Cerita 'Malam ke Subuh' Warga Bukit Duri Diterjang Banjir

Nurika Manan, CNN Indonesia | Jumat, 03/01/2020 07:11 WIB
Cerita 'Malam ke Subuh' Warga Bukit Duri Diterjang Banjir Warga Bukit Duri ada yang nekat menerjang banjir demi menyelamatkan diri. Lainnya, ada yang menunggu perahu karet hingga sembilan jam. (Foto: CNN Indonesia/ Nurika Manan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Muniroh (40) baru saja membaluri tubuh bayinya dengan minyak angin pada Kamis (2/1) sore. Balita perempuan itu semalam basah kuyup bersama Muniroh menerjang banjir yang airnya mencapai satu meter.

Malam itu Rabu (1/1) sekitar pukul 23.00 WIB malam, Muniroh nekat menerobos tumpahan air dari Sungai Ciliwung tersebut. Ia tak sabar menunggu perahu karet.

"Saya jam 11 keluar dari rumah. Itu tingginya air sudah segini pas saya keluar," ucap Muniroh kepada CNNIndonesia.com sambil menunjuk pangkal lehernya. Bersama suami dan empat anaknya, dia meninggalkan rumah menuju Kantor Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan.


Kali ini salah satu ruangan ukuran 3x4 meter di kantor kelurahan jadi kamarnya. Selain Muniroh, ada lima anggota keluarga lain yang ikut mengungsi --empat anak dan seorang suaminya.

"Yang dibawa cuma pakaian seadanya, surat-surat enggak sempat kebawa. Kasur, lemari, barang-barang sudah enggak keruan, enggak dipikirin lah. Yang penting keluar dulu," lanjut ibu rumah tangga tersebut.


Menurut Muniroh, sempat ada beberapa kali pemberitahuan sebelum air masuk ke rumahnya. Mulanya ia dengar, kondisi air di Bendungan Katulampa surut tapi kemudian naik lagi. Hanya saja kata dia, permukaan air kali ini sangat lekas naiknya bila dibandingkan banjir tahun lalu.

Ini bukan kali pertama ia mengungsi akibat banjir.

"Tahun lalu juga sudah, cuma nggak secepet ini. Ada pemberitahuan, dibilang surut Katulampa, terus ada naik lagi, tapi tiba-tiba air datang. Saya sudah langsung keluar, kalau nunggu perahu kan pasti paginya. Karena tim SAR juga malam enggak bisa jalan karena listrik kan mati semua," ungkap warga RT 6 RW 11 Kelurahan Bukit Duri ini.

Menunggu 9 Jam

Kesaksian serupa diungkapkan Tuyem (40) dan Parsinah (26) yang merupakan warga RT 7 RW 12 Kelurahan Bukit Duri. Keduanya terpaksa menunggu sekitar sembilan jam hingga muncul perahu karet tim penyelamat pada Kamis (2/1) subuh.


Rumah mereka berhadapan langsung dengan aliran Sungai Ciliwung, berjarak sekitar lima meter, namun dibatasi beton yang merupakan bagian dari program normalisasi sungai.

"Airnya cepet banget naiknya, padahal dari pas magrib masih semata kaki. Terus jam sembilan itu sudah segini," kata Parsinah sambil menunjuk bagian dada.
Ilustrasi banjir. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

Keduanya mengatakan sudah menghubungi sejumlah pihak baik dari Tim SAR maupun kepolisian. Panggilan itu dijawab, tapi perahu karet baru datang keesokan paginya.

"Jadi itu kami nunggu, kan sudah nggak bisa keluar. Rumah kan yang paling ujung itu, belakang. Sudah telepon, tapi nggak ada yang nyamperin, baru sekitar jam 4 (pagi) itu," ungkap Tuyem sambil menggendong balitanya.

"Kitanya sih enggak apa-apa, kasihan anak-anak," lanjut ibu dua anak tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Kamis (2/1) siang, pengungsian di Kantor Kelurahan Bukit Duri itu lebih banyak diisi oleh perempuan paruh baya, lansia dan anak-anak juga balita. Penghuni laki-laki dewasa dan remaja sebagian besar kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan lumpur.

Tadi malam warga Bukit Duri tersebut berbagi ruang satu sama lain. Beberapa tempat di kantor ini digelari karpet dan alas seadanya untuk digunakan tidur.

Sementara sejumlah kotak bantuan makanan cepat saji dan obat-obatan tersedia di beberapa sudut.


Kepala Kelurahan Bukit Duri Achmad Syarief memperkirakan ada sekitar 5.000 warganya yang terdampak banjir. Jumlah ini sekitar 10 persen dari total 41 ribu warga di Kelurahan Bukit Duri. Menurut dia, tak semua wilayah terdampak banjir Jakarta tahun ini.

"Ini dari RW 10, 11 dan 12. Di RW 12 juga ada pengungsian di rumah penduduk. Selain itu warga juga mengungsi ke rumah saudara atau rekanan yang lebih tinggi (daerahnya). Memang di Bukit Duri ini yang kena banjir kiriman itu tiga RW itu tapi tidak semua RT banjir," papar Syarief kepada CNNIndonesia.com di kantor kelurahan, Kamis (2/1) sore.

Data sementara hingga Kamis (2/1) pagi terdapat lebih dari 300 warga yang mengungsi di Kantor Kelurahan. Sisanya menyebar ke lokasi pengungsian di RW ataupun rumah saudara yang tak terdampak. Menurut Syarief, data tersebut diperkirakan bertambah mengingat masih terdapat warga yang menyusul datang.


Ia mengklaim pengerukan sungai secara berkala telah dilakukan. Normalisasi Sungai Ciliwung di kawasannya pun disebut telah ideal.

"Justru Kali Ciliwung ini setelah dilebarkan 50 meter, dikasih sheet pile, fungsi turap, ditanggul, ini sudah betul-betul ideal, dari kedalaman dan lebarnya. Dulu sebelum dikasih sheet pile itu, dikeruk dulu," terang Syarief.

"Ada (pengerukan), tapi saya belum begitu paham berapa bulan atau berapa tahun sekali," tambah dia. Hanya saja menurut Syarief, curah hujan tinggi ditambah air kiriman dari Depok dan Bogor memperparah kondisi tahun ini.

"Sungai yang mengalir ke kali ini, sungai Ciliwung Katulampa Bogor dan Depok. Kedua sungai ini siaga 1 semua. Jadi kalau kedua sungai besar itu siaga satu, kita ini banjir," tegasnya. (asa)