Saat matahari meninggi, Jagi memutuskan rehat sejenak. Nasi, sepotong tempe dan sayur sop menemani santap siang pria paruh baya tersebut.
"Gorengan habis, Pak Haji?" sapa seorang kawan kepada Jagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penumpang tujuan Bandung, Garut, dan Tasik, ataupun Cirebon pasti jadi langganannya. Namun saat pandemi virus corona melanda, Jagi kehilangan sumber pendapatan utamanya.
Jagi pun sampai banting setir dengan berjualan oleh-oleh khas Bogor manisan pala. Namun ia rela hanya berjualan gorengan demi tetap menyambung hidup.
Ia berharap Baranangsiang bisa ramai seperti semula. Berakhirnya pelarangan mudik menjadi harapan bagi Jagi untuk kembali mencari penghidupan di terminal ini.
"Kangen juga (keramaian penumpang), soalnya ngandelin di sini sih," ucap dia.
Larangan mudik berlaku bagi semua jenis kendaraan mau pun angkutan. Tidak ada yang boleh keluar dari Jabodetabek.
Begitu pula setelah lebaran usai. Orang dari daerah belum bisa langsung datang ke Jabodetabek. Masih ada pembatasan guna mencegah penularan virus corona dari daerah lain.
Terbaru, Kementerian Perhubungan sudah mencabut larangan mudik pada Selasa (9/6). Bus antar kota antar provinsi diprediksi akan kembali kebanjiran penumpang. Hal itu sangat dinanti Jagi. Melihat banyak orang di terminal meski semuanya memiliki kesibukan dan tujuan masing-masing.
Sejak ia membuka warung pada 1987, baru kali ini dagangannya sepi sampai harus tutup sementara. Padahal musim mudik seharusnya jadi saat yang paling menguntungkan baginya.
"Mulai hari ini agak ramai karena mobil sudah pada dibuka, tapi penumpang belum gitu rame. Mudah-mudahan cepat kayak biasa lagi," ucap Imas.