Rekonstruksi Mahasiswa Kendari Tewas, Polisi Halangi Wartawan

CNN Indonesia | Sabtu, 21/12/2019 00:22 WIB
Kepolisian telah meminta maaf atas perlakuan oknum di lapangan yang melarang wartawan melakukan peliputan. Keluarga memanjatkan doa untuk almarhum Immawan Randi (21) di RS Abunawas Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9/2019). (ANTARA FOTO/Jojon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Oknum polisi dari Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Polda Sultra) melarang jurnalis saat mengambil gambar rekonstruksi penembakan Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari, Jumat (20/12).

Proses rekonstruksi ini merupakan salah satu petunjuk Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Sultra untuk melengkapi berkas tersangka Brigadir Abdul Malik, oknum polisi yang diduga sebagai pelaku penembak Randi.

Sejak pengembalian berkas P19 ke penyidik Polda Sultra, awak media tidak mendapatkan informasi jadwal rekonstruksi ulang ini. Rekonstruksi diketahui digelar sore hari setelah awak media melihat polisi dari Satuan Polisi Lalulintas Polda Sultra mengatur jalur lalu lintas di Jalan Abdullah Silondae, lokasi tertembaknya Randi dan meninggalnya Muh Yusuf Kardawi.


Selain polisi dari satuan lalulintas, di lokasi rekonstruksi turut terlihat beberapa anggota polisi yang berpakaian sipil yang diduga dari penyidik Polda Sultra. Hanya saja, di lokasi sama sekali tak terpasang garis polisi atau police line. Awak media mencoba mendekat.
"Tunggu dulu bos, jangan dulu bos. Biarkan dulu kita bekerja," kata Algazali Machfud, koresponden SCTV/Indosiar menirukan pernyataan polisi yang melarang peliputan.

Meski sempat dilarang, pria yang akrab disapa Lili ini sempat merekam tindakan polisi yang memintanya menjauh dari lokasi rekonstruksi. Tak lama berselang, muncul beberapa jurnalis lainnya Kehadiran mereka juga mendapat pelarangan dari oknum polisi berpakaian preman itu.

"Saya dilarang untuk mengambil gambar," imbuh Asdar Zuula yang juga Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sultra ini.

Direktur Direktorat Kriminal Umum Polda Sultra AKBP La Ode Aries El Fatar mengakui harusnya rekonstruksi itu tidak ditutupi.

"Tidak masalah kalau untuk diliput. Itu bukan informasi yang wajib dirahasiakan, tetapi mungkin jangan sampai mengganggu," kata Aries saat dihubungi awak media melalui telepon selulernya.

Hal yang sama juga diungkapkan Kabid Humas Polda Sultra AKBP Nur Akbar. Ia mengaku dirinya sudah mengkonfirmasi ke Dirkrimum soal peristiwa ini.

"Beliau menyampaikan maaf atas tindakan anggotanya,, sekali lagi mohon dimaklumi agar ke depan kita saling mengingatkan lagi. Bapak Kapolda menyampaikan ke saya bahwa kasus ini tidak ada yang ditutupi kita ikuti jalurnya sesuai prosedur," tuturnya dalam pesan Whatsapp.
Rekonstruksi ini merupakan bagian dari kelengkapan berkas tersangka Brigadir Abdul Malik seperti diminta JPU. Ia menyebut, penyidik melakukan rekonstruksi balistik dengan mendatangkan dua orang ahli laboratorium forensik (Labfor).

"Ini untuk merekonstruksi berapa kecepatan senjata yang keluar itu kemudian sudut elevasi itu jatuhnya di mana," kata Aries.

Ia menyebut, ada dua proyektil yang ditemukan penyidik berasal dari satu moncong senjata diduga milik Brigadir Abdul Malik. Rekonstruksi hanya berlangsung sekitar 20 menit setelah itu aparat kepolisian membubarkan diri.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Tenggara (Sultra) mempertanyakan komitmen Kapolda Sultra Brigjen Pol Merdisyam dalam pengungkapan kasus pembunuhan Randi dan Muh Yusuf Kardawi.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari Zainal A Ishaq mengatakan, dengan pelarangan ini maka patut dipertanyakan komitmen pimpinan Polri dalam mengungkap secara transparan kasus pembunuhan Randi dan Yusuf.

"Patut dipertanyakan komitmen mengungkap kasus ini. Sejak awal Kapolri saat itu Jenderal Tito Karnavian menegaskan akan mengungkap kasus ini secara terbuka.
[Gambas:Video CNN]
Kemudian, Kapolri menunjuk Brigjen Pol Merdisyam sebagai Kapolda Sultra, juga untuk mengungkap kasus ini dan memberikan informasi seluas-luasnya kepada publik," kata pria yang akrab disapa Inal ini.

Inal menyebut, salah satu komitmen Kapolda saat itu mengunjungi kantor media dan sekretariat organinsasi jurnalis, Merdiasyam berjanji akan mengungkap kasus ini secara transparan.

"Kenyataannya, justru berbeda dengan yang terjadi di lapangan. Itu menunjukan bahwa ada koordinasi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya," tutur Inal. (pnd/ain)