"Para pimpinan ormas Islam mempunyai pemahaman yang sama bahwa berdirinya negara-bangsa ini merupakan kesepakatan nasional (al-mitsaq al-wathani) yang harus dijaga dan dipertahankan bersama," ujar Wasekjen MUI Salahuddin Al-Ayyubi saat membacakan kesepakatan di rumah dinas wapres, Jakarta, Kamis (28/11).
Kemudian poin kedua, lanjut Salahuddin, terkait kondisi umat Islam yang sangat majemuk membuka peluang perbedaan yang dapat berubah menjadi perpecahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya pada poin ketiga, kata Salahuddin, umat Islam punya kesempatan besar mengambil peran kebangsaan dan kenegaraan secara proporsional karena termasuk penduduk mayoritas di Indonesia.
Poin keempat, ucap Salahuddin, terkait kondisi umat Islam yang sebagian besar masih lemah secara ekonomi sehingga membutuhkan kebijakan nasional yang berpihak. Dengan cara tersebut, para pimpinan ormas Islam meyakini kesempatan bagi para pelaku ekonomi umat untuk dapat bersaing.
"Wacana tentang radikalisme dan separatisme yang tidak terukur berdampak kontraproduktif untuk persatuan umat dan bangsa," ucap Salahuddin.
Sementara dalam poin terakhir, para pimpinan ormas Islam sepakat secara periodik bertemu untuk membicarakan permasalahan yang lebih khusus dengan difasilitasi Ma'ruf.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah tokoh yang hadir di antaranya Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid, Ketua ICMI Jimmly Ashidique, Ketua Syarikat Islam Hamdan Zoelva, Ketua Umum PP Persatuan Islam Tionghoa Indonesia Ramadan Effendi atau Anton Medan, Ketua Umum PP Ikatan Dai Indonesia Ahmad Syatori Ismail, dan sejumlah tokoh lain.
[Gambas:Video CNN] (pris/asr)