Kelompok HAM Pesimistis Kasus Novel Sentuh Aktor Intelektual

CNN Indonesia | Rabu, 11/12/2019 03:33 WIB
Kelompok HAM Pesimistis Kasus Novel Sentuh Aktor Intelektual Penyidik KPK korban teror penyiraman air keras, Novel Baswedan. (CNN Indonesia/Ryan Hadi Suhendra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah kelompok pembela Hak Asasi Manusia (HAM) pesimistis kasus penyiraman terhadap Novel Baswedan mampu sentuh aktor intelektual. Direktur Eksekutif Lokataru, Haris Azhar khawatir Polri hanya menemukan dan mengumumkan pelaku lapangan.

Kesimpulan ini disampaikan Haris dengan berkaca kepada temuan tim gabungan bentukan Polri yang meminta Tim Teknis untuk mencari tiga orang tak dikenal. Tiga orang tersebut adalah, satu orang yang mendatangi kediaman Novel pada April 2017 dan dua orang yang ada di Masjid Al Ikhsan dekat kediaman Novel pada 10 April 2017.

"Yang kedua menurut saya khawatir yang diumumkan pelaku lapangan saja karena dari pemeriksaan terakhir itu, dari tim khusus yang ada masyarakat sipilnya itu cuma bisa sampai ke pelaku lapangan," kata Haris di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (10/12).


Semestinya, kata dia, Polri dapat melihat penyerangan terhadap Novel sebagai konstruksi besar lantaran terjadi secara sistematis. Ia pun mengaku pesimistis, melihat dari indikator lambannya penanganan kasus yang sudah terjadi sejak 2017 silam.
Haris Azhar. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)

"Sebetulnya beberapa indikator adanya pesimisme publik dan juga saya karena memakan waktu yang cukup lama, hampir dua tahun tertunda-tunda," katanya.

Lebih lanjut, Haris juga mengkritik sikap pasif KPK sebagai lembaga tempat Novel bekerja dalam melihat peristiwa penyerangan air keras. KPK, menurut dia, memiliki kewenangan untuk memproses kasus Novel dalam konteks penghalangan upaya penyelesaian kasus korupsi.

Terpisah, Manajer Kampanye sekaligus aktivis dari Amnesty Internasional, Puri Kencana Putri mengatakan terpenting dari kasus tersebut yakni pembeberan motif serta siapa dalang dari penyiraman air keras tersebut.

Puri pun mendesak Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jendral Idham Azis bisa segera membongkar motif dan siapa dalang penyiraman air keras tersebut.

"Esensi apa yang menjadi alasan untuk menyerang Novel Baswedan," kata Puri saat ditemui di Gedung Kemensetneg, Jakarta Pusat, Selasa (10/12).
Menurutnya, pengungkapan kasus Novel ini juga menjadi sebuah kewajiban yang mesti diselesaikan oleh Idham. Mengingat kata dia saat menjalani uji kelayakan di DPR beberapa waktu lalu, Idham berjanji akan melakukan reformasi Polri.

Bahkan kata Puri, Idham selaku Kapolri juga harus siap menerima kritik terhadap lembaga yang saat ini tengah dia pimpin itu. Apalagi jika kasus tersebut terbukti berkaitan dengan lembaga kepolisian seperti yang banyak dipersepsi publik selama ini.

"Pak Idham harus mampu secara terbuka mengatakan saya menerima semua kritikan dan saya berjanji akan membawa kepolisian menjadi lembaga yang tunduk terhadap prinsip evaluasi sipil demokratik, Pak Idham harus bisa dengan lapang dada mengatakan itu," katanya.

KPK sambut positif klaim temuan baru kasus Novel

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif mengaku senang mendengar kabar mengenai perkembangan terkini ihwal penanganan kasus Novel.

"Wah, kalau bahwa sudah ada bukti baru dan akan diungkap kami sangat senang di KPK. Kami sangat senang dan mendukung," ujar Laode saat ditemui dalam agenda diskusi di Gedung KPK C1, Jakarta, Selasa (12/10).

Atas dasar itu, Laode berharap agar pelaku penyiraman air keras dapat ditemukan dan diungkap sesegera mungkin ke publik. "Semoga, penyerang Mas Novel itu bisa segera ditemukan," ucap ia singkat.

Laode pun mengaitkan peristiwa teror yang dialami pegawai dan pimpinan KPK-- termasuk penyiraman air keras Novel dengan United Nations Convention Against Corruption (UNCAC). Menurut dia, jika negara tidak bisa melindungi dan mengungkap pelaku teror terhadap pekerja lembaga antikorupsi, maka negara tersebut menyimpang dari norma dan prinsip yang telah diatur bersama dalam UNCAC.
Laode M Syarif. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

"Jadi, kalau misalnya kita tidak mampu melindungi pegawai KPK, termasuk misalnya rumah saya dilempar bom, pelemparnya yaitu juga salah satu, ya, agak bertentangan," tandasnya.

Presiden Joko Widodo sebelumnya memerintahkan Kapolri Jenderal Idham Azis untuk menuntaskan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan dalam hitungan hari. Jokowi ingin Idham segera mengumumkan siapa penyerang penyidik KPK itu.

"Saya tidak bicara masalah bulan. Kalau saya bilang secepatnya berarti dalam waktu harian. Sudah tanyakan langsung ke sana (Polri)," kata Jokowi, di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (10/12).
[Gambas:Video CNN]

Jokowi bertemu dengan Idham kemarin di Istana Merdeka, Jakarta. Dalam pertemuan itu, Jokowi meminta laporan penanganan kasus Novel.

Menurut Jokowi, Idham menyampaikan ada temuan baru yang sudah menuju pada kesimpulan. Namun, ia tak menjawab saat dikonfirmasi apakah temuan baru ini soal pelaku penyiraman atau bukan.

"Tanyakan langsung ke Kapolri. Yang jelas sudah disampaikan kepada saya temuan barunya itu seperti apa. Tanyakan langsung ke Kapolri," tuturnya. (ryn/tst/ain)