Tim Advokasi Novel Minta Polri Cabut Bantuan Hukum 2 Terdakwa

ryn, CNN Indonesia | Senin, 18/05/2020 17:26 WIB
Terdakwa kasus penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan, Ronny Bugis menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jakarta, Kamis (19/3/2020). Kedua terdakwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette didakwa melakukan penganiayaan berat terencana dengan hukuman maksimal 12 tahun penjara. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/wsj. Salah satu terdakwa penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, Ronny Bugis. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Advokasi Novel Baswedan meminta Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mencabut bantuan hukum yang diberikan kepada kedua terdakwa penyiraman air keras, yaitu Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis.

Menurut anggota tim advokasi, Yati Andriyani, tindakan tersebut harus ditempuh jika kejahatan yang dilakukan kedua terdakwa tidak ingin dianggap sebagai kepentingan tugas institusi.

"Dan harusnya pendampingan hukum itu segera dicabut jika tidak ingin dikatakan bahwa kejahatan yang diduga dilakukan kedua terdakwa atau pelaku bagian dari operasi kepolisian," kata Yati dalam diskusi webinar, Senin (18/5).


Yati menjelaskan Polri hanya wajib menyediakan bantuan hukum bagi anggotanya yang disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang berkaitan dengan kepentingan tugas. Hal itu termuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Teknis Institusional Peradilan Umum Bagi Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.

"Nah, saat ini kepentingan tugas apa yang sedang dilakukan kedua terdakwa? Apa jangan-jangan kedua terdakwa sedang melakukan operasi tugas di bawah kepolisian? Ini pertanyaan kita," tandasnya.

Sebelumnya, Mabes Polri meminta agar nota keberatan terkait penempatan Divisi Hukum Polri sebagai pendamping dua terdakwa kasus penyiraman air keras Novel Baswedan disampaikan ke majelis hakim dalam persidangan.

"Karena sudah dalam persidangan, silakan saja keberatan PH (Pendamping Hukum) diajukan ke pimpinan sidang," kata Kepala Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono saat dihubungi wartawan, Kamis (14/5).

Rahmat Kadir dan Ronny Bugis berstatus Polri aktif. Keduanya merupakan pelaku penyiraman air keras terhadap Novel.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa keduanya melakukan tindak pidana penganiayaan berat dan terencana. Perbuatan itu berupa penyiraman cairan asam sulfat (H2SO4) ke wajah Novel.

Perbuatan kedua terdakwa membuat Novel mengalami luka berat. Novel mengalami hambatan dalam menjalankan pekerjaan, kerusakan pada selaput bening (kornea) mata kanan dan kiri. Luka itu berpotensi menyebabkan kebutaan. (bac)

[Gambas:Video CNN]