Pergerakan mahasiswa serta elemen masyarakat terhadap Rezim Orde Baru yang muak dengan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) sebenarnya sudah nampak beberapa tahun sebelumnya. Sebagian besar dilakukan para aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) hingga kemudian mereka ditangkapi.
Kemudian pada 1998, saat badai krisis semakin menghantam perekonomian Indonesia, gelombang pergerakan mahasiswa kembali membesar. Mahasiswa di berbagai daerah menggelar unjuk rasa di kampus masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak itu, semakin banyak mahasiswa dari berbagai daerah yang datang ke Jakarta memusatkan pergerakan di ibu kota. Mahasiswa juga tidak lagi meneriakkan kritik di dalam kampus, melainkan sudah turun ke beberapa ruas jalan. Sementara itu, Presiden Soeharto masih berada di Kairo, Mesir.
Selain unjuk rasa mahasiswa, Jakarta pada Mei 1998 juga diselimuti asap dan api penjarahan terhadap ribuan toko serta pusat perbelanjaan (AFP PHOTO / CHOO YOUN-KONG) |
Pada 17 Mei, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen TNI Prabowo Subianto mendatangi kediaman Hery Hartanto, mahasiswa Trisakti yang tewas. Di sana, Prabowo memegang Alquran, mengangkat kitab suci itu di atas kepalanya dan bersumpah bahwa ia tidak memerintahkan pasukannya melakukan penembakan. Ayah Hery, Sjahrir Mulyo Utomo tidak tahu harus percaya atau tidak pada ucapan Prabowo.
Pada 18 Mei, mahasiswa dari berbagai elemen menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR. Aksi sudah dipusatkan di sana. Kala itu, MPR masih menjadi lembaga tertinggi, yakni pemberi mandat kepada presiden. Mahasiswa ingin ada sidang istimewa dengan agenda pencabutan mandat presiden oleh MPR.
Baru pada pukul 13.00 WIB, mereka baru berhasil masuk ke dalam. Dari berbagai kampus dan elemen, ribuan mahasiswa lalu membanjiri Gedung DPR/MPR. Lagu-lagu perjuangan dinyanyikan. Bendera Merah Putih dikibarkan. Yel-yel diteriakkan.
Tak sedikit dari mereka yang sujud. Mensyukuri gerakan yang selama ini dilakukan telah mengalami kemajuan yang signifikan, yakni menduduki gedung parlemen.
Selain mahasiswa, hadir pula sejumlah tokoh, antara lain WS Rendra, Solichin GP, Sri Edi Swasono, Ali Sadikin, YB Mangunwijaya dan beberapa lainnya. Amien Rais juga ada di sana lantaran tengah mengadakan audiensi dengan Komisi II DPR.
Ketua DPR pada 1998, Harmoko (kiri) meminta Soeharto untuk mundur dari jabatan presiden. Pernyataan Harmoko mendapat sorotan lantaran selama ini dikenal sebagai orang dekat Soeharto ( AFP PHOTO) |
Ketua DPR kala itu, Harmoko dikenal sebagai orang yang dekat dengan Soeharto. Sebelum menjadi pimpinan parlemen, dia adalah Menteri Penerangan.
Harmoko juga disebut-sebut sebagai salah satu orang yang kerap meminta Soeharto untuk kembali menjadi presiden. Walhasil, Soeharto kembali menjabat mulai Maret 1998 sebagai hasil Pemilu 1997.
Namun, ketika mahasiswa berhasil menduduki gedung parlemen, Harmoko menunjukkan gelagat sebaliknya. Dia meminta Soeharto mundur dari jabatan presiden. Pernyataan Harmoko tersebut sontak menjadi sorotan karena selama ini dikenal sebagai orang dekat dan selalu mendukung Soeharto.
"Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas, pimpinan Dewan, baik ketua maupun wakil-wakil ketua, mengharapkan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri," kata Harmoko saat konferensi pers di Gedung DPR/MPR pada 18 Mei silam.
Meski Harmoko sudah meminta Soeharto mundur, mahasiswa tak langsung lega dan meninggalkan gedung parlemen. Ada sebagian yang pergi, namun tidak sedikit yang memilih untuk bertahan.
Mereka tetap ingin MPR menggelar sidang istimewa untuk mencabut mandat Soeharto sebagai presiden. Pada keesokan harinya, yakni 19 Mei, gelombang mahasiswa yang datang ke Gedung DPR/MPR semakin besar.
Lihat juga:Hari-hari Terakhir Sang Jenderal |
Akbar Tandjung (kiri) dan Ginandjar Kartasasmita (kanan) dan 12 orang lainnya mengundurkan diri dari jabatan menteri jelang Soeharto menyatakan berhenti dari presiden Mei 1998 silam (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Soeharto sudah tak punya banyak pilihan. Ribuan mahasiswa di berbagai daerah menuntut mundur dan bahkan orang-orang terdekatnya sudah menjauh.
Kemudian pada 21 Mei, pukul 09.00 WIB, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan presiden. Sorak sorai mahasiswa lalu menggema di langit. Tampuk pemerintahan kemudian dijabat oleh BJ Habibie. (bmw)
Selain unjuk rasa mahasiswa, Jakarta pada Mei 1998 juga diselimuti asap dan api penjarahan terhadap ribuan toko serta pusat perbelanjaan (AFP PHOTO / CHOO YOUN-KONG)
Ketua DPR pada 1998, Harmoko (kiri) meminta Soeharto untuk mundur dari jabatan presiden. Pernyataan Harmoko mendapat sorotan lantaran selama ini dikenal sebagai orang dekat Soeharto ( AFP PHOTO)
Akbar Tandjung (kiri) dan Ginandjar Kartasasmita (kanan) dan 12 orang lainnya mengundurkan diri dari jabatan menteri jelang Soeharto menyatakan berhenti dari presiden Mei 1998 silam (CNN Indonesia/Safir Makki)