Pengakuan Warga Pengadegan, Nyaman Meski Kerap Kebanjiran

CNN Indonesia | Jumat, 03/01/2020 07:44 WIB
Pengakuan Warga Pengadegan, Nyaman Meski Kerap Kebanjiran Warga Pengadegan, Jaksel, mengaku sudah terbiasa dengan banjir. (CNN Indonesia/ Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gedung Olahraga (GOR) Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (2/1) sore, terlihat ramai. Ratusan warga Kelurahan Pengadegan, yang terdampak banjir, dengan beralaskan kasur dan karpet di dalam gedung berwarna kuning itu, terlihat bercengkerama. Di bagian luar GOR, anak-anak tengah asik bermain.

Seorang pria berkaus hitam dengan kulit sawo matang tengah duduk seorang sendiri di bagian depan GOR. Tangan kirinya asik mengutak-atik ponsel. Sesekali, ia menyeruput kopi hitam yang diletakkan di samping kanannya.

"Handphone sudah mau habis baterai, kemarin lupa bawa casan waktu evakuasi," kata pria bernama Bustomi itu kepada CNNIndonesia.com, Kamis (2/1).


Bustomi, beserta istri dan tiga anaknya, merupakan bagian dari ratusan warga yang mengungsi di GOR Pengadengan akibat banjir.

Ia mengaku rumah kontrakannya di RT.07 RW.01 Kelurahan Pengadengan, di bantaran Sungai Ciliwung, turut terendam air. Wilayah tempat tinggalnya itu, kata dia, memang biasa disebut warga sekitar dengan kawasan "lubang". Sebab, area pemukiman warga itu lebih rendah dibandingkan dengan permukaan air sungai Ciliwung.

"Kemarin (Rabu, 1/1) air naik sejak jam 3 sore. Cepat juga prosesnya, langsung evakuasi anak dan istri ke GOR," kata dia.

Karena terburu-buru dalam proses evakuasi, ia hanya bisa menyelamatkan beberapa dokumen penting. Sedangkan pakaian, barang-barang elektronik, ia harus merelakannnya terendam banjir.

"Namanya barang elektronik kalau terendam gitu pasti rusak. Ini juga cuma bawa baju yang dipakai aja," ujar dia.

Para pengungsi di GOR Pendagegan.Para pengungsi di GOR Pendagegan. (CNN Indonesia/ Andry Novelino)
Selama 10 tahun ia tinggal di wilayah tersebut, Bustomi menyebut banjir tahun ini merupakan yang paling parah yang ia rasakan. Ketinggian air saat ini mencapai 3 hingga 4 meter.

"Katanya tahun 2007 lebih parah, tapi saya belum tinggal di sini. Kalau tahun-tahun sebelumnya, meski hujan deras enggak sampai harus mengungsi. Mungkin ini karena air kiriman," ucap dia.

Meski kerap dilanda banjir ketika musim hujan, Bustomi mengaku nyaman tinggal di kawasan "lubang" tersebut dan tidak memiliki niatan untuk pindah rumah.

"Nyaman aja di sini, tidak ada maling, juga tidak terpengaruh keadaan di luar, tawuran atau apa lah. Kalau banjir ya resiko di pinggir sungai," kata pria berusia 40 tahun itu.

Ia mengaku logistik di posko pengungsian sudah disiapkan dengan baik oleh pihak Kelurahan maupun Kecamatan.

"Ya untuk makan dan sebagainya aman. Beruntung ini anak sedang libur sekolah," kata dia.

Warga lainnya, Mulyono, yang sudah 30 tahun tinggal di wilayah tersebut, ia sudah terbiasa dengan banjir saat musim hujan. Senada dengan Bustomi, dia mengaku tidak memiliki keinginan untuk pindah rumah.

"[Banjir] paling parah 2007, itu lumpurnya aja (tingginya) sepinggang, ini (GOR) aja sampai tergenang," ujar dia.

Warga Pengadegan mulai membersihkan barang-barang yang terendam banjir usai air mulai surut.Warga Pengadegan mencoba menyelamatkan barang-barang yang terendam banjir. (CNN Indonesia/ Andry Novelino)
Berdasarkan data yang diperoleh CNNIndonesia.com di Kelurahan Pengadegan, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, ada 1.424 warga yang mengungsi tersebar di beberapa lokasi.

Yakni, GOR Kecamatan Pancoran, SDN 03 Pengadegan, Madrasah Anassyatul Hikmiah, Kecamatan Pancoran, Rusun Pengadegan, Yayasan LIA, Studio PSI Pengadegan Timur Raya, serta di beberapa rumah warga yang tidak terdampak banjir.

"Ada beberapa RT yang terdampak banjir di wilayah Pengadegan, yakni RT.005, RT.006, RT.007, RT.008, RT.010, RT.011, semuanya di RW.01," kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kelurahan Pengadegan, Asa Benyato kepada CNNIndonesia.com di GOR Pancoran, Kamis (2/1).

MCK Sedikit

Terpisah, sejumlah warga terdampak banjir di Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat mengeluhkan sakit diare dan sakit kepala.

Pantauan CNNIndonesia.com di lokasi pada Kamis (2/1) malam, 20 Kepala Keluarga masih memadati Masjid Al-Hikmah di RT 6 RW 08, Duri Kosambi.

Pengungsi berasal dari warga terdampak banjir kawasan Duri Kosambi, Jakarta Barat dan Cipondoh, Kota Tangerang. Banjir setinggi 1-1,7 meter di dua kawasan tersebut terpantau tidak mengalami penyurutan yang signifikan

"Iya, paling turun 10 cm, habis itu naik lagi paling kalau nanti hujan," ungkap Siti, warga Duri Kosambi.

[Gambas:Video CNN]
Nur, warga terdampak banjir Cipondoh, mengaku sering sakit kepala. Para balita dan beberapa lansia juga mengidap diare.

"Sakit kepala sih, karena ya, hawanya banjir terus kurang istirahat. Iya, diare juga, anak-anak kecil itu. Terus [fasilitas] MCK (mandi, cuci, kakus) juga ada sedikit terus yang antre banyak," ungkapnya.

Ia mengaku belum mendapatkan bantuan berupa obat-obatan. Hingga kini bantuan hanya berupa makanan dan minuman siap saji, sehari tiga kali dari pihal RT setempat.

"Ya, semoga ada segera bantuan (obat-obatan)," tuturnya

Warga yang mengungsi cukup senang pasalnya tidak terjadi pemadaman listrik di lokasi tersebut. Meski begitu sinyal dari tiap provider masih sangat lemah.

Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya mulai terjadi pada malam tahun baru 2020 akibat hujan deras dalam durasi lama. Sejumlah pengamat menyebut banjir kali ini disebabkan sejumlah faktor yang saling terkait.

Yakni, normalisasi sungai yang terhambat, air kiriman dari selatan, drainase yang buruk, lingkungan yang rusak, hingga sampah. (ygi/khr/arh)