Herawati membandingkan dengan China. Dia mengatakan bahwa kasus pertama orang yang terjangkit virus corona dipublikasikan pertama kali bukan oleh Kementerian Kesehatan.
"Di China laporan pertama bukan dari Kementerian Kesehatan, tapi rumah sakit dan [laboratorium] universitas," ucap Herawati dalam acara diskusi di Jakarta Pusat, Minggu (1/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira itu kuncinya di Indonesia, di sini menurut daya mungkin ada ego sektoral," imbuhnya.
Misalnya ketika WHO menetapkan masa inkubasi selama 14 hari, namun ada peneliti dari lembaga lain yang memiliki pendapat berbeda.
Kementerian Kesehatan masih belum bisa mengonfirmasi dugaan tersebut. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun menyebut itu hanya sebatas asumsi.
Herawati mengatakan iklim atau cuaca memang bisa mempengaruhi daya tahan tubuh. Musim dingin dengan suhu ekstrem bisa melemahkan daya imunitas tubuh sehingga tubuh lebih mudah terjangkit virus.
Akan tetapi, dia menegaskan bahwa itu masih dalam perdebatan. Belum ada yang mampu memastikan dan perlu dikaji oleh banyak ahli serta tinjauan medis.
"Kalau kita panaskan di dalam suhu 56 derajat, dia akan mati dalam 30 menit, tapi [suhu di negara] kita kan enggak 56 derajat. Jadi itu sangat spekulatif," tuturnya.
Pemerintah menyatakan sejauh ini belum ada kasus virus corona di Indonesia. Semua yang mulanya diduga terjangkit lalu diisolasi dan dirawat, ternyata negatif virus corona.
Sudah ada seseorang yang mulanya mengalami gejala mirip virus corona kemudian meninggal dunia. Salah satunya pasien RS Kariadi, Semarang, Jawa Tengah. Kementerian Kesehatan menyebut pasien itu mengidap flu babi (H1N1), bukan virus corona.
Kemudian, ada pula sejumlah turis asing yang positif terinfeksi virus corona usai berkunjung ke Indonesia. Mereka berasal dari Jepang dan Selandia Baru.