Pengamat Soal Cetak Sawah: 44 Persen Karhutla 2019 di Gambut

CNN Indonesia | Sabtu, 16/05/2020 07:22 WIB
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) berupaya memadamkan api yang membakar lahan gambut di Jalan Tegal Arum kawasan Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat (13/9/2019). Panasnya cuaca dan kencangnya angin membuat kebakaran cepat meluas sehingga menyulitkan petugas untuk memadamkan kebakaran lahan gambut tersebut. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/foc. Kebakaran di lahan gambut sukar dipadamkan karena bara api bisa tersimpan di bawah permukaan gambut dan seaktu-waktu menyebar lagi. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Jakarta, CNN Indonesia -- Yayasan Madani Berkelanjutan menyebut program cetak sawah kontradiktif dengan perlindungan terhadap lahan gambut karena akan membuat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di ekosistem ini semakin luas.

"Kalau [program cetak sawah] di [ekosistem gambut] fungsi lindung jelas kontradiktif. Karena faktanya di 2020 saja [gambut] terganggu [meski] tidak ada sawah. [Bagaimana kalau] sekarang akan ada sawah?" ujar spesialis sistem informasi geografis dari Yayasan Madani Berkelanjutan, Fadli Ahmad Naufal, kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (15/5).

Berdasarkan data pihaknya, 44 persen kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atau seluas 727.971 hektare pada 2019 terjadi di fungsi ekosistem gambut (FEG).


Dari jumlah tersebut, 54,1 persen berada di ekosistem gambut dengan fungsi lindung (FLEG), yakni seluas 398.182 hektare. Ini terdiri dari 305.001 hektare (42 persen) di ekosistem gambut fungsi lindung berkubah gambut dan 93.181 hektare (12,8 persen) di ekosistem gambut fungsi lindung non-kubah gambut.

Selain itu, ada kebakaran di ekosistem gambut dengan fungsi budidaya (FBEG) yang tidak berkubah gambut mencapai 329.798 hektare (45,3 persen) dari total kebakaran di FEG.

Fadli mengatakan untuk melakukan cetak sawah di lahan gambut pemerintah harus memastikan dan mengkaji dampaknya terhadap lingkungan gambut. Bentuknya, memastikan jenis sawah yang bakal dicetak, lokasi, hingga dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

Menengok ke 2019, ia menilai karhutla bisa terjadi di kawasan gambut lindung karena ada celah pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 10 Tahun 2019 tentang Penentuan, Penetapan dan Pengelolaan Puncak Kubah Gambut Berbasis Kesatuan Hidrologis.

Infografis Fakta Satwa yang Terancam Kabut Asap KarhutlaFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian
"Karena jika satu area itu ada dua kubah gambutnya, salah satunya bisa dipakai. Itu yang membuat celah kubah gambut terganggu," tuturnya.

Pasal 7 dalam aturan tersebut menyebut jika terdapat lebih dari satu puncak kubah gambut dalam satu kesatuan hidrologis gambut, maka puncak gambut bisa dimanfaatkan.

Terpisah, Pakar kebakaran hutan dan lahan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero Saharjo meminta Pemerintah mempertimbangkan kegagalan proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) satu juta hektare di Kalimantan Tengah terkait program cetak sawah.

"Tentang cetak sawah baru, memang kalau saya lihat sederhana saja, kita sudah alami masa sulit dengan kejadian PLG kemarin. Sehingga tolong, itu benar-benar diperhatikan," kata dia, dikutip dari Antara.

"Cobalah pakai akal sehat, peat (gambut) itu seperti bayi harus dijaga, kalau tidak itu jadi masalah besar. Niat baiknya perlu diapresiasi, tapi coba diperhitungkan benar," ujar dia.

Diketahui, Presiden Soeharto mengeluarkan Keppres Nomor 82 Tahun 1995 tentang Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Satu Juta Hektar di Kalimantan Tengah.

Tujuannya menyediakan lahan pertanian baru dengan mengubah satu juta hektare lahan gambut dan rawa untuk penanaman padi. Proyek tersebut dikerjakan dengan membuka kanal-kanal yang bertujuan membelah kubah gambut.

Namun, Proyek itu berakhir dengan kegagalan total. Sekitar separuh dari 15.594 keluarga transmigran yang ditempatkan di kawasan gambut tersebut meninggalkan lokasi. Sementara, penduduk setempat mengalami kerugian akibat kerusakan sumber daya alam akibat proyek tersebut.

Presiden kedua RI Soeharto pernah gagal dalam program sejuta haktare lahan gambut.Presiden kedua RI Soeharto pernah gagal menanami gambut dalam program sejuta haktare lahan gambut. (Dok. Istimewa)
Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) belum menjawab konfirmasi CNNIndonesia.com terkait hal ini.

Pada Rabu (13/5), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan proyek cetak sawah bisa dilakukan di Kalimantan Tengah.

"Berkaitan dengan rencana pengembangan wilayah yang baru atau percetakan sawah baru, dari hasil rapat potensi yang dikembangkan memang bisa (ditanam) di atas 255 ribu di lahan hamparan Kalimantan Tengah," ujarnya seperti dikutip Antara.

Namun ia menyatakan pihaknya masih melakukan kajian dalam waktu tiga minggu ke depan pada 164.598 hektare lahan potensi cetak sawah. Bentuknya, kajian lingkungan strategis, peninjauan ulang inventarisasi lahan, sampai ketersediaan tenaga kerja.

Sebelumnya, ia sempat menyatakan ada 900 ribu hektare lahan gambut di Kalimantan yang bisa dijadikan potensi lahan sawah baru. Sebanyak 300 ribu hektare lahan di antaranya bakal disiapkan untuk cetak sawah.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan bakal memfokuskan tahap pertama cetak sawah di 164 ribu hektare yang bakal dikaji.

"Untuk rawa gambut itu kami akan berfokus pada 164 ribu hektare dulu pada tahap pertama yang ada karena bisa kita intervensi dalam agenda secepatnya sambil menunggu pematangan-pematangan lahan," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(fey/arh)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK