Sukacita Kepsek-Siswa Usai UN Resmi Ditiadakan Akibat Covid

CNN Indonesia | Selasa, 24/03/2020 18:30 WIB
Sukacita Kepsek-Siswa Usai UN Resmi Ditiadakan Akibat Covid Ilustrasi ujian nasional. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pihak menyambut baik keputusan Pemerintah Pusat bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk meniadakan Ujian Nasional Tahun Ajaran 2020 lantaran situasi nasional akibat penyebaran virus corona (Covid-19) yang semakin tak menentu.

Salah satu apresiasi datang dari Kepala Sekolah SMAN 25 Jakarta, Saryanti. Tapi, menurutnya keputusan meniadakan UN tersebut harus dibarengi dengan langkah kongkret lain untuk menentukan nasib dari jutaan siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Selama ini, kata dia, Ujian Nasional masih menjadi patokan bagi sejumlah institusi dalam untuk menentukan kelanjutan pendidikan dari siswa di jenjang selanjutnya. Meskipun demikian, Mendikbud Nadiem Makarim telah memastikan bahwa peniadaan UN tidak akan berdampak pada penerimaan siswa baru.


"Kebijakan Perguruan Tinggi menyangkut peringkat UN suatu sekolah apa sudah dipertimbangkan," kata Saryanti saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (24/3).

Kendati demikian, ia pun menyadari keputusan tersebut cukup sulit untuk dibulatkan lantaran banyak pertimbangan yang harus diperhatikan. Apalagi, kata dia, kondisi antarsatu sekolah dengan lainnya yang tidak serupa.

Ia mencontohkan, kondisi di sekolahnya yang selama ini harus menjalani pembelajaran jarak jauh untuk menangkal penyebaran virus covid-19. Ia menilai hal tersebut berbuah menjadi kurang efektif, karena masih banyak siswa dan juga guru di tempatnya yang tidak dapat menyanggupi tuntutan tersebut.

"Ada loh murid yang berkebutuhan khusus di sekolah negeri, ada yang tunanetra, ada yang sulit untuk nyambung, ketemu (tatap muka) saja bingung. Apalagi jarak jauh," kata Saryanti.

"Belum lagi yang gurunya gaptek," imbuhnya.

Oleh sebab itu, hingga saat ini pun pihaknya belum menentukan langkah selanjutnya yang akan dilakukan pihak sekolah. Hal itu termasuk pengadaan Ujian Sekolah yang semestinya digelar dua hari mendatang di sekolah yang ia pimpin.

"Kami menunggu kondisi aman lebih baik. Menunggu kebijakan dari Kepala Dinas juga. Ngeri juga dengan corona ini," tutur Saryanti.

Sementara itu, siswa yang akan menghadapi ujian tersebut mengaku merasa sangat terbantu dengan keputusan peniadaan UN. Pasalnya, sejumlah kegiatan sekolah telah dihentikan sementara dan digantikan melalui jarak jauh selama beberapa waktu belakangan.

"Saya sendiri juga senang, karena persiapan pribadi buat UN juga belum benar-benar matang," kata Siswa kelas 12 salah satu sekolah swasta di Jakarta, Mesya I, saat dihubungi.

Namun, Ia pun yakin peniadaan UN tersebut tidak akan berpengaruh banyak dalam proses belajar-mengajar. Apalagi, kata dia, selama ini Ujian Nasional sudah tidak menjadi satu-satunya faktor kelulusan.

Dalam hal ini, Mesya mengaku lebih percaya diri apabila penilaian kelulusan didasarkan pada akumulasi nilai dari semester 1 hingga 6. Menurutnya, dengan cara seperti itu, hasil penilaian yang didapatkan akan lebih maksimal jika dibandingkan ujian nasional yang memerlukan persiapan panjang.

"Jadi untuk saya hasilnya lebih maksimal daripada UN yang langsung dites semuanya sekaligus," katanya.

Selain mengapresiasi keputusan cepat meniadakan UN karena waktu pergantian semester yang semakin dekat, ia mengaku pihak sekolah belum memberikan informasi lanjutan mengenai pembatalan Ujian Nasional di tahun ini.

[Gambas:Video CNN]

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan meniadakan UN 2019/2020 karena penyebaran virus corona (Covid-19). UN sendiri sudah sempat berjalan pada jenjang SMK pada 16 Maret lalu. Namun, terdapat 6 provinsi terdampak virus corona yang menunda dan belum menggelar UN 2020 sampai hari ini.

Hingga saat ini, belum ada keputusan lanjutan dari pihak pemerintah dan juga DPR terkait langkah lanjutan usai pihaknya meniadakan penyelenggaraan UN. Nadiem Makarim menyebut ujian sekolah masih bisa diselenggarakan oleh masing-masing sekolah sebagai standar kelulusan. Namun ujian tidak boleh dilakukan secara tatap buka.

Mengingat keterbatasan fasilitas pada sejumlah sekolah, Nadiem memberikan opsi agar penilaian terhadap siswa bisa diakumulasi dari nilai rapor semester terakhir. Namun opsi tersebut ditentukan oleh masing-masing sekolah.

(mjo/kid)