Demam dan Reaktif Corona, 1.500 Peserta Tak Bisa UTBK SBMPTN

CNN Indonesia | Rabu, 15/07/2020 14:43 WIB
Peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri berbaris dan melakukan pemeriksaan suhu sebelum memasuki ruang Ujian Tes Berbasis Komputer di Universitas Indonesia, Senin (6/7). Peserta UTBK SBMPTN mengantre untuk pemeriksaan suhu sebelum masuk ke ruang tes di Universitas Indonesia, Depok, 6 Juli 2020. (CNN Indonesia/ Feybien ramayanti)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) mencatat setidaknya 1.500 peserta tidak dapat mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SBMPTN) 2020 karena demam dan reaktif corona.

"Juga ada relokasi [peserta] di angka sekitar 1.500 orang yang harus direlokasi ke tahap dua karena suhu badan melebihi 37,5 derajat celcius dan hasil rapid test reaktif," ungkap Ketua LTMPT Mohammad Nasih melalui konferensi video, Rabu (15/7).

Untuk mengikuti UTBK, peserta wajib memiliki suhu badan tidak lebih dari 37,5 derajat celcius. Sedangkan di beberapa daerah, seperti Surabaya, peserta UTBK juga diwajibkan memiliki surat keterangan non reaktif dari hasil pemeriksaan rapid test.


Nasih tidak menyebutkan rincian jumlah peserta yang demam maupun reaktif corona secara jelas. Namun, ia menyebutkan salah satu kasus di Surabaya, di mana ditemukan lebih dari 50 peserta reaktif corona.

"Case di Surabaya ada 50 sekian orang yang hasil rapid test reaktif. Kemudian langsung oleh Gugus Tugas diminta PCR, alhamdulilah semua negatif," ceritanya.

Ia pun menjelaskan 1.500 peserta yang tidak bisa mengikuti UTBK dapat mengikuti tes di gelombang kedua, pada 20 sampai 29 Juli 2020. Dengan syarat mereka harus dinyatakan sehat ketika mengikuti tes.

Acuan sehat yang dimaksud tergantung pusat UTBK masing-masing. Pada wilayah yang mengharuskan rapid test, seperti Surabaya, sehat artinya peserta harus nonreaktif. Sedangkan bagi wilayah yang tidak mengharuskan rapid test, maka sehat berarti suhu badan di bawah 37,5 persen.

Nasih mengatakan pada tahap kedua tidak akan ada toleransi bagi peserta yang terindikasi sakit. Ia menekankan ketika mendaftarkan diri, peserta sudah diwanti-wanti hanya bisa mengikuti ujian jika dinyatakan sehat.

Untuk itu peserta diminta menjaga kesehatannya sebelum mengikuti tes gelombang kedua. Karena ini merupakan kesempatan tes terakhir bagi peserta UTBK, di luar kejadian khusus seperti bencana.

Juga ada sejumlah peserta tahap pertama yang gagal melakukan UTBK dan harus direlokasi ke tahap kedua karena alasan lain yakni 19.299 peserta di Universitas Negeri Surabaya, karena pusat UTBK memutuskan tidak siap menjadi lokasi ujian.

Kemudian 6.212 peserta di Universitas Nusa Cendana, Kupang; 13.490 di Universitas Negeri Jakarta; 1.680 peserta Universitas Sriwijaya, Palembang; 3.518 peserta Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat; dan 2.352 peserta di Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang.

Di sisi lain, tercatat ada 93,1 persen atau 519.070 peserta yang hadir pada UTBK tahap pertama. Seharusnya ada 558.107 peserta yang terjadwal di tahap pertama. Angka kehadiran ini lebih tinggi dibanding tahun lalu, yakni 88,9 persen.

Angka kehadiran paling tinggi didapati di Universitas Pembangunan Veteran Jakarta; Universitas Pendidikan Indonesia di Purwakarta, Jawa Barat; Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten; Institut Seni Budaya Indonesia di Bandung, Jawa Barat; dan Universitas Indonesia, Jakarta.

SBMPTN sendiri merupakan salah satu seleksi masuk perguruan tinggi negeri di samping dua jalur lain, yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan jalur mandiri.

UTBK merupakan tahapan wajib dilewati semua peserta SBMPTN. Hasil SBMPTN bakal diumumkan pada 20 Agustus setelah seluruh gelombang UTBK selesai.

(fey/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK