Dewas TVRI Sindir Ucapan Helmy Soal Liga Inggris Gratis

CNN Indonesia | Senin, 27/01/2020 23:12 WIB
Dewas TVRI Sindir Ucapan Helmy Soal Liga Inggris Gratis Jajaran Dewan Pengawas TVRI. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dewan Pengawas (Dewas) TVRI menyinggung soal hak siar Liga Premier Inggris senilai US$9 juta di balik pemecatan Helmy Yahya dari jabatan Direktur Utama (Dirut TVRI).

Juru Bicara Dewas TVRI Dwiheri Sulistiawan mengatakan itu tidak sesuai dengan pernyataan awal Helmy yang mengaku siaran itu bersifat barter atau tidak mengeluarkan biaya sama sekali.

"Penjelasan awal Dirut menyampaikan bahwa Liga Inggris itu sistemnya adalah barter, sehingga dengan barter itu TVRI diuntungkan dengan tidak mengeluarkan sepeser pun uang," kata dia, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Senin (27/1).


Lantaran itu, Dewas TVRI menegur Helmy dan meminta kontrak serta dokumen perjanjian hak siar Liga Premier Inggris. Berdasarkan dokumen yang diserahkan Helmy pada 5 Desember 2019 diketahui ada beban anggaran US$9 juta untuk kontrak hak siar selama tiga musim.

"Dewas kaget di situ ada beban anggaran US$9 juta untuk tiga musim 2019/2020, 2020/2021, dan 2021/2022," tuturnya.

Bahkan, menurutnya, dari dokumen tersebut diketahui bahwa tagihan untuk penayangan Liga Premier Inggris telah keluar dengan nominal sebesar Rp27 miliar yang jatuh tempo pada November 2019.

Berangkat dari temuan tersebut, ucap Dwiheri, Dewas TVRI meminta penjelasan Helmy. Namun, Helmy tidak bisa memberikan penjelasan hingga akhirnya diberhentikan.

"Ini hanya salah satu dari beberapa masalah yang sebenarnya diakibatkan oleh Dirut yang sekarang sudah diberhentikan itu," ucap Dwiheri.

Dewas TVRI Sindir Ucapan Helmy Soal Liga Inggris GratisFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Sementara itu, Direktur Program dan Berita TVRI Apni Jaya Putra mengklaim bahwa arti gratis dalam hak siar Liga Inggris itu adalah bebas dari penggunaan antena.

"Helmy tidak pernah menyatakan bahwa program ini sebagai program gratis. Yang disebut gratis adalah cara menontonnya, yakni free to air alias bebas via antena," dalihnya, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (27/1).

Ia juga mengaku bingung dengan keputusan Dewas TVRI yang mempersoalkan hak siar Liga Premier Inggris dalam pemberhentian Helmy.

Pasalnya, kata dia, hak siar Liga Premier Inggris tidak dipermasalahkan dalam Surat Pemberitahuan Rencana Pemberhentian (SPRP) Helmy dari Dirut TVRI.

"Pada surat pemberitahuan rencana pemberhentian, SPRP tidak disoal Liga Inggris karena itu dalam surat pembelaan Dirut TVRI tidak disampaikan mengenai Liga Inggris," kata Apni.

Dia pun menyampaikan bahwa Direksi telah menjalin komunikasi dengan Dewas terkait hak siar Liga Premier Inggris pada 17 dan 18 Juli 2019.

Apni menyebut pemecatan Helmy itu lebih terkait dengan hubungan yang tak harmonis sejak enam bulan terakhir antara Dewas dengan Direksi TVRI.

Itu dipicu oleh sejumlah perdebatan soal kelangsungan TVRI, mulai dari isu perdebatan badan layanan umum, honor Satuan Kerja Karyawan (SKK), hingga penyetopan siaran berita.

[Gambas:Video CNN]
Puncaknya adalah Helmy Yahya mengirimkan surat ke Dewas TVRI yang meminta peninjauan Surat Dewas Nomor 2 Tahun 2018 tentang tata kerja hubungan Dewas dan Direksi.

"Kronologis hubungan Dewas dan Direksi, memang terjadi disharmoni antara Dewas dengan Direksi sejak enam bulan jabatan Direksi," kata Apni dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Senin (27/1). (mts/arh)