Cerita Warga saat Nyepi di Bali 'Diperpanjang' Akibat Corona

CNN Indonesia | Kamis, 26/03/2020 14:14 WIB
Warga di Bali disebut kompak tetap di rumah sehari setelah Nyepi sejalan dengan imbauan dari Gubernur untuk berdiam di rumah demi cegah Corona. Jalanan di Bali masih lengang sehari setelah Nyepi setelah ada imbauan dari Pemprov Bali untuk tetap di rumah. (CNN Indonesia/Put)
Denpasar, CNN Indonesia -- Masyarakat Bali bak menjalankan Hari Nyepi dua hari penuh setelah ada imbauan dari Pemerintah Provinsi Bali kepada warga agar tetap berdiam di rumah untuk memotong rantai penyebaran Virus Corona.

Sehari setelah Nyepi diketahui adalah Ngembak Gni atau hari perayaan dengan bersilaturahmi ke keluarga dan warga lainnya. Sebagian lainnya juga memanfaatkan waktu ini untuk liburan.

Biasanya, sehari setelah Nyepi tempat-tempat wisata seperti pantai, taman di perbukitan, danau ramai oleh warga. Namun, keberadaan imbauan Gubernur Bali membuat kegiatan itu batal.


"Hari ini biasanya kami liburan keluarga dan sudah direncanakan sebelumnya. Tapi karena situasi seperti sekarang, kami batalkan. Kami ikuti saran pemerintah, lebih baik di rumah aja," ujar warga Gianyar, Ayu Karmila, kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26/3).

Dari pantauan CNNIndonesia.com, suasana di Bali hari ini tak jauh beda dengan saat Nyepi. Tak terlihat aktivitas warga di luar rumah. Sepenjang jalan dari kota hingga pedesaan tampak lengang.

Akses masuk menuju masing-masing desa dan kota dijaga ketat oleh Pecalang (pengaman adat). Di sejumlah titik perbatasan kota bahkan terlihat unsur TNI dan Polri.

Petugas juga melakukan patroli keliling teritorial untuk memastikan tidak ada keramaian. Warga memilih berdiam diri di rumah dan hanya keluar seperlunya untuk hal-hal yang penting.

"Rencananya saya sebenarnya mau pulang hari ini setelah bertugas di hotel saat Nyepi. Tapi tadi saya dapat informasi dari teman-teman kalau mereka diminta kembali ke hotel karena tidak diizinkan keluar atau lewat. Demi kebaikan, kita ikuti, kami tetap di hotel sementara," ujar Angga, karyawan hotel di wilayah Benoa, Badung.

Cerita Warga saat Nyepi di Bali 'Diperpanjang' Akibat CoronaJalanan diblokir di hari kedua Nyepi di Bali. (CNN Indonesia/Put)
Kapolres Gianyar, AKBP Dewa Made Adnyana meminta masyarakat mematuhi instruksi pemerintah ini. Ia mengaku tak akan segan menindak tegas jika ada yang ditemukan melanggar.

"Jika ditemukan ada yang melanggar, kami tindak tegas. Ini bukan imbauan, tapi pemerintah. Jangan ngeyel, demi kebaikan bersama memutus penyebaran Covid-19," ujarnya.

Senada, Bupati Gianyar Made Mahayastra meminta warga untuk tetap di rumah apapun kegiatannya.

"Tinggal jangan berkerumun. Kalau ndak perlu jangan keluar rumah. Kerja dari rumah, belajar di rumah dll," ucap dia, lewat pesan singkat.

Sebelumnya, lewat surat bernomor 45/satgascovid19/iii/2020 bertanggal 23 Maret 2020, Gubernur Bali I Wayan Koster meminta warga untuk tetap berdiam di rumah hingga sehari setelah Nyepi demi mencegah penyebaran Corona.

Pecalang pun disebut mengawal pelaksanaan imbauan itu di sejumlah wilayah di Bali. Bentuknya, pembatasan akses jalan.

Kompak

Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bali, I Wayan Sudirta, mengklaim semua warga Bali kompak dalam menyambut imbauan itu.

"Yang saya lihat praktik di lapangan taat semua. Kalau di Bali kalau sudah Gubernur, Bupati, Ketua DPRD, Kapolda, lalu ditambah majelis agama desa adat [memutuskan] ya sudah jalan itu [aturan]," ucapnya, Sudirta kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26/3).

[Gambas:Video CNN]
"Ini sumbangsih yang luar biasa. Ini memotong satu hari sekian juta manusia Bali tidak keluar. Ini kan dukungan Bali yang luar biasa kepada kebijakan nasional," kata

Dia pun menyebut tindakan Gubernur Bali itu sebagai langkah berani dan penuh perhitungan dalam penanganan pandemi Virus Corona. Pasalnya, keputusan itu diambil dengan melibatkan semua komponen di Bali serta mempertimbangkan kecukupan pangan untuk dua hari berdiam di rumah.

"Langkah sangat cerdas dan berani, dan kukuh, kuat. Bukan cerdas dan berani tapi spekulatif, tidak," ujar Wayan.

Meski begitu, ia enggan menyebut kebijakan ini sebagai lockdown atau pembatasan kewilayahan. "Jangan membuat diksi-diksi yang mempertentangkan, yang membuat masalah," tandasnya.

Hingga Rabu (25/3), kasus positif virus corona (Covid-19) di Bali, sudah mencapai 9 kasus, dengan dua orang di antaranya meninggal.

(put/ dhf/arh)