Pemprov DKI dan Pemerintah Pusat sebelumnya menyerukan perusahaan di Jakarta untuk memaksimalkan work from home bagi para pekerjanya, kemudian melakukan pembatasan moda transportasi, mulai dari MRT, LRT, Transjakarta, termasuk commuterline.
[Gambas:Twitter]
"@CommuterLine dengan adanya perubahan dan pembatasan jam operational krl yang ada malah terjadi penumpukan penumpang distasiun n ga bisa jaga jarak akibatnya di dalam krl. inget loh kantor itu masih aktif kerja sampai saat ini ! @CurhatKRL @jokowi @BudiKaryaS @aniesbaswedan," tulis Bayu dalam akun @bayusheftian, Senin (23/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apakah kalian pikir ini akan efektif mencegah penyebaran dgn mengurangi jumlah KRL dan membatasi jam operasional??? Justru makin dempet2an. Yg dimana penumpang mau gak mau harus naik, krn gak ada kereta lagi. @CommuterLine @CurhatKRL," tulis dia.
[Gambas:Twitter]
[Gambas:Instagram]
Terakhir, warganet dengan akun Muhammad Hendro @mhendro_mh menyatakan pemerintah perlu mengevaluasi kebijakan pembatasan operasional KRL Commuterline. Menurutnya, kebijakan pembatasan transportasi tersebut hanya akan membuat kepadatan penumpang.
"@CurhatKRL pengurangan jadwal keberangkatan nyatanya tidak efektif dan malah membuat resah. Sebenarnya kalian ini @CommuterLine ingin menerapkan social distancing atau social experiment ? Tolong lebih bijak," tutup dia.
[Gambas:Twitter]
Untuk KRL sedianya jam operasional dimulai di sejumlah stasiun sekitar pukul 04.30 WIB hingga pukul 00.00 WIB. Namun pemerintah memutuskan agar jam operasional dipersempit mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB.
Perubahan jadwal dan pembatasan penumpang dilakukan untuk memperketat mobilitas masyarakat di Jakarta dan daerah sekitarnya. Sehingga mengurangi risiko penularan virus Corona (Covid-19).
(ctr/ain)