Banjir Kemang 2020 Dinilai Lebih Parah dari Bah pada 2007

CNN Indonesia | Jumat, 03/01/2020 08:41 WIB
Banjir Kemang 2020 Dinilai Lebih Parah dari Bah pada 2007 Banjir di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, Rabu (1/1). (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banjir awal tahun ini di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, yang sebagian merupakan area pemukiman elite disebut yang terparah sejak 2007. Luapan air dari kali dianggap sebagai pemicunya.

Ketua RT 03 RW 04, Kelurahan Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Shopy, menyebut banjir yang melanda wilayah Jalan Kemang Utara IX dalam dua hari ini merupakan banjir yang lebih parah dari banjir pada 2007.

"Lebih parah dari (banjir) 2007, karena beberapa rumah warga terendam, hanya kelihatan atap, pakaian dan barang-barang semua tidak sempat dievakuasi," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Kamis (2/1).


Ia mengatakan, Jalan Kemang Utara IX memang berada di sekitar Kali Mampang. Hujan deras yang melanda wilayah Jakarta sejak Rabu (1/1) membuat kali meluap dan air pun merendam rumah warga.

"Luapan air dari kali, ditambah curah hujannya yang tinggi, ya banjir, yang terdampak 67 KK," kata dia.

Pantauan CNNIndonesia.com, Kamis (2/1) sore, air di Jalan Kemang Utara IX sudah surut. Warga mulai membersihkan rumah serta barang-barangnya.

"Mulai surut sejak siang. Jadi warga sudah mulai bersih-bersih. Listrik juga baru hidup," kata Shopy.

Senada, Deni, warga RT.14 RW.05 Kelurahan Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, mengatakan banjir yang terjadi awal tahun 2020 ini merupakan banjir yang parah.

Normalisasi Kali Krukut dengan cara pengerukan sungai, dengan latar bangunan yang menempel kali.Normalisasi Kali Krukut dengan cara pengerukan sungai, dengan latar bangunan yang menempel kali, pada 2017. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
"Belakangan ini tidak pernah banjir. Baru ini banjir. Airnya masuk ke dalam rumah. Warga banyak yang mengungsi di rumah tetangga atau saudaranya," kata dia.

Selain di dua wilayah tersebut, banjir juga terjadi di kawasan Kemang Raya sejak Rabu (1/1). Air bahkan masuk ke dalam pertokoan serta merendam beberapa mobil yang sedang terparkir.

Ketika itu, arus lalu lintas di sekitar lokasi pun sempat ditutup. Pada Kamis (2/1) siang, air sudah mulai surut. Lalu lintas di sekitar lokasi juga mulai dibuka kembali.

Terpisah, Ahmad Rudi, warga Kemang Selatan, Kelurahan Bangka, mengaku banjir awal tahun ini merupakan banjir terparah selama ia menetap sejak tahun 1990.

"Dulu banjir tahun 2007 dan 2009 sudah parah. Dan di sini tahun 2020, awal tahun ini yang paling parah," ujarnya, saat ditemui CNNIndonesia.com, Rabu (1/1).

Sejumlah rumah di wilayah itu, sejak Rabu (1/1) dini hari, sudah terendam air sekitar setinggi dada orang dewasa. Saat itu, pemadaman listrik pun dilakukan sejak pukul 12.00 WIB. Luapan air Kali Krukut menjadi penyebabnya.

Salah satu rumah di Kemang yang ikut terendam adalah rumah pribadi Ketua MPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet.

Berdasarkan foto-foto yang diterima CNNIndonesia.com, terlihat kendaran bermotor milik keluarga Bamsoet turut terendam banjir. Diperkirakan, air yang merendam kediaman Bamsoet itu sekitar 50-70 sentimeter.

[Gambas:Video CNN]
Tiga unit sepeda motor berbagai merk dan tiga unit mobil milik keluarga Bamsoet ikut terendam. Salah satunya adalah Rubicon berwarna silver.

Dalam keterangannya, Bamsoet membenarkan rumah itu miliknya namun sudah diserahkan kepada anaknya, Dimaz Raditya Putera, yang juga anggota DPRD DKI Jakarta komisi C dari Fraksi Partai Golkar.

Diketahui, kawasan Kemang, yang juga dihuni oleh banyak kalangan ekspatriat, utamanya berada di Kelurahan Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jaksel. Lokasi itu diapit oleh dua sungai, yakni Kali Krukut dan Kali Mampang. Dua kali itu kerap meluap saat hujan deras atau ada banjir kiriman dari selatan. Sementara, sejumlah pemukiman di wilayah itu ada di dataran yang rendah atau cekungan.

Saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menuding bangunan di tepi Kali Krukut menjadi penyebab banjir.

Sebab, ia mengklaim air luapan terjadi karena tembok rumah warga yang menempel sungai jebol saat banjir, bukan karena tanggulnya.

Selain itu,secara aturan rumah-rumah itu tak bisa dibangun di bantaran kali. Ia pun heran bangunan warga itu bisa memiliki Sertifikat Hal Milik (SHM). Ahok mengklaim akan menggusur sejumlah rumah mewah dari bantaran sungai. Namun, hal itu urung dilakukan hingga masa jabatannya selesai.

(ygi/arh)