PSBB Transisi Fase Dua dan Jaga Panggung Politik Ala Anies

CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 16:36 WIB
Anies Baswedan di Jakarnaval 2019 Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (CNN Indonesia/Ryan Hadi Suhendra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperpanjang penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di DKI selama 14 hari ke depan.

Anies kukuh memilih diksi PSBB Transisi, ketika Presiden Jokowi dan sejumlah kepala daerah lainnya mulai memopulerkan kelaziman baru atau new normal dalam menghadapi virus corona.

Langkah Anies memperpanjang PSBB transisi menyulut pertanyaan di tengah publik. Pasalnya, sejumlah masyarakat mengkritik bahwa PSBB bukan kebijakan yang tepat untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.


Direktur Eksekutif Parameter Politik, Adi Prayitno, berpandangan PSBB transisi ala Anies hanya permainan silat lidah, sebagai pembeda kebijakan yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo: new normal. Adi mendasari asumsinya melihat PSBB transisi tidak memiliki perbedaan dengan kebijakan yang dikampanyekan Jokowi.

"Enggak ada perbedaan prinsip antara new normal ataupun PSBB transisi," kata Adi saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Kamis (2/7).

"Ini hanya silat lidah saja sekadar membedakan Istana dan Balai Kota," imbuhnya.

Anies, kata dia, seolah ingin memperlihatkan diri ke publik bahwa dirinya berbeda dengan Jokowi lewat penggunaan istilah kebijakan penanganan penyebaran Covid-19 yang berbeda. Bahkan, Anies, kata dia, juga ingin berbeda dengan kepala daerah lainnya seperti Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, hingga Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang cenderung mengikuti istilah new normal.

"Covid-19 ini panggung politik sekaligus panggung kemanusiaan. Di ranah panggung politik, kebijakan ataupun istilah yang dikeluarkan jadi bagian insentif profiling seorang gubernur," tuturnya.

Lewat langkah ini, Adi berpendapat, Anies ingin merawat stamina publik agar tetap menilai dirinya sebagai satu-satunya kepala daerah yang memiliki sikap atau posisi politik yang berbeda dengan pemerintah pusat saat ini. Menurutnya, hal ini memiliki dampak positif terhadap elektabilitasi Anies sebagai salah satu sosok yang disebut sebagai calon presiden (capres) 2024 mendatang.

"Khawatirnya, kalau Anies menggunakan kebijakan atau istilah yang dikeluarkan pemerintah pusat, ia tenggelam, tidak punya pamor," ujarnya.

Terpisah, Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo menyampaikan bahwa langkah menerapkan PSBB transisi fase kedua ini akan membuat Anies dipersepsikan sebagai sosok yang tengah memperjuangkan kesehatan masyarakat.

Lewat kebijakan, menurutnya, publik juga akan menyadari bahwa masalah utama yang dihadapi saat ini adalah pandemi Covid-19, bukan sektor ekonomi.

"Anies akan dipersepsi sedang memperjuangkan kesehatan warganya. Menurut saya, semua orang akan tahu bahwa masalahnya tetap Covid-19, kurvanya enggak turun-turun, malah naik terus," ucap Kunto.

Menurutnya, kebijakan ini lebih efektif dibandingkan Anies menerapkan new normal. Pasalnya, kata dia, Jokowi telah meminta pemerintah daerah tidak memaksakan pemberlakuan new normal, khususnya di daerah yang angka kasus positifnya masih tinggi.

"Kalau terjadi sesuatu dia kena juga. Misalnya, tiba-tiba Jakarta naik drastis, dia [Anies] tetap disalahkan kenapa enggak memperpanjang PSBB. Kalau sekarang PSBB sudah diperpanjang, dia [Anies] bisa bilang sudah berusaha," ujar Kunto.

(mts/ain)

[Gambas:Video CNN]