Korban Jiwa Banjir Tapanuli Tengah Bertambah Jadi 7 Orang

CNN Indonesia | Rabu, 29/01/2020 17:58 WIB
Banjir yang merendam enam kecamatan di Tapanuli Tengah membuat tujuh orang meninggal dunia, lima di antaranya akibat tertimbun longsor. Petugas menggotong korban banjir di Tapteng. (CNN Indonesia/Farida)
Medan, CNN Indonesia -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut korban banjir di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, bertambah menjadi 7 orang meninggal dunia. Lima orang di antaranya meninggal karena tanah longsor.

"Tim gabungan telah berhasil mengevakuasi seluruh korban tertimbun tanah longsor. Total korban adalah tujuh orang meninggal dunia, terdiri dua orang meninggal dunia karena banjir di Kecamatan Barus, dan lima orang meninggal karena longsor di Kecamatan Andam Dewi," tutur Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Agus Wibowo, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/1).
Ia menuturkan korban yang berhasil diidentifikasi itu antara lain:

Pertama, Adwirzah Tanjung (60), warga Kelurahan Padang Masiang, Kec. Barus. Kedua, Idwaranisa (58), warga Kelurahan Padang Masiang, Kec. Barus.


Ketiga, Marpaung (50), warga Bonan Dolok, Kec. Andam Dewi. Keempat, Juster Sitorus (55), warga Bonan Dolok, Kec. Andam Dewi. Kelima, Pardamean br Manalu (85), warga Bonan Dolok, Kec. Andam Dewi.

[Gambas:Video CNN]
Keenam, Abdul Rahman (72), warga Bonan Dolok, Kec. Andam Dewi. Ketujuh, Esrin Pane (48), warga Bonan Dolok, Kec. Andam Dewi.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Tengah, Agus Haryanto, menyebut banjir pada Rabu (29/1) pukul 01.00 WIB itu terjadi akibat luapan sungai Aek Sirahar setelah hujan dengan intensitas tinggi.

Banjir dengan ketinggian sekitar 2 hingga 2,5 meter itu merendam enam kecamatan di Tapanuli Tengah. BPBD Tapanuli Tengah pun menyatakan status tanggap darurat selama tujuh hari terhitung sejak 29 Januari.

"Enam kecamatan yang terdampak yakni Kecamatan Barus, Kecamatan Andam Dewi, Pasaribu Tobing, Sorkam, Sarudik, dan Sitahuis. Tapi Kecamatan Barus paling parah terdampak banjir. Di sana sudah 700 KK mengungsi. Sementara lima kecamatan lagi masih kami data. Selain itu ada beberapa rumah yang hilang tersapu banjir," jelas Agus.

Menurutnya, Pemkab Tapteng juga sudah menetapkan status tanggap darurat atas bencana untuk tujuh hari sejak hari ini. Penetapan status ini bertujuan agar bisa fokus dalam penanganan pengungsi dan pencarian korban.

"Pos pengungsian dipusatkan di Kecamatan Barus. Perlu kami informasikan bahwa para pengungsi membutuhkan bantuan seperti makanan, pakaian, baju anak-anak dan perlengkapan lainnya. Saat ini pendataan masih berlangsung," paparnya.

(fnr/arh)