Nikah saat Pandemi, Hemat Meski Sepi Tanpa Teman

CNN Indonesia | Sabtu, 06/06/2020 19:19 WIB
Suasana akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Ciracas, Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2020. Sesuai dengan SE Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan di Rumah Ibadah Dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19 di Masa Pandemi, calon pengantin diharuskan mengikuti protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan sarung tangan. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Pernikahan di tengah pandemi virus corona harus mematuhi protokol kesehatan (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah pandemi virus corona (Covid-19) mengubah berbagai tatanan serta praktik hidup masyarakat, tak terkecuali saat pernikahan berlangsung. Ada perbedaan signifikan dibanding biasanya.

Pesta bertabur bunga, irama musik yang menggema, serta tamu dalam jumlah besar yang datang memberikan selamat umum terlihat saat resepsi pernikahan berlangsung. Namun, itu semua tidak bisa terlihat lagi sejak virus corona (Covid-19) mewabah di Indonesia.

Pembatasan acara yang berpotensi menimbulkan kerumunan faktor penyebabnya. Pemerintah tidak mau penularan virus corona terjadi dari acara-acara demikian.


Meski begitu, bukan berarti selalu direspons gundah oleh para kawula yang baru saja menikah. Sebagian dari mereka justru bersyukur lantaran tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk menghelat pesta jelang menjalani hidup baru bersama pasangan hidup.

Diah Putri (39) salah satunya. Diah baru saja menikah dengan Thomas di Kantor Urusan Agama (KUA) Ciracas, Jakarta Timur pada hari ini, Sabtu (6/6). Pernikahannya dihadiri tak lebih dari 10 orang anggota keluarga.

Ada rasa sedih ketika saudara dan teman-teman baik tidak bisa ikut dalam momen penting dalam hidupnya. Namun, mau tak mau, memang itu yang harus terjadi demi mencegah penularan virus corona.

Akan tetapi, dia lega karena tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk menghelat resepsi. Tak bisa dipungkiri, biaya menggelar pesta resepsi pernikahan memang kerap menguras biaya. Baik untuk sewa tempat, hingga sajian makanan untuk para tamu dan keperluan lainnya.

"Hemat pasti, kirain nikah bakal ribet ternyata cuma begini (ke KUA). Ya jauhlah akhirnya bisa dialihkan buat kebutuhan yang lain. Kepangkas 70 persen," kata Diah kepada CNNIndonesia.com pada Sabtu (6/6).

Katanya, ia dan suaminya Thomas, hanya perlu merogoh kocek untuk seserahan dan biaya pernikahan di KUA sebesar Rp600 ribu.

Suasana akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Ciracas, Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2020. Sesuai dengan SE Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan di Rumah Ibadah Dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19 di Masa Pandemi, calon pengantin diharuskan mengikuti protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan sarung tangan. CNN Indonesia/Bisma SeptalismaAkad nikah di Kantor Urusan Agama tidak boleh banyak mengundang anggota keluarga dan kerabat demi mencegah penularan virus corona (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Ia tak perlu lagi memusingkan soal resepsi yang kerap membutuhkan biaya besar. Pun begitu, ia menyebut pihaknya masih akan merayakan hari bahagianya dengan makan keluarga.

Uang lebih tersebut, sambungnya, akan dipakai untuk bulan madu ketika pandemi virus corona sudah terkendali.

Mengenakan kebaya abu-abu, plus masker hitam yang senada dengan warna hijabnya, Diah merasa upacara peresmian statusnya dalam bahtera pernikahan malah menjadi lebih khusyuk.

Ia pun sempat menitikkan air mata haru di rangkulan ibunya yang hadir mendampingi. Momen haru tetap tak bisa ditangkis meski tak banyak orang yang menyaksikan.

"Tegang iya, sakral iya. Bayangannya dulu nikah enggak kayak gini, sama sekali di luar dugaan," terangnya.

Karyawan swasta ini tak menyesali keputusannya melepas status sendiri di tengah pandemi. Ia bahkan sengaja memilih hari ini karena 'tanggal cantik'.

"Karena tanggalnya bagus 6-6-2020," kata Diah.

(wel)

[Gambas:Video CNN]