Polisi Tangkap WN Pakistan Diduga Pemilik 821 Kg Sabu

CNN Indonesia | Sabtu, 23/05/2020 13:30 WIB
Polisi Tangkap WN Pakistan Diduga Pemilik 821 Kg Sabu Polisi berhasil membongkar penyimpanan sabu seberat 821 kg di Kota Serang, Banten. Ilustrasi (CNN Indonesia/Safir Makki)
Serang, CNN Indonesia -- Polisi membongkar penyimpanan sabu seberat 821 kilogram (kg) di sebuah ruko, di Kota Serang, Banten, Jumat (22/5). Barang haram hampir satu ton tersebut milik jaringan narkotika internasional asal Timur Tengah.

"Pengungkapan jaringan narkotika internasional Timur Tengah, yang semalam kami ungkap pukul 18.30 WIB, dengan sabu seberat 821 kg," kata Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo, di lokasi, Sabtu (23/5)

Dalam operasi ini, kata Sigit, pihaknya turut menangkap dua orang diduga pemilik sabu tersebut, yakni BA, warga negara Pakistan dan AS, warga negara Yaman. Mereka berdua pertama kali bertemu di Yaman pada 2000 lalu.


Jenderal bintang tiga itu mengatakan mereka akhirnya memutuskan untuk mengedarkan sabu di Indonesia, setelah berbisnis rempah-rempah. Mereka lantas memilih menyimpan sabu tersebut di wilayah Serang.

"Barang (sabu) baru masuk dua minggu lalu. (Melibatkan WNI) sedang kita kembangkan," jelasnya.

Sigit menjelaskan pihaknya telah melakukan penyelidikan sekitar enam bulan untuk membongkar jaringan tersebut. Saat itu, tim Bareskrim Polri mengamankan sebuah kapal serta sejumlah ABK, namun tidak ditemukan sabu.

Menurut Sigit, penyelidikan terus berlanjut hingga pihaknya menetapkan dan menangkap tiga orang tersangka. Ia mengaku kembali melakukan pengembangan dan akhirnya berhasil menemukan sabu seberat 821 kg yang akan dijual.

Sabu tersebut dikemas dalam berbagai tempat, seperti kotak makan sebanyak 491 buah, plastik bening 146 buah, 92 bungkus dengan lakban kuning, dan 88 bungkus dengan lakban cokelat.

"Dilakukan penyelidikan dan pengintaian, target dua orang semalam, sedang memindahkan sabu ke kotak yang sudah disiapkan, anggota tim melakukan penyergapan," ujarnya. (ynd/fra)

[Gambas:Video CNN]