuara.

"Tidak perlu takut karena kita optimistis kasus ini akan ditangani secara profesional," ujar Maneger.

Saat berada di Kendari, Maneger juga akan bertemu dengan sejumlah pihak, seperti pimpinan Polda Sultra untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan penanganan kasusnya.

Tim juga akan berkoordinasi dengan penasihat hukum dari pihak korban. Pertemuan itu bertujuan untuk melakukan koordinasi terkait kebutuhan perlindungan bagi korban dan keluarga, serta saksi-saksi lainnya. Harapannya, dengan saksi-saksi yang berani memberikan keterangan, dapat membantu penyidik agar kasus ini bisa diungkap dan diproses secara transparan.

Sebelumnya, dua mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari meninggal dunia usai terlibat bentrokan dengan polisi di gedung DPRD Sultra.

Berdasarkan hasil autopsi dokter, Randi terkena tembak di dada kiri bawah ketiak tembus dada kanan.

Sedangkan Yusuf Kardawi meninggal usai mengalami luka parah di kepala. Berdasarkan hasil investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Yusuf diduga tertembak di kepala.

[Gambas:Video CNN] (pnd)