Ungkit Gus Dur di Mitos Kediri, Pramono Dicap Manipulasi

CNN Indonesia | Senin, 17/02/2020 14:16 WIB
Mantan juru bicara Presiden Gus Dur menyatakan kejatuhan Gus Dur dari kursi presiden murni karena konflik elite, bukan mitos kunjungan ke Kediri. Sekretaris Kabinet Pramono Anung. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Adhie Massardi menyebut kejatuhan Gus Dur dari kursi kepresidenan adalah murni politik. Dengan demikian, pernyataan Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang mengaitkan kejatuhan Gus Dur dengan mitos Kediri, menurut Adhie, bisa dikategorikan sebagai upaya memanipulasi opini publik. 

"Ketika menyebut Gus Dur dilengserkan (setelah berkunjung) dari Kediri, itu termasuk bagian memanipulasi opini publik," kata Adhie saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (17/2).

Adhie mengaku tak soal bila politikus PDI Perjuangan itu mempercayai mitos bahwa seorang Presiden akan lengser jika mengunjungi Kota Kediri, Jawa Timur. Namun, ia tak terima jika mitos tersebut dikaitkan dengan pelengseran Gus Dur. 


Gus Dur, menurut Adhie, dilengserkan pada 2001 silam karena masalah politik di tingkat elite yang turut melibatkan Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDI Perjuangan.

Status PDI Perjuangan saat itu adalah partai pemenang pemilu. Peran PDI Perjuangan dalam pelengseran Gus Dur terletak dari sikap politik mendukung Sidang Istimewa MPR. 

"Secara khusus Megawati (Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri) dan PDIP," ujar Adhie.

"Kalau Megawati tidak mendorong PDIP agar mendukung SI (Sidang Istimewa), itu tidak akan terjadi. PDIP waktu itu merupakan mayoritas di DPR. Dalam konteks itu lah saya menyebut persoalannya dengan Megawati," jelas Adhie.

Ungkit Gus Dur di Mitos Kediri, Pramono Dicap Manipulasi PoliPresiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. (AFP PHOTO/Sonny TUMBELAKA)
Pernyataan Pramono soal mitos Kediri yang memantik polemik itu, diucapkan saat berpidato di hadapan kiai pengasuh Pondok Pesantren Hidasyatul Mibtadien Lirboyo, Kediri, Sabtu (15/2) lalu.

Dalam pidatonya Pramono mengaku jadi salah satu orang yang melarang Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kediri. Pramono mengaitkan larangannya itu dengan peristiwa yang dialami Presiden Gus Dur, 2003 silam.

Pramono berkata Gus Dur lengser dari Presiden usai bertandang ke Kediri. Dia tak ingin Jokowi senasib dengan Gus Dur.

"Ngapunten kiai, saya termasuk orang yang melarang Pak Presiden untuk berkunjung di Kediri," ucap Pramono.

"Saya masih ingat, karena percaya atau tidak percaya, Gus Dur setelah berkunjung ke Lirboyo tidak begitu lama gonjang ganjing di Jakarta," tambah Pramono.

Ucapan Pramono itu juga direspons Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief. Ia menduga ada pesan mendalam dari pernyataan Pramono.

Lewat akun Twitter pribadinya, Andi meyakini tak ada kaitan antara Kediri dengan mitos lunturnya kekuasaan bagi penguasa. Apalagi, Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dua kali mengunjungi Kediri selama dua periode sebagai Presiden.

"Tahun 2007 SBY mengunjungi Kediri. Kunjungan kedua di tahun 2014. Pak Pramono Anung sangat mengerti bahwa tidak ada hubungan Kediri dengan pudarnya kekuasaan Pak Jokowi," ujar Andi.

Berkaca dari hal tersebut, Andi menyebut pernyataan Pramono itu lebih menggambarkan pesan bahwa kekuasaan Jokowi saat ini sedang dalam berbagai tekanan. (mar/wis)