Ketua KWI Bantah Ada Pelecehan Seksual di Gereja Katolik

CNN Indonesia | Kamis, 26/12/2019 04:57 WIB
Ketua KWI Bantah Ada Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Ignatius Kardinal Suharyo membantah kabar pelecehan di gereja. (CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Ignatius Kardinal Suharyo  membantah kabar terkait kasus pelecehan di gereja Katolik di Indonesia. Ia mengaku tak pernah menerima laporan soal kasus tersebut.

"Saya sebagai Uskup Keuskupan Agung Jakarta, dan wali gereja tidak pernah menerima laporan itu," kata Ignatius di Katedral, Jakarta Pusat, Rabu (25/12).

Ia malah mempertanyakan jika ada pihak KWI yang membeberkan dugaan pelecehan di lingkungan gereja Katolik di Indonesia tersebut.


"Makanya saya mempertanyakan KWI mana yang bicara atas nama KWI. Tanya ke mereka dari mana mendapat data, valid atau tidak data itu. Atau secara etis melanggar etika atau tidak. Ini dari mana datanya? Kok atas nama KWI, sementara ketuanya tidak tahu. Kan, aneh," ungkapnya.

Sebelumnya Sekretaris Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Paulus Christian Siswantoko mengakui ada pelecehan seksual yang dilakukan para rohaniawan Gereja Katolik di Indonesia.

Siswantoko sempat membeberkan data jumlah korban pelecehan dan kekerasan seksual di gereja Katolik Indonesia. Data itu disebut Siswantoko diperoleh berdasarkan pengakuan para korban.

Setidaknya ada 21 korban dari kalangan seminaris dan frater, 20 orang suster, dan 15 korban lainnya kalangan awam.

[Gambas:Video CNN]

Korban Pelecehan Menurut Paus


Menurut Ignatius Katolik sangat mengutuk bila memang ada tindakan seperti itu di lingkungan gereja. Kutukan sesuai dengan apa yang disampaikan Paus Fransiskus.

Ia pun menampik jika ada korban pelecehan perempuan dewasa. Sebab, Paus hanya menyebut yang menjadi korban itu anak-anak dan orang dewasa lemah. Orang dewasa lemah bisa diartikan sebagai orang dengan keterbelakangan.

Hal tersebut diakui Paus, namun Ignatius belum membenarkan peristiwa pelecehan juga terjadi di gereja Katolik Indonesia.

"Paus mengatakan anak-anak dan orang dewasa lemah. Perempuan dewasa tidak termasuk. Soalnya kalau dewasa dan dewasa soalnya lain lagi. Lemah artinya tidak berdaya secara mental dan fisik, itu yang dimaksud Paus," ucap dia.

"Dalam hal ini Paus keras. Artinya pastur itu mesti menjaga umatnya, tapi dalam kasus pelecehan ini dia menjadi predator, menjadi tidak menjalankan tugasnya, sebab itu Paus keras," kata Ignatius.

Tidak Harus dengan Hukum

Kasus pelecehan di gereja Katolik memang santer mencuat di berbagai negara. Namun, Ignatius bilang kasus itu bisa selesai tanpa melibatkan aparat penegak hukum.

"Kami punya cara lain untuk menyelesaikan soal itu. Jadi dalam hal ini meski Paus menulis hal sama jelas. Tapi konteks akan menentukan bagaimana cara perkara itu kalau ada diselesaikan dengan jalan paling baik. Tidak harus diselesaikan lewat polisi. Sekurang-kurangnya itu yang dikatakan di negara Afrika dan Asia," ucap dia.

Ignatius memaparkan gereja Katolik punya cara sendiri dan terstruktur dalam mengatasi masalah yang menyangkut umat dan imamnya, termasuk pada kasus pelecehan.

Ia mengatakan kalau kasus pelecehan dibuka ke kepolisian, ujungnya menjadi masalah hukum. Tapi jika kasus dilaporkan ke imam, itu bisa menjadi masalah moral.

Tapi Ignatius tak menjelaskan rinci seperti apa penanganan struktural jika kasus sudah ditangani pimpinan.

"Ya kalau lapor ke pimpinan itu masalah moral yang penyelesaiannya beda-beda," kata dia yang juga menjabat sebagai Uskup Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) itu.


Menurut Ignatius, jika ada anggota KWI yang membicarakan kasus pelecehan ke muka umum, maka itu sebuah pelanggaran. Sebab segala cerita yang disampaikan akan terikat dalam 'rahasia pengakuan'.

"Apalagi bicara secara umum itu kode etik berat. Tak boleh kasus itu keluar gitu aja sebagai bahan. Di gereja Katolik yang perkara itu ada sama dengan yang disebut rahasia pengakuan," ujar Ignatius.

"Seorang imam atau uskup yang menerima pengakuan dari anak buah terkait kasus seperti itu terikat rahasia. Kalau pun uskupnya harus di penjara karena simpan rahasia itu dia menjalankan. Demi rahasia yang ia terima dan tanggung jawab sebagai seorang uskup atau imam," kata Ignatius lagi. (ryh/agt)