Peneliti di Indonesia Belum Dilibatkan Deteksi Corona

CNN Indonesia | Senin, 02/03/2020 07:11 WIB
Eijkman Institute menilai peneliti di Indonesia belum dilibatkan secara maksimal untuk mendeteksi virus Corona di Indonesia. Ilustrasi penanganan pasien virus corona (CNN Indonesia/Damar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pakar virus dari Eijkman Institute, Herawati Sudoyo menilai pemerintah Indonesia belum melibatkan peneliti untuk mendeteksi dan menanggulangi virus corona (Covid-19). Belum ada perna maksimal dari lembaga, rumah sakit atau perguruan tinggi yang memang mampu meneliti virus corona. 

Herawati membandingkan dengan China. Dia mengatakan bahwa kasus pertama orang yang terjangkit virus corona dipublikasikan pertama kali bukan oleh Kementerian Kesehatan.

"Di China laporan pertama bukan dari Kementerian Kesehatan, tapi rumah sakit dan [laboratorium] universitas," ucap Herawati dalam acara diskusi di Jakarta Pusat, Minggu (1/3).


Menurut Herawati, peristiwa di China itu menunjukkan pemerintah setempat ingin mencari informasi sebanyak-banyaknya. Dia menilai itu perlu pula dilakukan oleh pemerintah Indonesia, yakni melibatkan lebih banyak lembaga terkait pendeteksian dan penanganan virus corona.

"Saya kira itu kuncinya di Indonesia, di sini menurut daya mungkin ada ego sektoral," imbuhnya.

Herawati mengatakan bahwa lembaga-lembaga internasional juga cenderung terbuka mengenai informasi tentang virus corona.

Misalnya ketika WHO menetapkan masa inkubasi selama 14 hari, namun ada peneliti dari lembaga lain yang memiliki pendapat berbeda.
[Gambas:Video CNN]
Begitu pula tentang dugaan iklim tropis menjadi faktor mengapa belum ada orang Indonesia terjangkit virus corona. Hal itu diutarakan Hardadi Airlangga dari Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) seperti dikutip dari nu.or.id.

Kementerian Kesehatan masih belum bisa mengonfirmasi dugaan tersebut. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun menyebut itu hanya sebatas asumsi.

Herawati mengatakan iklim atau cuaca memang bisa mempengaruhi daya tahan tubuh. Musim dingin dengan suhu ekstrem bisa melemahkan daya imunitas tubuh sehingga tubuh lebih mudah terjangkit virus.

Akan tetapi, dia menegaskan bahwa itu masih dalam perdebatan. Belum ada yang mampu memastikan dan perlu dikaji oleh banyak ahli serta tinjauan medis.

"Kalau kita panaskan di dalam suhu 56 derajat, dia akan mati dalam 30 menit, tapi [suhu di negara] kita kan enggak 56 derajat. Jadi itu sangat spekulatif," tuturnya.

Pemerintah menyatakan sejauh ini belum ada kasus virus corona di Indonesia. Semua yang mulanya diduga terjangkit lalu diisolasi dan dirawat, ternyata negatif virus corona.

Sudah ada seseorang yang mulanya mengalami gejala mirip virus corona kemudian meninggal dunia. Salah satunya pasien RS Kariadi, Semarang, Jawa Tengah. Kementerian Kesehatan menyebut pasien itu mengidap flu babi (H1N1), bukan virus corona.

Kemudian, ada pula sejumlah turis asing yang positif terinfeksi virus corona usai berkunjung ke Indonesia. Mereka berasal dari Jepang dan Selandia Baru.
(fey/bmw)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK