Masyarakat Diimbau Waspada Misinformasi soal KIPI dan Vaksin

KPC PEN, CNN Indonesia | Sabtu, 24/10/2020 17:28 WIB
Masyarakat diminta untuk selalu mencari informasi tentang imunisasi dan vaksinasi dari lembaga yang kredibel seperti Kementerian Kesehatan. Ilustrasi proses imunisasi atau vaksinasi. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Reaksi tubuh pasca imunisasi atau disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) seringkali membuat masyarakat enggan mengikuti program imunisasi atau vaksinasi. Reaksi bisa berupa bengkak atau nyeri di sekitar bekas suntikan, hingga demam.

Aktivis Yayasan Orangtua Peduli Endah Citraresmi memaparkan bahwa KIPI disebabkan berbagai faktor, namun efeknya selalu ringan. Misalnya, reaksi suntikan yang menimbulkan bengkak atau nyeri.

"Atau bisa juga reaksi suntikan tidak langsung, seperti banyak anak yang jadi ketakutan, histeris, akibat di-vaksin, apalagi kalau dipaksa-paksa," jelas Endah dalam Webinar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) dengan tema 'Disinformasi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi' pada Jumat (23/10).


Selain itu, juga ada faktor kebetulan akibat suatu peristiwa lainnya yang berbarengan dengan program vaksinasi.

Sedangkan demam pasca penyuntikan imunisasi terjadi karena inflamasi. Tubuh, kata Endah, sedang memproses vaksin tersebut. Demam setelah imunisasi merupakan reaksi yang normal dan tidak aneh.

Praktisi Literasi Digital dan Pendiri Akademi Berbagi, Ainun Chomsun, mengingatkan ketidaktahuan atas KIPI ini jangan sampai membuat masyarakat menolak vaksin. Ia menyarankan untuk selalu mencari informasi dari lembaga yang kredibel seperti Kementerian Kesehatan.

"Setelah itu, cari di media, tiga media besar pasti akan menuliskan kalau itu memang penting dan berdampak akan hajat hidup orang banyak," tuturnya dalam forum yang sama.

Jika informasi yang diterima dari sumber yang belum jelas dan tidak bisa ditemukan di media maka masyarakat diharapkan untuk menahan diri dan tidak menyebarkan informasi itu ke orang lain. Pasalnya, informasi yang salah dapat berdampak negatif dan merugikan orang lain.

"Satu-satunya yang bisa mencegah hoaks adalah diri kita sendiri. Cukup berhenti di diri kita," kata Ainun.

(ayo/rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK