Gereja Ungkap Ada Tiga Saksi Penembakan Pendeta di Intan Jaya

CNN Indonesia | Kamis, 24/09/2020 14:54 WIB
Ketua GKII mengungkap ada tiga warga yang bersembunyi dan melihat penembakan pendeta Yeremia Zanambani di Intan Jaya Papua pada Sabtu lalu. Ilustrasi tempat kejadian perkara (TKP) kejahatan. (iStockphoto/Herwin Bahar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Sinode Wilayah Papua, Pendeta Petrus Bonyadone mengungkapkan setidaknya ada tiga warga yang menjadi saksi detik-detik penembakan pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Yeremia diketahui tewas dekat kediamannya di Distrik Hitadipa karena tembakan pada Sabtu (19/9).

"Ada dua ibu yang rupanya menyaksikan peristiwa itu, waktu beliau ditembak mereka dua sembunyi. Dan ada satu bapak," kata Petrus dalam konferensi pers yang diselenggarakan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) secara daring, Kamis (24/9).


Petrus menerangkan saksi-saksi itu menghampiri korban setelah para anggota TNI meninggalkan lokasi penembakan. Setelah itu, kata dia, pendeta Yeremia masih sadarkan diri dan sempat berbicara terkait insiden yang menimpa dirinya.

Hanya saja, Petrus mengakui para saksi itu bukanlah orang terpelajar. Sehingga, kata dia, untuk pihak berwajib memintai keterangan mereka akan menjadi sedikit sulit. Faktor bahasa, sambungnya, juga bisa menjadi salah satu penghambatnya.

Selain itu juga, lokasi para saksi yang disebutkan juga jauh dari pusat kota sehingga memerlukan waktu panjang dan perlu menempuh medan yang sulit bagi aparat keamanan untuk mendatangi para saksi.

"Saya merasa mereka itu adalah saksi kunci," ujar Petrus.

Sebagai informasi, penembakan Yeremia ini menarik perhatian publik. Insiden kekerasan yang terus berulang terjadi di Papua tersebut hingga saat ini belum menemui titik terangnya.

TNI menyatakan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNBP-OPM) yang disematkan julukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sebagai penembak Yeremia. Sementara, TPNBP-OPM menuding balik bahwa anggota TNI lah yang membunuh sang pendeta.

Panglima Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab menyatakan telah memerintahkan jajarannya untuk terlibat investigasi penembakan yang menewaskan pendeta Yeremia Zanambani di Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Herman meminta anak buahnya terlibat langsung dalam investigasi yang digelar di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya sejak Minggu (20/9).

"Tim sudah berangkat sejak hari Minggu, langsung ke Distrik Hitadipa Kabupaten Intan Jaya untuk pendalaman dan investigasi terhadap insiden tertembaknya pendeta Yeremia Zanambani," kata Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih Letkol Arm Reza Nur Patria, Rabu (23/9).

Sementara itu, Polda Papua juga mengklaim telah mengirimkan tim penyelidik ke Kampung Bomba untuk meminta keterangan dari istri Yeremia. Mereka pun menyatakan akan melakukan olah TKP di lokasi.

Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan lebih lanjut terkait penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian maupun TNI.

Bukan hanya dari kubu aparat, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pun mempersiapkan tim investigasi untuk mengusut kematian Yeremia.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara mengatakan Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua telah menerima aduan langsung dari Dewan Adat Papua, John Gobay terkait insiden penembakan terhadap Pendeta Yeremia tersebut.

Sementara itu, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mendesak Kapolda Papua membentuk tim independen guna menyelidiki insiden itu. Hal itu juga turut untuk merespons dua informasi berbeda terkait penembakan tersebut.

(mjo/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK