SUARA ARUS BAWAH

'Harusnya Pejabat Datang saat Kita Kebanjiran'

CNN Indonesia | Sabtu, 29/02/2020 13:55 WIB
Wati, 68 tahun, berjalan kaki tiga jam untuk mengungsi ke rumah adiknya, Selasa (25/2) pukul 03.00 WIB dini hari, akibat banjir menerjang rumahnya di Bekasi. Ilustrasi banjir. (ANTARA FOTO/FAUZAN)
Banjir yang merendam sebagian wilayah Jabodetabek dan Karawang pada Selasa hingga Rabu lalu, adalah banjir terbesar kedua yang terjadi dalam kurun dua bulan sejak 2020.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis (27/2), mencatat lebih dari 45 ribu warga dari 12.608 KK mengungsi akibat banjir di Jabodetabek. Ada 9 orang dinyatakan meninggal.

Korban meninggal tersebar di beberapa titik, yakni Kota Bekasi, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Tangerang Selatan. Totalnya, sebanyak 119.268 jiwa dari 44.579 KK terdampak banjir di Jabodetabek dan Karawang.


Ketika sebagian warga di Jawa Barat berjibaku menghadapi banjir, Gubernur Ridwan Kamil berada di Australia melaksanakan kunjungan kerja.

Salah satu agenda kunjungan Ridwan Kamil adalah meresmikan Jabarino Cafe di Victoria, Melbourne. Emil, sapaan Ridwan Kamil, mendapat kritik pedas dari sebagian warga dan wakil rakyat.

"Memang kan orang tidak tahu kapan akan terjadi bencana. Tetapi ketika ada bencana harapan kita sosok pemimpin di Jawa Barat itu hadir di tempat bencana, hadir tatkala rakyat susah," kata anggota DPRD Jabar Irfan Suryanagara saat dihubungi, Rabu lalu.

Ridwan Kamil menangkis kritik. Dia bilang Jawa Barat punya hierarki pemerintahan yang berbeda dengan DKI Jakarta. Jabar, katanya, punya wali kota dan bupati yang bertanggung jawab atas daerah mereka.

Hal itu dikatakan Emil pada Rabu malam. Kenyataannya, hingga Kamis atau hari kedua banjir, tak ada satu pun kepala daerah menyambangi Perumahan Vila Nusa Indah.

Pangihutan Hutasuhut (57), warga Perumahan Vila Nusa Indah 1, sedang menatap layar handphone di dalam warung kecilnya ketika CNNIndonesia.com menyapa.

Warung kecil itu nyaris tanpa makanan atau barang apapun untuk dijual. Hanya tergantung beberapa minuman saset siap seduh.

Ucok, sapaan Pangihutan, mengaku sedikit lebih beruntung karena pada Selasa (25/2) lalu, banjir hanya sampai depan rumahnya. Namun ia berharap pemerintah bisa menaikkan tinggi tanggul dekat sungai rumahnya, mengantisipasi sewaktu-waktu air kembali meluap.

'Harusnya Pejabat Datang saat Kita Kebanjiran' HOLD
Ucok (57), pemilik warung kelontong di Perumahan Vila Nusa Indah 2, Gunung Putri, Kab. Bogor. (CNN Indonesia/Thohirin)
Dia pun sadar kawasan rumahnya yang berada di pinggiran, menjadi penyebab perhatian pemerintah kurang. Bahkan ketika banjir sama-sama merendam kawasan perumahan lain di Bekasi, yang langsung berbatasan dengan Vila Nusa Indah.

"Bekasi juga Jawa Barat. Ke Bekasi dia datang, ke sini nggak," katanya.

Perhatian pemerintah yang kurang membuat Ucok setuju wacana kawasan Gunung Putri memiliki pusat pemerintahan sendiri. Misalnya jadi Kabupaten Bogor Timur.

Menurut Ucok hal itu bisa memudahkan urusan administrasi warga. "Kalau ini jadi Bogor Timur kita mungkin dekat. Entah di mana. Pemerintahannya dekat," kata Ucok.

Kota Depok menjadi wilayah paling aman saat banjir besar pada Selasa lalu. Berapa titik kawasan yang sempat terendam banjir pada awal Januari lalu, kini hilang tak berbekas.

Salah satunya Jalan Rawa Denok, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Pancoran Mas. Berdasarkan penuturan warga banjir tak terjadi, Selasa lalu. Padahal, pada Januari, ketinggian banjir sempat mencapai 50-60 sentimeter di kawasan itu. (thr/wis)
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK