Rapid Test Corona Tak Akurat, Pemerintah Bakal Beralih ke PCR

CNN Indonesia | Selasa, 07/04/2020 04:32 WIB
Rapid Test Corona Tak Akurat, Pemerintah Bakal Beralih ke PCR Alat Rapid Test Covid-19. (CNN Indonesia/Farid).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Letjen Doni Monardo mengatakan tes kesehatan terkait virus corona dengan metode pengambilan sampel darah kilat alias rapid test tidak efektif dan akurat. Rapid test ini ditempuh pemerintah karena dinilai lebih murah.

Doni yang juga Kepala BNPB ini mengatakan, kini pemerintah mulai memilih opsi pengambilan sampel lendir hidung atau tenggorokan (Polymerase Chain Reaction/PCR).

"Ternyata juga rapid test ini tidak semuanya efektif. Oleh karenanya ke depan kita lebih banyak mendatangkan PCR test," kata Doni dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dengan Kepala BNPB melalui siaran langsung di akun Youtube DPR RI, Senin (6/4).


Doni mengatakan sering kali rapid test menunjukkan hasil pemeriksaan pasien positif corona. Kemudian saat dilakukan tes kedua lewat PCR, hasilnya berubah menjadi negatif. Sering juga hasil sebaliknya terjadi.


Meski begitu, Doni menyebut pemerintah tidak akan meninggalkan rapid test sepenuhnya. Mereka akan mencari produk rapid test yang paling akurat sebagai pendamping PCR.

"Kami coba kumpulkan semua jenis rapid test nanti mana yang paling akurat, itu yang akan kita perbanyak," tuturnya.

Hingga saat ini, Gugus Tugas mencatat telah mendistribusikan sekitar 500 ribu alat rapid test ke seluruh wilayah di Indonesia. Jumlah itu belum termasuk distribusi ke DKI Jakarta yang sudah berkisar di angka puluhan ribu.

Rapid test di Indonesia dimulai usai keputusan Presiden Joko Widodo memilih pemeriksaan massal dibanding karantina wilayah. Kebijakan itu diumumkan pada Kamis (19/3).


Meski begitu, metode rapid test sempat diragukan sebagian kalangan karena tingkat akurasi rendah. Jurnal berjudul 'Antibody responses to SARS-CoV-2 in patients of novel coronavirus disease 2019' melansir sensitivitas rapid test serologi sekitar 36 persen dari 100 kasus Covid-19.

"Jadi dari 100 kasus yang terkonfirmasi Covid-19 dia bisa mendeteksi sekitar 30. Jadi itu harus hati-hati," kata Konsultan genom di Laboratorium Kalbe, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo kepada CNNIndonesia.com, Kamis (19/3). (dhf/osc)

[Gambas:Video CNN]