Laut Pulau Pari Tercemar Minyak, Sumber Tumpahan Ditelusuri

CNN Indonesia | Rabu, 12/08/2020 08:46 WIB
Pemkab menduga tumpahan minyak mentah di pesisir Pulau Pari terkait kebocoran di pengeboran, pembuangan dari kapal, atau sisa limbah lama. Ilustrasi pembersihan tumpahan minyak. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tumpahan minyak mentah atau tarbal mulai terlihat mengotori pesisir pantai bagian selatan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, sejak Selasa (11/8) pagi. Pemkab Kepulauan Seribu dan Pertamina pun menelusuri muasal limbah ini.

"Benar, hingga Selasa petang para petugas PPSU dan PJLP dibantu masyarakat masih membersihkan tumpahan minyak itu," kata Lurah Pulau Pari, Mahtum, Selasa (11/8) dikutip dari Antara.

Dia menjelaskan tumpahan minyak itu mulai terlihat di sepanjang pesisir itu pada Selasa (11/8) pukul 06.00 WIB.


"Pegawai kelurahan melaporkan kepada saya, terjadi pencemaran lingkungan di seluruh pesisir pantai akibat limbah minyak mentah," kata Mahtum.

Untuk mempercepat penanganan, pemerintah kelurahan mengerahkan petugas puluhan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), Penyedia Jasa Lainnya Orang Perorangan (PJLP) dari Suku Dinas Lingkungan Hidup hingga masyarakat membersihkan tumpahan minyak mentah itu.

Sekitar pukul 15.30 WIB, lanjutnya, para petugas perusahaan terkait sudah melihat area terdampak tumpahan minyak.

Hingga Selasa (11/8) petang, petugas gabungan mengumpulkan 280 kantong limbah tumpahan minyak mentah. Per kantong berkapasitas sekitar 5 Kilogram.


"Karena area terdampak luas, belum selesai dibersihkan," ujar Mahtum, akan dilanjutkan besok."Namun, katanya, jumlah tenaga dan kantong plastik yang kurang memperlambat pembersihan limbah. Selain itu, terik matahari membuat limbah minyak mencair dan membuat proses pembersihan kurang efektif.

Mahtum mengatakan tumpahan minyak mentah tersebut mengotori sepanjang pesisir pantai bagian selatan Pulau Pari, dari sisi timur dermaga utama sampai ujung timur tepatnya di area wisata Pantai Bintang.

Limbah minyak itu kemungkinan besar juga berimbas di pulau-pulau terdekat seperti seperti Pulau Tikus, dikarenakan masih banyak limbah berada di laut dan terbawa arus.

Menurutnya, pencemaran limbah itu hampir sama dengan kasus pada 2019. Saat itu, sejumlah pulau di Kepulauan Seribu terdampak tumpahan minyak mentah dari pengeboran di Perairan Utara Karawang.

"Akhir tahun lalu, Pulau Pari dan Pulau Lancang juga kena tumpahan minyak," ungkap Mahtum.

Kepala Bagian Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Kepulauan Seribu Endro mengatakan pihaknya masih menelusuri penyebab tumpahan minyak itu.

"Belum diketahui pasti penyebab tumpahan minyak mentah tersebut, saat ini sedang dilakukan penelitian bersama pihak PT Pertamina Hulu Energi (PHE)," kata dia.

Bangkai ikan akibat tumpahan minyak mentah yang tercecer di Laut Utara Karawang, Jawa Barat,  Rabu. 21 Agustus 2019.Tumpahan minyak bisa berdampak pada kematian ikan-ikan di perairan. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Endro menyatakan pihak PHE sudah melakukan penelitian soal kemungkinan tumpahan itu berasal dari kebocoran sumur pengeboran PHE Offshore Southeast Sumatra (OSES) atau Offshore North West Java (ONWJ). Namun, kata dia, pihak Pertamina mengaku belum menerima laporan tentang kebocoran.

Kemungkinan lainnya, kata Endro, ialah karena kelalaian kapal pengangkut minyak atau kapal-kapal yang nakal yang melakukan pencucian tangki di tengah laut. Sebab, mencuci tangki di dermaga menghabiskan biaya lebih besar.

Selain itu, lanjut Endro, ada kemungkinan limbah minyak akibat kebocoran pengeboran beberapa waktu lalu yang sudah menggumpal dan tenggelam di laut kembali lagi ke pesisir pantai karena terbawa angin timur.

Sejauh ini, Endro mengaku belum ada laporan dari pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu yang terdampak tumpahan minyak tersebut.

"Sedang diupayakan dua hari ke depan sudah selesai pembersihan," ujar Endro.

(Antara/arh)

[Gambas:Video CNN]