Khofifah Sebut Malang dan Surabaya Belum Ajukan PSBB Covid-19

CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 07:12 WIB
Khofifah Sebut Malang dan Surabaya Belum Ajukan PSBB Covid-19 Dari 169 orang yang mengikuti tes swab PCR di Jatim, 15 orang dinyatakan positif virus corona. Ilustrasi (AFP/STR)
Surabaya, CNN Indonesia -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan hingga kini belum ada kabupaten/kota di Jatim yang mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tengah pandemi corona (Covid-19).

Termasuk Kota Malang dan Kota Surabaya yang santer disebut telah mengajukan penerapan PP No 21 Tahun 2020 tersebut ke Pemprov Jatim, sebelum selanjutnya pengajuan ke Kementerian Kesehatan. Surabaya dan Malang adalah dua wilayah penyebaran corona di Jatim. 

"Belum. Karena yang terkonfirmasi mereka baru rapat tadi pagi. Jadi harus disiapkan plan," kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya Selasa (7/4) malam.


Sebelum mengajukan PSBB, kata Khofifah setiap haruslah menyiapkan plan of action. Hal itu berisi tentang kajian soal faktor ekonomi, keamanan, dan penerapan teknisnya. Diperlukan pula koordinasi Forkopimda di daerah tersebut.

"Di plan of action itu pasti akan melibatkan forkopimda kabupaten/kota bersangkutan," kata dia.

Dalam pelaksanaannya PSBB juga tidak bisa dilakukan oleh daerah itu sendiri, pemkab atau pemkot setempat juga harus berkoordinasi dengan daerah lain. Hal itu lantaran faktor koneksitas daerah yang erat.

"Kalau kita melihat koneksitas antar kabupaten/kota di Jatim itu, kan, hampir tidak bisa dipisahkan," katanya.

Khofifah mencontohkan misalnya Kota Surabaya menerapkan PSBB, maka orang Madura yang bekerja di Surabaya, ketika ingin masuk atau keluar Surabaya ia akan mengalami kesulitan. Maka itu dibutuhkan koordinasi antar daerah.

"Misalnya kalau ada usulan PSBB, katakan di Surabaya. Ini pasti koneksitas ke Madura harus dalam satu kesatuan plan of actionnya. Kemudian koneksi ke Gresik, sama juga demikian," ujarnya.

Maka itu, Khofifah mengaku akan terus melakukan koordinasi dengan seluruh bupati/walikota agar rencana pengajuan PSBB nantinya bisa dikalkulasi dan sesuai dengan kapasitas kabupaten/kota hingga provinsi.

"Kalau ada yang mengajukan PSBB semua bisa dikalkulasi, kapasitas dan kemampuan daerah (kabupaten/kota) dan kapasitas dan kemampuan pemprov. dan seterusnya," katanya.

Sementara itu, hingga Selasa (7/4) di Jatim tercatat ada 194 pasien positif covid-19, 42 di antaranya sembuh, 16 lainnya meninggal. Ada pula 1.083 pasien dalam pangawasan (PDP) dan 11.564 orang dalam pemantauan (ODP).

Tambahan 15 Positif Corona

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur telah melaksanakan rapid test atau tes cepat virus corona (Covid-19) terhadap 7.279 orang yang tersebar di 38 kabupaten/kota. Hasilnya, 169 orang dinyatakan positif Covid-19.

"Untuk perkembangan rapid test sudah 7.729, terkonfirmasi positif 169 orang," kata Ketua Rumpun Tracing, dr Kohar Hari Santoso, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (7/4).
Kohar mengatakan 169 orang yang dinyatakan positif itu kemudian mengikuti tes swab Polymerase Chain Reaction (PCR). Dari tes swab ini, 15 orang positif terinfeksi virus corona.

"Dari yang positif melalui rapid test kemudian berdasarkan hasil swab terkonfirmasi positif 15 orang," kata dia.
Gugus Tugas Jatim: 169 Orang Tes PCR, 15 Positif CoronaFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian
Sejak 27 Maret lalu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah mendistribusikan 18.400 alat rapid test ke sejumlah rumah sakit rujukan dan dinas kesehatan di 38 kabupaten/kota.

Rapid test diprioritaskan untuk tenaga medis yang menangani pasien positif Covid-19, pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP), serta orang tanpa gejala (OTG).

Sementara sebanyak 154 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia yang tiba di Bandara Internasional Juanda, kemarin, juga mengikuti rapid test covid-19. Hasilnya, para TKI yang baru tiba itu dinyatakan negatif dan sehat.

"Alhamdulillah, saya sudah dapat konfirmasi hasil tesnya. Dari 154 orang, semuanya negatif," ujar Gubernur Jawa Timur Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya.
Khofifah menyatakan 154 pekerja migran tersebut diantar ke daerahnya masing-masing. Setelah sampai di kampung halaman, para TKI itu menjalani karantina mandiri selama 14 hari.

"Jadi setelah mereka sampai di desa atau lokasi tujuan masing-masing, seluruh pekerja migran Indonesia tersebut akan mendapatkan treatment dalam observasi 14 hari," katanya.

Sampai saat ini total pasien positif virus corona di Jawa Timur secara kumulatif sebanyak 194 orang. Dari jumlah itu, 16 orang meninggal dunia, 42 sembuh, dan 136 masih dalam perawatan. (frd/fra)

[Gambas:Video CNN]