Pandemi Dunia Pra-Corona: Black Death hingga Flu Hong Kong

CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2020 16:45 WIB
Ada wabah pandemi yakni The Modern Plague yang berlangsung selama 43 tahun dan termasuk pandemi terlama dalam sejarah pagebluk dunia. Ilustrasi pemulasaran atau pemakaman jenazah pasien yang positif terinfeksi virus corona (ANTARAFOTO/Basri Marzuki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan bahwa telah terjadi sejumlah pandemi di dunia sebelum virus corona (Covid-19) mewabah seperti saat ini. Jumlah orang yang terjangkit, korban jiwa, hingga lamanya pandemi pun berbeda-beda.

Pandemi pertama yang disampaikan Wiku adalah Black Death. Terjadi sekitar tahun 1334 hingga 1350 silam di sejumlah negara terutama kawasan Eropa. Jumlah kematian yang diakibatkan mencapai 30-50 juta jiwa.

"Black Death yang disebabkan oleh bubonic plague yang berasal dari binatang yang berlangsung 16 tahun dengan 30-50 juta kematian," kata Wiku di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (4/8).


Bubonic plague atau pembengkakan kelenjar getah bening hanya salah satu jenis penyakit yang diakibatkan bakteri yersinia pestis. Selain bubonic, ada pula septicemic plague atau infeksi pada darah dan pneumonic plague atau infeksi paru-paru. Akan tetapi, bubonic plague yang paling banyak terjadi.

Pandemi selanjutnya menurut Wiku adalah The Modern Plague yang berlangsung selama 43 tahun. Terjadi pada tahun 1860-1903 dengan korban jiwa kurang lebih 10 juta orang. Wabah ini terjadi di wilayah China, India dan Hong Kong dan berlangsung lama hingga ditemukan obat dan vaksin.

"Wabah The Modern Plague kurang lebih 10 juta kematian dan berlangsung 43 tahun pada 1860-1903," kata Wiku.

Ada pula wabah pandemi Russian Flu. Berlangsung sepanjang 1889 hingga 1890 atau selama setahun. Meski tak terlalu lama, korban jiwa akibat wabah tersebut menembus angka 1 juta jiwa.

Wiku lanjut menjelaskan soal Flu Spanyol. Wabah mematikan yang terjadi hanya satu tahun tapi membuat 100 juta orang meninggal dunia. Flu Spanyol berlangsung pada tahun 1918-1919.

"Dunia pernah mengalami pandemi dengan kematian cukup tinggi yakni Spanish Flu, H1N1 Influenza A meski hanya 1 tahun namun mengorbankan 50-100 juta kematian," kata Wiku.

Kala itu, Pemerintah kolonial Hindia Belanda juga kerap memberikan sosialisasi bahaya dari virus tersebut kepada masyarakat. Misalnya dengan mengimbau penggunaan masker dan mengurangi kegiatan di luar rumah.

Wabah mematikan di Abad 21 juga terjadi pada 1956 hingga 1958 atau yang sering disebut dengan Asian Flu. Hanya berlangsung selama 2 tahun, namun jumlah kematian mencapai 2 juta orang.

Flu tersebut disebabkan oleh virus jenis H2N2 yang menyebar di wilayah Asia Timur, Asia Tenggara bahkan hingga kota pesisir Amerika Serikat.

Kemudian Hong Kong Flu yang terjadi pada tahun 1968-1969. Jumlah orang yang meninggal dunia akibat terinfeksi virus tersebut mencapai 1 juta orang.

Terbaru, yakni pandemi virus corona. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan bahwa corona sudah menjadi pandemi global.

Hingga 3 Agustus 2020, telah ada 18.278.448 orang di berbagai belahan dunia yang dilaporkan terinfeksi virus corona. Sebanyak 693.713 meninggal dunia akibat virus tersebut.

Belum diketahui pasti asal muasal virus tersebut. Amerika Serikat menyebut virus corona dibuat oleh laboratorium di Wuhan, China. Namun pemerintah China membantah.

Sejauh ini, obat dan vaksin virus corona juga masih belum ditemukan. Karenanya, jumlah orang yang terinfeksi masih berpotensi terus bertambah.

"Jangan tanyakan kapan pandemi akan Berakhir, tapi tanyakan pada diri kita kapan bisa disiplin pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan," kata Wiku.

(mln/bmw/sur/bmw)

[Gambas:Video CNN]