Direktur TVRI Bantah Ada Pemotongan Honor Pegawai

CNN Indonesia | Sabtu, 18/01/2020 16:47 WIB
Direktur TVRI Bantah Ada Pemotongan Honor Pegawai Direktur Program dan Berita TVRI Apni Jaya Putra membantah terjadi pengurangan gaji seperti yang dikeluhkan sebagian karyawan usai penayangan Liga Inggris. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Program dan Berita TVRI Apni Jaya Putra membantah terjadi pengurangan honor seperti yang dikeluhkan sebagian karyawan usai penayangan Liga Inggris.

Apni mengatakan, TVRI tak pernah memotong honor bagi para karyawannya. Meski ia mengakui bahwa beberapa kali pembayaran honor terlambat karena mesti melalui proses verifikasi.

"Enggak ada yang dipotong, honor mereka dibayar. Ada keterlambatan iya tapi tetap dibayarkan," ujar Apni saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (18/1).


Sebelumnya, sejumlah karyawan mengaitkan pemecatan Direktur Utama TVRI Helmy Yahya dengan langkahnya membeli hak siar Liga Inggris. Kebijakan itu dinilai memengaruhi produksi dan kesejahteraan karyawan TVRI. Selain honor, karyawan juga mengeluhkan pemotongan uang makan.

Apni juga membantah pemotongan uang makan tersebut. Selama ini, menurutnya, tak ada yang disebut dengan uang makan melainkan uang program.

Apni menegaskan, pembelian hak siar Liga Inggris sama sekali tak mengganggu pos anggaran program TVRI. Penayangan Liga Inggris yang nilainya disebut mencapai Rp40 miliar memiliki pos anggaran yang berbeda dengan program lain.

[Gambas:Video CNN]

"Liga Inggris tidak menyita anggaran apa pun, anggarannya berbeda," katanya.

Apni juga membantah tudingan karyawan produksi yang menyebut tak bisa bekerja sejak TVRI menyiarkan Liga Inggris. Studio produksi TVRI disebut sudah jarang beroperasi sejak enam bulan terakhir.

Namun, Apri mengatakan, TVRI saat ini justru menambah empat program baru yang meliputi highlight, pre match, post match, dan preview khusus untuk penayangan Liga Inggris.

"Artinya ada empat program, ada empat studio yang berbeda, ada empat sif yang bekerja. Kalau masalah anggaran program TVRI enggak banyak diproduksi ya karena program anggarannya kecil," kata Apni.

Anggaran untuk program produksi TVRI, kata Apni, hanya sebesar Rp132 miliar setahun. Jumlah itu pun tak diterima sepenuhnya karena ada pembayaran pajak.

Oleh karena itu, pembelian hak siar Liga Inggris menjadi strategi pemrograman bagi TVRI agar dapat kembali ke tengah publik.

"Ini etalase supaya orang nonton, dengan begitu orang nonton lagi TVRI," katanya.

Sebelumnya, seorang karyawan TVRI bernama Bobby mengaku honor Sistem Kerabat Kerja (SKK) untuk karyawan produksi berkurang drastis sejak penayangan Liga Inggris.

Selain itu, kata Bobby, studio produksi TVRI juga sudah jarang beroperasi. Banyak karyawan produksi yang disebut Bobby jarang ke kantor karena tak punya uang.

Karyawan lain, Dhoni juga mengeluhkan sejak kepemimpinan direksi besutan Helmy ada pemotongan uang makan sebagai hak karyawan. Ia juga mengeluhkan sistem mutasi jabatan yang janggal.

Kisruh TVRI dengan Helmy diketahui bermula ketika beredar SK Dewan Pengawas LPP TVRI Nomor 3 Tahun 2019 tertanggal 4 Desember 2019, lewat media sosial, pada awal Desember 2019.

Dalam SK itu, tertulis Helmy dinonaktifkan sementara dari kursi direktur utama TVRI. Kemudian Supriyono yang sebelumnya menjabat Direktur Teknik LPP TVRI ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Harian (Plt) Dirut LPP TVRI.

Akhirnya, kabar Helmy dipecat dari jabatan Dirut TVRI itu pun terungkap ke publik, salah satunya lewat anggota Komisi I DPR RI Farhan.

Sementara Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate menyerahkan pemecatan Helmy ke Komisi I DPR. Sebab, Kemenkominfo hanya berperan sebagai mediator.

Kemenkominfo sebelumnya juga telah mengadakan beberapa pertemuan dengan Helmy maupun Dewas TVRI. Namun tak ada kesepakatan di antara keduanya.



Catatan Redaksi: Judul berita ini diubah pada Sabtu (18/1) pukul 17.40 WIB setelah mendapat klarifikasi dari narasumber. Sebelumnya berjudul "Direktur TVRI Bantah Ada Pemotongan Gaji Pegawai". (psp/dea)