Kisah Jurnalis Jadi Relawan Pengubur Jenazah Pasien Covid

CNN Indonesia | Sabtu, 30/05/2020 15:28 WIB
Sejumlah petugas mengangkat peti jenazah seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID-19 dari kendaraan untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (11/5/2020). PDP berusia 56 tahun itu meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Undata Palu. Data Gugus Tugas COVID-19 Sulteng per 11 Mei 2020, jumlah kasus positif COVID-19 sebanyak 83 orang, PDP 31 orang, 3 meninggal dunia, dan 13 orang dinyatakan sembuh. ANTARAFOTO/Eddy Djunaedi/bmz/hp. Ilustrasi. (ANTARAFOTO/Basri Marzuki)
Yogyakarta, CNN Indonesia -- Siapapun bisa jadi relawan. Hal ini yang akhirnya membuat seorang jurnalis di Yogyakarta, Michael Aryawan ikut menjadi relawan kemanusiaan di di Posko Terpadu Penanganan Covid-19 DIY.

Sejak 23 Mei 2020, pria yang akrab disapa Mika ini masuk dalam tim inti pemakaman jenazah kasus Covid-19. Mika mengaku tertarik gabung sebagai relawan di posko tersebut, karena terinspirasi dari para relawan yang pernah diliputnya.

Selain itu, ia juga sebagai mantan anak Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), dan pernah menjadi anggota SAR DIY.


"Jadi itu makin membulatkan tekad saya untuk ikut gabung bersama mereka," kata Mika kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (30/5).

Meski ini bukan tugas relawan pertamanya, namun buat Mika, pandemi virus corona ini adalah yang paling menakutkan. Bagaimana tidak, lawannya adalah virus tak kasat mata yang bisa menyerang siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Kekhawatirannya bukan cuma untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk keluarganya.

Mika mengungkapkan bahwa istrinya yang juga seorang tenaga kesehatan sempat tak mengizinkan ia bergabung sebagai relawan, karena takut anaknya semakin berisiko tertular virus. Tetapi setelah dibujuk selama dua hari, akhirnya sang istri pun merestui.

Pria yang sudah menjalani profesi jurnalis sejak tahun 2001 ini, pertama kali mendapatkan pengalaman menguburkan jenazah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Pemakaman Sarilaya, Gedongkiwo, Kota Yogyakarta, pada 26 Mei 2020.

"Awalnya sempat tegang, dan sempat salah cara memakai masker full face sehingga susah bernapas," tuturnya.

Tak hanya itu, ia bersama tim lainnya juga harus menunggu kedatangan jenazah berjam-jam dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Saat itu, lokasi penguburan jenazah sempat dipindahkan dari lokasi awal karena kabarnya ada penolakan warga.

"Kami menunggu dari jam 3 dini hari sampai jam 9 pagi," imbuh pria yang kini menjadi wartawan di salah satu stasiun televisi swasta Nasional ini.

Mika menjelaskan, ada tahapan prosedur kesehatan yang harus dilewati tim pengubur cepat, sebelum dan sesudah pemakaman.

Pertama, sebelum pemakaman, para personel harus dicek kesehatan terlebih dahulu. Kedua, setelah dinyatakan dalam kondisi baik, tim wajib menggunakan pakaian APD level 1. Ketiga, setelah pemakaman, tim kemudian dibawa ke lokasi dekontaminasi.

"Ada 3 tahapan dekontaminasi Covid-19 yang dilewati. Kami diwajibkan mandi keramas, menjalani karantina selama 2 jam, dan cek kesehatan lagi," jelasnya.

Tahapan keempat, setelah proses dekontaminasi selesai, para personel harus diistirahatkan selama 24 jam, sebelum mendapatkan jatah untuk memakamkan jenazah lagi.

Selain soal kesehatan keluarga, masih ada perkara stigma yang kerap dialamatkan pada pasien, tenaga kesehatan dan orang yang terkait dengan Covid. Beruntung, Mika dan keluarga tak mengalami hal ini, baik di lingkungan tempat tinggal dan pekerjaan.

"Selama ini baik-baik saja," tegasnya. (tri/chs)

[Gambas:Video CNN]