1.226 Orang, Jatim Catat 33 Persen Kematian Nasional Covid-19

CNN Indonesia | Senin, 13/07/2020 21:21 WIB
Sejumlah petugas mengangkat peti jenazah seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID-19 dari kendaraan untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (11/5/2020). PDP berusia 56 tahun itu meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Undata Palu. Data Gugus Tugas COVID-19 Sulteng per 11 Mei 2020, jumlah kasus positif COVID-19 sebanyak 83 orang, PDP 31 orang, 3 meninggal dunia, dan 13 orang dinyatakan sembuh. ANTARAFOTO/Eddy Djunaedi/bmz/hp. Ilustrasi. Pasien meninggal akibat virus corona. (ANTARAFOTO/Basri Marzuki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Angka kematian akibat infeksi virus corona (Covid-19) di Jawa Timur terus meningkat. Jumlah kematian di Jatim bahkan tertinggi secara nasional, melebihi provinsi-provinsi lainnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, per Senin (13/7), angka kematian di Jatim tercatat sebanyak 1.226 kasus. Jumlah itu sama dengan 33,53 persen dari total keseluruhan kematian nasional sebesar 3.656 kasus.

Angka itu bahkan lebih besar dari kematian akibat Covid-19 di DKI Jakarta yang tercatat ada 697 kasus, atau setara dengan 19,64 persen dari total keseluruhan kematian nasional.


Kemudian diikuti Jawa Tengah dengan 240 kematian atau 6,56 persen, dan Jawa Barat sebanyak 186 kematian atau sama dengan 5,87 persen dari total kematian nasional.

Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi pernah mengatakan melonjaknya angka kematian pasien positif corona di Jatim terjadi lantaran virus tersebut sulit diprediksi.

Joni bahkan mengakui setiap hari ia harus bersedih lantaran dihadapkan dengan kenyataan pahit soal wafatnya pasien Covid-19. Menurutnya meninggalnya seseorang itu juga telah diatur oleh sang khalik.

"Meninggalnya seseorang itu Allah SWT yang nentukan. Saya dipercaya Ibu Gubernur untuk memimpin rumah sakit besar RSUD dr Soetomo. Setiap hari sebetulnya saya angkles (sedih), saya nangis setiap hari," kata Joni di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (11/6).

Virus corona, kata Joni, merupakan barang baru yang unpredictable. Setiap pagi, ia yang juga memimpin RSUD dr Soetomo ini selalu berbicara kepada timnya dan para ahli perihal apa sebenarnya rahasia di balik Covid-19 ini.

"Perjalanan penyakit seorang menderita Covid-19 itu unpredictable... Banyak kawan-kawan yang para ahli itu bertanya-tanya sebetulnya apa rahasia di balik Covid-19 ini," ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, mengatakan pemerintah kini berusaha keras untuk menekan angka kasus corona di Provinsi Jatim.

Ia pun sempat menyinggung wabah virus Flu Spanyol yang pernah mengguncang Indonesia atau yang seabad silam masih bernama Hindia Belanda. Saat itu, kata Muhadjir, Jatim merupakan daerah dengan jumlah kasus penularan terbanyak.

"Ternyata dulu 1918 waktu terjadi wabah Flu Spanyol, itu ternyata Jawa Timur memang angka tertularnya paling tinggi di Indonesia," kata Muhadjir, saat melakukan kunjungan kerja di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (5/7).

Tak hanya penularan, jumlah kematian akibat Flu Spanyol di Jatim juga merupakan yang tertinggi seantero Hindia Belanda. Namun Muhadjir tak menyebut berapa banyak nyawa yang gugur akibat wabah itu.

"Angka tertinggi Flu Spanyol yang sampai sekarang tidak ketemu vaksinnya itu, ilang-ilang sendiri gak ada vaksinnya, itu dulu korban tertinggi adalah di Jatim," katanya.

Ia mengatakan, hal tersebut haruslah diwaspadai bersama di saat pandemi corona. Muhadjir tak ingin sejarah kelam tersebut terulang kembali di provinsi paling ujung Pulau Jawa ini.

Di sisi lain, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan jumlah pasien positif virus corona yang meninggal di Jatim telah melampaui DKI Jakarta. Emil menyebut kondisi tersebut merupakan kenyataan pahit.

"Jawa Timur hari ini adalah daerah yang mengalami penyebaran Covid-19 yang sangat luas dan angka kematian sudah di atas DKI Jakarta. Ini adalah realita yang walaupun pahit, tapi harus saya sampaikan untuk transparansi," kata Emil dalam diskusi virtual bertajuk Sukarno Festival, Minggu (21/6).

Emil mengatakan transparansi data kepada masyarakat ini diberikan agar penanganan pandemi virus corona bisa lebih maksimal. Menurutnya, penanganan virus corona bisa diselesaikan dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat.

"Ini hanya bisa diselesaikan dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dari seluruh elemen," katanya.

(frd/ain)

[Gambas:Video CNN]