"Teknisnya mau pakai normalisasi, naturalisasi, silakan, tapi lebarkan semua sungai. Yang penting segera dikerjakan di lapangan," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jumat (17/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antisipasi banjir di bagi dalam tiga kategori yakni hulu, tengah dan hilir. Di bagian hulu dilakukan dengan membangun bendungan dan rehabilitasi kerusakan hutan. Kawasan Tengah dilakukan pelebaran sungai. Bagian hilir terkait dengan antisipasi banjir rob.
Selain itu, pemerintah pusat juga akan membangun embung dan melakukan rehabilitasi terhadap kawasan hutan yang ada di hulu sungai. Tujuannya untuk penghijauan, memperbaiki penyerapan air, dan mengantisipasi bencana longsor.
"Kalau (dari sisi) tangkapan hujan tidak diperbaiki, run of water yang masuk ke bawah banyak, baik ke Bekasi, Jakarta, Banten, dan lainnya. Jadi di hulu dengan bendungan dan rehabilitasi," jelasnya.
[Gambas:Video CNN]
Sedangkan di hilir, Jokowi ingin pemerintah daerah mengantisipasi banjir dengan membangun tembok penghalang air laut (giant sea wall). Dengan begitu, air laut yang terus naik dari waktu ke waktu tidak masuk ke daratan.
"Nanti tanya Kementerian PUPR bagaimana pembagiannya ke pemerintah daerah seperti apa. Tapi itu semua harus satu visi karena masterplan banjir sudah ada dari 1973," tuturnya.
Sebelumnya terjadi perdebatan soal naturalisasi dan normalisasi. Naturalisasi merupakan istilah yang dipopulerkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Sementara normalisasi dilakukan dengan pelebaran dan betonisasi bantaran sungai. Konsekuensi pelebaran dan betonisasi adalah penggusuran rumah warga di bantaran sungai. (uli/wis)