Curhat Nasib Pengayuh Becak di Era Anies Baswedan

CNN Indonesia | Jumat, 13/12/2019 10:47 WIB
Curhat Nasib Pengayuh Becak di Era Anies Baswedan Lewat pesan yang dituliskan di sebuah kertas karton putih besar, penarik becak di Jakarta Utara mengharapkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terketuk hati soal nasib mereka. (CNN Indonesia/LB Ciputri Hutabarat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dahi Sartono mengernyit sambil melempar pandangan ke kiri dan kanan dari atas becak yang ia duduki.

Ia terlihat mencari-cari sosok orang yang dianggapnya bisa menyelamatkan hidupnya sebagai seorang penarik becak.

"Mau ketemu Pak Anies. Katanya mau datang noh," kata Sartono singkat kepada CNNIndonesia.com di kawasan Lapangan Kerapu, Muara Angke, Jakarta Utara, Selasa (10/12).


Dengan spontan ia sempat mengangkat sebuah kertas karton berukuran 1x0,5 meter yang bertuliskan tuntutan sebagai tukang becak yang ingin dilegalkan. Kertas putih besar itu tertulis, '1. Kami ingin masih narik becak. 2. Becak jangan dihapus 3. Becak minta diganti. 4. Perda becak segera ditinjau kembali.'

"Ini kami mau kasih ini ke Pak Gubernur," lanjut Sartono.

Ia berharap pesan darinya dan kawan-kawan tersebut bisa mengetuk hati gubernur yang terpilih lewat Pilkada DKI pada 2017 silam.

Sartono menceritakan becak yang ia gunakan saat itu bukanlah kepunyaannya. Dia yang sehari-hari

Meski diduduki santai di atas sebuah becak, namun nyatanya becak itu bukan lah kepunyaannya. Sartono sehari-hari memang bekerja sebagai tukang becak di salah satu Pasar Tradisional di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Namun ia hanyalah buruh becak.

Pria berkemeja putih lusuh ini sengaja hadir bersama teman-temannya yang lain untuk menghampiri orang nomor satu di Jakarta tersebut. Belasan becak pun terlihat berjejer di dekat Sartono.

Sartono bercerita sudah hampir 20 tahun menarik becak. Pria yang juga menjadi kuli bangunan untuk menyambung hidup mengaku lewat menarik becak itu menjadi andalan dirinya untuk menafkahi keluarganya. Beberapa tahun belakangan ia mengaku kesusahan lantaran dilarang beroperasi.

"Ya, kan sudah dilarang tuh. Jadi uang kadang ada kadang enggak lah di bawa pulang ke rumah juga pas-pasan," ungkap dia.

Sehari, Sartono mengaku dapat mengantongi uang paling banyak Rp50.000 dengan hanya berkeliling di pasar. Sejauh ini menurut Sartono masih banyak masyarakat yang memilih menggunakan becak di pasar ketimbang transportasi lainnya.

"Kan di pasar bawa belanjaan masih banyak yang gunain sebenarnya mah," lanjut dia.

Kertas Karton Pengayuh Becak untuk Mengetuk Gubernur AniesPengayuh Becak di kawasan Lapangan Kerapu, Muara Angke, Jakarta Utara. (CNN Indonesia/LB Ciputri Hutabarat)
Hal senada juga datang dari teman seperjuangan Sartono yakni Sunarso yang turut datang bersama-sama untuk memperjuangkan nasibnya. Sunarso yang berasal dari Serikat Becak Jakarta (Sebaja) berharap Anies dapat kembali menghidupkan becak sebagai alat transportasi.

Sambil menghela napas, ia sempat mengaku rindu dengan zaman kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin dan Soerjadi Soedirja serta Wiyugo Atmodarminto. Saat itu, ia mengatakan becak sedang jaya dan diperbolehkan untuk beroperasi.

"Zaman Pak Ali Sadikin mendingan, gawat-gawatnya ya di pak Wiyugo. Tapi di Pak Soerjadi kita mendingan banget lah dibandingkan sekarang," kenang dia.

Tak mau kalah, Sunarso mengaku punya ide untuk Anies. Ia terlihat sudah dibekali dengan pengetahuan tentang angkutan umum ramah lingkungan.

"Harapan kita becak jangan dihapus lah. Becak diganti nama saja jadi angkutan ramah lingkungan," ucap dia yakin.

Sambil tersipu malu, Sunarso menjelaskan ramah lingkungan ialah kendaraan yang tanpa bensin. Ia juga mengaku tahu bahwa hal tersebut sedang digaungkan Anies dalam pemerintahannya.

"Ya kali aja, 'Pak dengan ide ini pak Anies bisa mempercepat peraturannya supaya kita bisa narik lagi enggak hanya di kampung saja tapi juga di tempat lain'," ujar Sunarso.

[Gambas:Video CNN]
Di acara tersebut akhirnya Anies menerima perwakilan dari para tukang becak. Anies mengaku akan membicarakan terlebih dahulu permasalahan becak dengan para anggota legislatif. Anies juga sempat curhat bahwa permasalahan Perda tak bisa dilakukan sendiri. Ada alasan politis mengapa Perda tersebut tidak kunjung direalisasikan.

"Tapi kita akan jalan terus. komitmen ini di jalankan di lapangan, jadi ini kendala yang kita hadapi karena konstelasi politik," ujar mantan Mendikbud tersebut.

Kendati curhat demikian, Anies mengatakan belakangan ada titik terang terhadap konstelasi politik di Jakarta. Anies mengklaim hasil pemilu kemarin berpengaruh banyak terhadap dukungan kebijakannya di Ibu kota.

"Alhamdulillah sekarang ke depan lebih baik. Hasil pemilu kemarin kelihatannya tanda-tandanya akan lebih banyak berpihak kepada kita," ujarnya.



(ctr)