ANALISIS

Angin Surga Vaksin Corona di Akhir Tahun

CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 19:46 WIB
Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono berpendapat, penyuntikan vaksin di akhir tahun atau awal tahun 2021 jelas tidak mungkin dilakukan. Ilustrasi vaksin. (AFP/Noel Celis)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pernyataan pemerintah soal vaksin covid-19 yang kemungkinan siap disuntikkan pada akhir tahun 2020 dinilai sebagai embusan angin surga.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun belum dapat memastikan 100 persen tentang vaksin corona. Kata Jokowi: "Insya Allah akhir tahun atau awal tahun depan vaksinnya sudah bisa disuntikkan".

Jokowi yakin bila vaksin corona telah disuntikkan, situasi sudah bisa normal kembali. Ia mengatakan yang akan disuntik dalam kisaran 170 juta hingga 180 juta.


"Yang disuntik kurang lebih 170 - 180 juta, butuh berapa bulan juga, ini memerlukan kerja keras kita semua," kata Jokowi dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (30/9).

Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono berpendapat, penyuntikan vaksin di akhir tahun atau awal tahun 2021 jelas tidak mungkin dilakukan. Sebab, kata Pandu, proses persiapan vaksin corona masih panjang. Bahkan, menurutnya sampai saat ini belum ada kesepakatan secara internasional terkait vaksin apa yang akan digunakan.

Pandu menganggap pernyataan Jokowi itu hanya untuk memberikan kesan kepada masyarakat bahwa pemerintah telah berupaya keras untuk menghadirkan vaksin corona di Indonesia.

"Bahwa pemerintah sudah berusaha untuk memberikan vaksin secepat-cepatnya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tapi itu tidak realistis, kan masih ada uji vaksin masih belum selesai, belum ada kesepakatan," kata Pandu kepada CNNIndonesia.com, Selasa (30/9).

Pandu menjelaskan proses uji klinis yang saat ini dilakukan menjadi bagian penting dari vaksin corona. Lewat uji klinis ini dapat diketahui efektivitas dan bagaimana tingkat keamanan vaksin.

Efektivitas vaksin ini, kata Pandu, juga masih menjadi pertanyaan, apakah efektif mencegah penyakit atau mencegah infeksi.

"Jadi penelitian ini belum selesai dan banyak masalah yang mungkin saja tidak bisa dievaluasi sendiri, enggak mungkin hanya dievaluasi data Indonesia, ini uji vaksin juga dilakukan di negara lain," ucap Pandu.

Infografis Daftar Prioritas Penerima Vaksin Covid dari pemerintahInfografis Daftar Prioritas Penerima Vaksin Covid dari pemerintah. (CNN Indonesia/Fajrian)

Sementara, Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah beranggapan bahwa pernyataan yang disampaikan Jokowi itu merupakan bagian dari tugasnya selaku kepala negara.

"Jadi pak Jokowi sebagai kepala negara ya tujuannya menenangkan rakyatnya, kan situasi panik," ujarnya.

Trubus berpendapat bahwa penyuntikan vaksin corona di akhir tahun 2020 atau di awal 2021 adalah sesuatu yang mustahil.

Trubus menuturkan ada jalan panjang yang mesti dilalui untuk memastikan bahwa vaksin itu efektif dan aman.

Sebab, lanjut Trubus, jika belum ada kepastian soal efektivitas dan keamanan, ada kekhawatiran timbulnya ketidakpercayaan publik terhadap vaksin yang akan disuntikan tersebut.

"Saya khawatir ini ada resistensi publik, penolakan publik, karena itu harus diuji coba dulu untuk meyakinkan publik, kan butuh proses, enggak semudah membalikan tangan," tuturnya.

Trubus menyampaikan ada beberapa hal yang mesti dilakukan oleh pemerintah berkaitan dengan vaksin corona.

Pertama, yakni komunikasi antara pemerintah dan masyarakat untuk membangun dan meningkatkan kepercayaan publik. Hal ini berkaitan dengan vaksin corona yang nantinya akan diproduksi dan disuntikan.

Kemudian, pemerintah juga harus menyosialisikan dan memberikan edukasi secara menyeluruh kepada masyarakat terkait vaksin ini.

"Saya khawatir edukasinya minimal malah yang terjadi justru penyimpangan-penyimpangan," kata Trubus.

Lebih lanjut, Trubus menegaskan pernyataan Jokowi soal target penyuntikan vaksin corona ini hanya untuk meredam kekhawatiran masyarakat di tengah situasi pandemi saat ini.

"Tentu dalam konteks sebagai kepala negara ya kita kasihlah, tapi dalam konteks implementasinya menurut saya enggak semudah membalikkan telapak tangan," ucapnya.

(dis/ugo)

[Gambas:Video CNN]