Doni Monardo: Kontribusi Kasus Positif Corona di DKI Menurun

dmi/psp, CNN Indonesia | Senin, 11/05/2020 12:58 WIB
Kepala BNPB Letnan Jenderal Doni Monardo dan Sekretaris Utama BNPB Dody Ruswandi usai menghadiri Rapat Terbatas Peningkatan Kesiagaan Menghadapi Bencana, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (14/1). Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyatakan pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta mulai efektif. Menurutnya hal ini terlihat dari menurunnya kontribusi kasus positif dari DKI.

Doni mengungkapkan Jakarta saat ini hanya menyumbang 39 persen dari kasus virus corona secara nasional. Sebelum pelaksanaan PSBB, pada 5 April lalu, kasus terkonfirmasi positif DKI adalah 50 persen dari nasional.

"Setelah dilakukan PSBB dan pada tanggal 5 Mei yang lalu terjadi penurunan [kontribusi] jumlah kasus terkonfirmasi DKI menjadi 39 persen dari nasional," ujar Doni dalam konferensi pers, Senin (11/5).


Pernyataan Doni sedikit berbeda dengan data. Merujuk data dari laman pemantauan perkembangan Covid-19 Gugus Tugas, jumlah kasus positif DKI Jakarta hingga Minggu (10/5) kemarin mencapai 5.190 kasus, atau 36,9 persen dari nasional.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 973 dinyatakan sembuh, kemudian 3.857 lainnya masih dirawat, dan 360 meninggal dunia.

Doni menambahkan saat ini, Pulau Jawa masih menjadi pusat penyebaran virus corona. Jumlah kasus positif corona di lima provinsi di Pulau Jawa; DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten, jika ditotal mencapai 9.640 kasus atau sekitar 68,7 persen dari nasional.

"Yang meninggal 82 persen, yang sembuh 59 persen," ungkapnya.

Oleh karena itu, gugus tugas mengharapkan inisiatif pemerintah daerah yang mengalami peningkatan kasus positif untuk mengusulkan PSBB ke Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga diharapkan berinisiatif mempersiapkan diri sebelum meminta izin pemberlakuan PSBB dan melakukan koordinasi dengan lebih baik.

"Hal ini kita upayakan agar tidak terjadi tumpang antar daerah, di mana ada yang menurun, sudah sangat berkurang, lantas akan bisa kembali lagi apabila ada perubahan mobilisasi dari masyarakat," kata Doni.

Kurva Nasional Landai

Terpisah, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan, kurva penyebaran virus corona (covid-19) melandai didasarkan pada tren penurunan jumlah kasus tiap minggu.

Dia bilang berdasarkan data April lalu, tren kasus corona dari 10 provinsi terbanyak di Indonesia cenderung menurun.

"Jadi sebenarnya yang dimaksud kurva melandai adalah tren yang dilihatnya tak bisa harian namun mingguan," ujar Wiku dalam jumpa pers melalui siaran langsung akun Instagram Sekretariat Kabinet.

Kecenderungan kurva corona melandai ini pun sempat disinggung Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy pada Jumat (8/5) lalu.

Muhadjir mengungkapkan kecenderungan penurunan kasus corona dan kenaikan tingkat kesembuhan. Kurva tertinggi kasus corona per hari disebut tak pernah lebih dari 500 kasus.

Wiku menuturkan jumlah kasus corona pada April lalu memang sempat meningkat dengan jumlah terbanyak dari DKI Jakarta. Namun setelah itu jumlah kasus kemudian sedikit melandai. Ia menduga jumlah kasus di Jakarta sempat meningkat lantaran jumlah pengujian spesimen juga semakin banyak.

"Apabila tren mingguan makin lama makin turun, tidak harus banyak tapi menurun terus itu yang disebut melandai. Kalau konteks laju penambahan turun, otomatis jumlah kumulatif stagnan dan landai," katanya.

Sementara di Jawa Barat, lanjut Wiku, jumlah kasus sempat turun namun kemudian kembali naik sepekan terakhir. Menurutnya, pergerakan data ini semestinya bisa menjadi navigasi untuk menunjukkan kecenderungan tren corona di Indonesia. 

"Satu data penting sekali untuk tunjukkan tren. Dan kalau beberapa aktivitas ekonomi akan dibuka, dasarnya harus melihat per daerah bukan hanya nasional. Itu konteksnya dari kurva melandai," ucap Wiku.

Secara kumulatif, jumlah kasus positif terinfeksi virus corona di Indonesia hingga Minggu (10/5) mencapai 14.032 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10.361 masih dirawat, 2.698 dinyatakan telah sembuh, dan sebanyak 973 lainnya meninggal dunia. (wis)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK