Seteguk Kebebasan Para Terdakwa Jelang Sidang di PN Jaksel

CNN Indonesia | Jumat, 15/11/2019 08:47 WIB
Seteguk Kebebasan Para Terdakwa Jelang Sidang di PN Jaksel Keluarga atau kerabat terdakwa berkumpul di dekat ruang tahanan PN Jaksel, untuk menyapa saudara mereka yang ditahan, Kamis (14/11). (CNN Indonesia/ Feybien ramayanti)
Jakarta, CNN Indonesia -- Satu per satu nama tahanan dipanggil oleh petugas penjaga di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera, Jakarta, Kamis (14/11). Panggilan itu menjadi tanda sidang mereka segera digelar. Setelah dipanggil, para tahanan disuruh memakai rompi merah sebelum menghadap majelis hakim 

Tangan mereka pun diborgol. Kemudian, para penjaga akan mengantar mereka ke ruang sidang masing-masing. Seorang ibu, yang melihat anaknya diborgol, tak sadar berkeluh pada diri sendiri. Suaranya terdengar dari jarak yang tak terlalu jauh.

"Aduh, ngilu lihatnya, enggak akan kabur kok, anak saya," ucap ibu tersebut. 


Dalam ruang sidang ketukan palu hakim akan menentukan nasib para terdakwa. Mungkin, karena hal itulah proses persidangan selalu terkesan menegangkan. 

Selain menegangkan, persidangan juga terkesan kaku alias formal. Sidang bergulat antara pernyataan hakim, kuasa hukum, jaksa penuntut dan ekspresi resah terdakwa dengan rompi merah di tengah ruangan.

Namun di balik adu argumen dan pembelaan selama sidang, gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan juga menyimpan sahut-sahutan kabar yang terhalang jeruji besi.

Para tahanan yang akan menjalani sidang biasanya ditempatkan di ruang tahanan milik pengadilan. Di Gedung PN Jaksel, ruang tahanan itu letaknya tersembunyi. Ada di balik lorong-lorong yang memojok.

Beberapa jam sebelum sidang para tahanan sudah dibawa ke ruang tahanan pengadilan. Jeda waktu hingga sidang dimulai acap dimanfaatkan oleh sanak saudara para tahanan yang menjadi terdakwa, untuk bertemu atau sekadar bersahut sejenak.

Para keluarga atau kerabat biasanya bergerombol di dekat pagar yang membatasi ruang tahanan. Dari balik pagar jeruji, sesekali mereka bersahutan dengan para tahanan. Suara mereka cukup keras. Sebab pagar pembatas dan ruang tahanan berjarak sekitar lima meter.

Sejumlah ibu-ibu yang sebenarnya tak saling kenal terlihat bertukar cerita. Mereka sama-sama berkumpul dekat pagar pembatas untuk melihat anaknya yang sedang menunggu sidang.

"Saya kasihan bu liat anak saya ditahan gitu. Tapi kadang juga jengkel, kenapa bandel banget sih," ujar salah satunya.

Sesekali mereka berteriak ke arah jeruji tahanan, memanggil anaknya dan menanyakan kabar.

Salah satu ibu ada yang menitipkan telepon genggam ke penjaga tahanan untuk diantarkan ke anaknya. Mereka diberikan kesempatan untuk berbincang dengan sanak saudara atau teman melalui sambungan telepon.

Rininta (bukan nama sebenarnya) yang sedang mengandung anak pertama, bercerita dirinya selalu mampir ke area ruang tahanan setiap suaminya dijadwalkan sidang. Ini merupakan kali ke-5 ia berkunjung ke PN Jakarta Selatan untuk menjenguk suaminya.

"Ini sudah sidang ke lima. Belum divonis soalnya masih ditunda terus. Berkasnya ada yang kurang atau belum siap," ujar Rininta kepada CNNIndonesia.com selagi beristirahat di pojok ruangan bersama temannya, Kirana (bukan nama sebenarnya).

Kirana dan Rininta pertama kali kenal ketika suami mereka ditahan di Rutan Cipinang, Jakarta Timur, 7 bulan lalu. Ketika suaminya ditahan, usia kandungan Rininta masih seumur jagung. Setiap menjenguk ke rutan ataupun menghadiri sidang, ia selalu ditemani Kirana.

"Kita kenal waktu suami sama-sama ditahan. Ternyata pas sidang jadwalnya bareng. Jadi ke sini selalu bareng," tutur Kirana menambahkan.

Meskipun tak bisa bertatap muka langsung, keduanya mengaku senang. Setidaknya momen sebelum persidangan bisa membuat Kirana mengantarkan masakan rumah agar dilahap sang suami. Sesekali mereka juga bisa 'colongan' menanyakan kabar ke suami seusai sidang.

"Kadang bisa ngobrol kalau lagi sidang. Tapi ya enggak banyak, karena kan fokus ke sidangnya dan enggak boleh lama-lama," cerita Kirana.

Hal serupa dituturkan Tono (bukan nama sebenarnya) yang sedang menjenguk keponakannya. 

Keponakan Tono menjalani sidang setiap hari Kamis di PN Jakarta Selatan. Setidaknya dua minggu sekali Tono datang ke sini untuk mengantar makanan untuk keponakannya.

"Anaknya nggak suka makan ayam atau daging. Sukanya telur. Di sana kan nggak setiap hari dikasih makan telur terus. Jadi saya bawakan nasi sama telur," ujarnya.

Tono bercerita keluarganya yang lain tak tega berkunjung ke sidang melihat keponakannya memakai rompi merah dengan tangan diborgol. Maka itu, ia menawarkan diri setiap dua minggu sekali datang mengantar makanan.

"Orang di rumah itu perempuan semua. Mereka nggak tega. Jadi saya bawain makanan. Kasihan, kan, dia sukanya makan telur," tutur Tono. (fey/wis)