25 Turis Asing Dipaksa Pulang dari Aceh Singkil

CNN Indonesia | Selasa, 31/03/2020 23:12 WIB
Kebijakan meminta pulang paksa itu dilakukan Pemkab Aceh Singkil terkait situasi wabah virus corona (Covid-19). Destinasi wisata Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil. (CNN/Indonesia/Dani)
Banda Aceh, CNN Indonesia -- Sebanyak 25 turis warga negara asing (WNA) yang sedang berlibur di Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, dipaksa untuk meninggalkan wilayah tersebut.

Kebijakan itu diambil Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil, mengingat situasi wabah virus corona (Covid-19) yang sudah mulai menyebar.

"Turis-turis yang kemarin berlibur di Pulau Banyak, sudah diimbau pulang ke negaranya masing-masing," kata Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid saat dikonfirmasi, Selasa (31/3).


Dari 25 turis, kata Dulmusrid, masih terdapat seorang di antaranya yang belum mau pulang. Meskipun demikian, pihaknya akan memaksa turis asing tersebut agar kembali ke negaranya. Sementara sisanya, sudah beranjak dari Pulau Banyak.

"Kita akan memaksa turis tersebut angkat kaki, hari ini tim bersama kepolisian setempat akan mendatanginya untuk dipaksa pulang," ucapnya.

Para turis asing tersebut sebelumnya telah diperiksa kesehatannya oleh tim medis. Dikabarkan satu diantaranya berstatus orang dalam pemantauan (ODP), karena mengalami gejala demam dan suhu badannya di atas batas normal.

Setelah masa karantina berakhir, turis tersebut dinyatakan sehat dan sudah diijinkan pulang ke negara asal. Pemerintah setempat pun akan terus melakukan protect terhadap warganya dari ancaman Covid-19.

Sekretaris tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Aceh Singkil, Mohd Ichsan, mengatakan sebelumnya 25 turis ini datang ke Pulau Banyak mulai tanggal 13 Maret 2020 lalu.

Mereka tersebar di beberapa tempat, seperti di Pulau Sikandang, Pulau Panjang dan Ujung Lolok, dengan tujuan untuk berwisata. Para turis asing itu, masing-masing berasal dari Italia dua orang, Portugal dua orang, Australia dua orang, Jerman tiga orang, dan sisanya dari Ceko.

Bantuan Disinfektan dari Warga Aceh di Perantauan

Sementara itu, warga Aceh di perantauan mengirimkan bantuan disinfektan dan pembersih tangan ke provinsi asal mereka untuk menangani dan menekan penyebaran Covid-19.

Forum Bersama (Forbes) Aceh, Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) dan pengusaha Aceh menyatakan sejauh ini mengirimkan dua ton disinfektan dan 500 kilogram cairan pencuci tangan ke Aceh.

"Disinfektan dan hand sanitizer tersebut saat ini telah dibawa ke salah satu pengangkutan untuk segera dikirim ke Aceh malam ini," kata Kepala BPPA Almuniza Kamal seperti dikutip dari Antara, Selasa.

Pengiriman disinfektan dan cairan pencuci tangan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan empati pada masyarakat Aceh yang saat ini juga tengah berjuang melawan pandemi Covid-19.


[Gambas:Video CNN]
Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, hingga Senin (30/3) tercatat lima kasus positif penyakit yang disebabkan virus corona tersebut di Aceh. Almuniza menyebutkan bantuan itu nantinya akan diterima oleh Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Aceh yang dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh sesuai arahan Presiden Joko Widodo.

"Rencananya, disinfektan dan hand sanitizer akan disumbangkan kepada rumah sakit yang ada di Aceh, guna mencegah dampak COVID-19 yang meluas," katanya.

(dra, Antara/kid)