Gereja Kecewa Jokowi Belum Bersikap atas Penembakan Pendeta

CNN Indonesia | Kamis, 24/09/2020 19:19 WIB
Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) mengaku kecewa Presiden Jokowi belum juga bersikap atas penembakan pendeta Yeremia Zanambani di Papua. Presiden RI Joko Widodo menyapa warga saat menyambangi Kabupaten Kaimana, Papua, 27 Oktober 2019. (Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden/Kris)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Daniel Ronda mengaku kecewa Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) belum juga bersikap atas penembakan pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Yeremia diketahui tewas dekat kediamannya di Distrik Hitadipa karena tembakan pada Sabtu (19/9).

"Kami menyayangkan pihak pemerintah yang sampai hari ini belum memberikan komentar apapun atas peristiwa ini. Baik dari Pak Jokowi, ataupun itu," kata Daniel dalam konferensi pers yang diselenggarakan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) secara daring, Kamis (24/9).


Dia mengatakan GKII sampai saat ini masih berpendapat bahwa aparat TNI bertanggung jawab atas insiden yang menimpa salah satu pemuka agama di Papua tersebut.

Daniel menerangkan dugaan itu tidak akan berubah, hingga terdapat kejelasan dan titik terang dari investigasi yang dilakukan Pemerintah.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Badan Pekerja Am Sinode Gereja Kristen Injil Papua, Andrikus Mofu menyinggung soal pidato Jokowi dalam Sidang Majelis Umum PBB pada Rabu (23/9) pagi WIB. Dalam pidato tersebut, katanya, Jokowi menunjukkan sangat peka terhadap sejumlah masalah-masalah dunia, termasuk konflik di Palestina.

Hanya saja, kata dia, perhatian seperti itu perlu dipertanyakan bagi rakyat Papua di Indonesia.

"Ini memberi pertanyaan kepada Presiden kita, sejauh mana selaku kepala negara dalam tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat Indonesia," kata Andrikus, "Lebih khusus yang ada di tanah Papua."

Evaluasi dan Tim Independen

Andrikus pun mengatakan pemerintah dan masyarakat Indonesia tidak bisa mengabaikan rentetan peristiwa yang telah merenggut korban jiwa, baik dari unsur masyarakat sipil ataupun aparat keamanan TNI-Polri. Untuk hal itu, diperlukan keseriusan negara agar dapat menyelesaikan permasalahan yang telah mengakar di Papua tersebut.

"Saya mengingatkan supaya segera dibentuk tim independen yang melakukan investigasi secara adil, seimbang untuk mengungkapkan peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini di Papua," ujar Andrikus.

Selain itu, sambungnya, Jokowi perlu mengevaluasi penempatan pasukan-pasukan militer yang dinilainya sudah terlalu masif di wilayah Papua.

"Saya mintakan kepada pemerintah, bapak Presiden segera mengevaluasi. Teristimewa berkaitan dengan penempatan pasukan secara masif di Papua," kata Andrikus, "Pada akhirnya ini tidak pernah menyelesaikan masalah di Papua."

Sebagai informasi, penembakan Yeremia ini menarik perhatian publik. Insiden kekerasan yang terus berulang terjadi di Papua tersebut hingga saat ini belum menemui titik terangnya.

TNI menyatakan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNBP-OPM) yang disematkan julukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sebagai penembak Yeremia. Sementara, TPNBP-OPM menuding balik bahwa anggota TNI lah yang membunuh sang pendeta.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab menyatakan telah memerintahkan jajarannya untuk terlibat investigasi penembakan yang menewaskan pendeta Yeremia Zanambani di Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Sementara itu, Polda Papua juga mengirim tim penyelidik ke Kampung Bomba untuk meminta keterangan dari istri Yeremia. Mereka pun menyatakan akan melakukan olah TKP di lokasi.

Bukan hanya dari kubu aparat, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pun mempersiapkan tim investigasi untuk mengusut kematian Yeremia.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara mengatakan Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua telah menerima aduan langsung dari Dewan Adat Papua, John Gobay terkait insiden penembakan terhadap Pendeta Yeremia tersebut.

(mjo/kid)

[Gambas:Video CNN]