PKS Minta Jokowi Sudahi Bicara Ancaman Gelombang Kedua Corona

CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2020 06:48 WIB
PKS meminta Presiden Jokowi lebih dulu mengoptimalkan kinerja penanganan virus corona yang kasusnya dari hari ke hari meningkat. Presiden Joko Widodo memimpin ratas dengan dibatasi kaca, Senin (3/8). (Foto: Kris / Biro Pers Setpres)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI Sukamta meminta Presiden Joko Widodo tidak berbicara soal gelombang kedua pandemi virus corona atau Covid-19 di Indonesia.

Menurutnya, pemerintah seharusnya fokus menangani pandemi Covid-19 yang kasus penyebarannya masih terus bertambah setiap hari.

"Saya heran Pak Presiden mengatakan soal ancaman gelombang kedua, ini bisikan dari tim ahli yang mana, mengingat banyak ahli epidemiologi mengatakan di Indonesia hingga saat ini belum selesai alami fase gelombang pertama. Bahkan, Presiden mengatakan tidak tahu kenapa masyarakat makin khawatir dengan Covid-19," kata Sukamta kepada CNNIndonesia.com, Senin (3/8).


Ia menilai langkah membicarakan wacana gelombang kedua Covid-19 akan membuat bingung dan lengah masyarakat dalam menghadapi bahaya Covid-19. Wacana ancaman gelombang kedua ini, menurutnya, juga mengesankan bahwa Indonesia sudah berhasil menyelesaikan masalah penyebaran Covid-19 yang melanda sejak Maret 2020.

Sukamta pun mengingatkan pemerintah bahwa penanganan Covid-19 yang tidak kunjung tuntas akan menambah dampak sosial ekonomi yang lebih berat di tengah masyarakat.

"Sampai saat ini, setiap hari terus meningkat jumlah kasus positif, jumlah korban meninggal juga terus bertambah. Saya kira, lebih baik Presiden dan jajarannya melalui Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang dibentuk belum lama ini fokus untuk segera atasi pandemi dan kita berharap tidak terjadi gelombang kedua di Indonesia," ujar Sukamta.

Lebih lanjut, dia meminta pemerintah segera memperjelas desain utama penangangan Covid-19 yang hingga kini tidak pernah disampaikan ke publik secara publik.

Sukamta juga mempertanyakan penyebab jumlah tes usap (PCR) yang dilakukan hingga masih di bawah angka standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Hingga hari ini baru beberapa kali jumlah PCR bisa lebih dari 30 ribu sebagaimana dicanangkan Presiden. Sementara WHO menyebutkan setidaknya perlu 54 ribu tes setiap hari di Indonesia sebagai standar minimum," tuturnya.

Sebelumnya, Jokowi Presiden mengingatkan jangan sampai kasus gelombang kedua atau second wave penyebaran virus corona (Covid-19) terjadi di Indonesia. Hal itu ia katakan saat berkunjung ke Kantor Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 di Jakarta, Rabu (10/6).

"Dan perlu saya ingatkan jangan sampai terjadi gelombang kedua second wave, jangan sampai terjadi lonjakan. Ini yang ingin saya ingatkan ke kita semuanya," kata Jokowi.

Jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia secara kumulatif per Senin (3/8) mencapai 113.134 orang. Data tersebut diakses dari situs covid19.go.id per pukul 15.20 WIB.

Dari jumlah kasus positif tersebut, sebanyak 70.237 dinyatakan sembuh dan 5.302 orang lainnya meninggal dunia.

Terjadi pertambahan 1.679 orang positif virus corona dari data kemarin. Sementara itu untuk yang sembuh saat ini 62,1 persen dari total positif, dan meninggal 4,7 persen dari total positif secara nasional.

(mts/ain)

[Gambas:Video CNN]