Sehari setelah Nyepi diketahui adalah Ngembak Gni atau hari perayaan dengan bersilaturahmi ke keluarga dan warga lainnya. Sebagian lainnya juga memanfaatkan waktu ini untuk liburan.
Biasanya, sehari setelah Nyepi tempat-tempat wisata seperti pantai, taman di perbukitan, danau ramai oleh warga. Namun, keberadaan imbauan Gubernur Bali membuat kegiatan itu batal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas juga melakukan patroli keliling teritorial untuk memastikan tidak ada keramaian. Warga memilih berdiam diri di rumah dan hanya keluar seperlunya untuk hal-hal yang penting.
"Rencananya saya sebenarnya mau pulang hari ini setelah bertugas di hotel saat Nyepi. Tapi tadi saya dapat informasi dari teman-teman kalau mereka diminta kembali ke hotel karena tidak diizinkan keluar atau lewat. Demi kebaikan, kita ikuti, kami tetap di hotel sementara," ujar Angga, karyawan hotel di wilayah Benoa, Badung.
Jalanan diblokir di hari kedua Nyepi di Bali. (CNN Indonesia/Put) |
"Jika ditemukan ada yang melanggar, kami tindak tegas. Ini bukan imbauan, tapi pemerintah. Jangan ngeyel, demi kebaikan bersama memutus penyebaran Covid-19," ujarnya.
Senada, Bupati Gianyar Made Mahayastra meminta warga untuk tetap di rumah apapun kegiatannya.
"Tinggal jangan berkerumun. Kalau ndak perlu jangan keluar rumah. Kerja dari rumah, belajar di rumah dll," ucap dia, lewat pesan singkat.
Pecalang pun disebut mengawal pelaksanaan imbauan itu di sejumlah wilayah di Bali. Bentuknya, pembatasan akses jalan.
Kompak
Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bali, I Wayan Sudirta, mengklaim semua warga Bali kompak dalam menyambut imbauan itu.
"Yang saya lihat praktik di lapangan taat semua. Kalau di Bali kalau sudah Gubernur, Bupati, Ketua DPRD, Kapolda, lalu ditambah majelis agama desa adat [memutuskan] ya sudah jalan itu [aturan]," ucapnya, Sudirta kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26/3).
[Gambas:Video CNN]
"Ini sumbangsih yang luar biasa. Ini memotong satu hari sekian juta manusia Bali tidak keluar. Ini kan dukungan Bali yang luar biasa kepada kebijakan nasional," kata
Dia pun menyebut tindakan Gubernur Bali itu sebagai langkah berani dan penuh perhitungan dalam penanganan pandemi Virus Corona. Pasalnya, keputusan itu diambil dengan melibatkan semua komponen di Bali serta mempertimbangkan kecukupan pangan untuk dua hari berdiam di rumah.
"Langkah sangat cerdas dan berani, dan kukuh, kuat. Bukan cerdas dan berani tapi spekulatif, tidak," ujar Wayan.
Hingga Rabu (25/3), kasus positif virus corona (Covid-19) di Bali, sudah mencapai 9 kasus, dengan dua orang di antaranya meninggal.
(put/ dhf/arh)
Jalanan diblokir di hari kedua Nyepi di Bali. (CNN Indonesia/Put)