"Namanya dikenal sebagai negara maju, tetapi angka kemiskinan masih tinggi, dan stuntingnya masih tinggi," kata Ma'ruf di Bangka Belitung berdasarkan keterangan resmi dari Setwapres, Kamis (27/2).
Ma'ruf juga menilai seharusnya status negara maju harus diukur dari tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Indikator kesejahteraan itu, kata dia, diukur berdasarkan tingkat kemiskinan, stunting dan pengangguran masyarakat yang harus rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia sampai September 2019 mencapai 24,79 juta orang. Angka ini menurun 0,88 juta orang dibandingkan dengan September 2018.
Selain itu, Ma'ruf turut mengapresiasi Provinsi Bangka Belitung atas keberhasilan mencegah dan menanggulangi stunting.
Angka stunting di Provinsi Bangka Belitung sendiri di bawah nasional yaitu 23,4 persen atau 30.978 balita Stunting. Angka itu lebih rendah dari prevalensi nasional yang berada di angka 27,7 persen.
Ma'ruf turut meminta agar seluruh daerah bisa menurunkan angka stunting sesuai target Pemerintah, yakni 14 persen. Hal itu tak lepas dari upaya pemerintah yang ingin membangun sumber daya manusia Indonesia unggul di masa depan.
"Nah yang sehat itu adalah termasuk bebas stunting, ini kalau terkena stunting itu namanya tidak sehat, itu kerdil. Oleh karena itu jangan sampai manusia Indonesia ada yang kerdil," kata dia. (rzr/end)