Keluarga Tolak Kasus Pendeta Yeremia Lewat Pengadilan Militer

CNN Indonesia | Selasa, 10/11/2020 20:58 WIB
Keluarga pendeta Yeremia menolak kasus penembakan diproses di peradilan militer dan berharap kasus diadili lewat peradilan HAM. Ilustrasi. Keluarga menolak kasus penembakan Pendeta Yeremia diproses di peradilan militer. (Foto: Istockphoto/ra-photos)
Jakarta, CNN Indonesia --

Keluarga Pendeta Yeremia Zanambani yang merupakan korban penembakan di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua menolak kasus diproses di peradilan militer.

Alih-alih peradilan militer, mereka meminta agar perkara kasus diselesaikan melalui pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM).

Keluarga berkaca pada kasus-kasus sebelumnya di Papua yang diselesaikan melalui Peradilan Militer justru lemah sanksi dan minim keadilan.


"Kami tolak kasus pembunuhan bapak ini, kami tidak mau diadili melalui pengadilan militer," kata anak perempuan Pendeta Yeremia Zanambani, Rode Zanambani melalui keterangan video yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (10/11).

Pernyataan itu ia sampaikan usai mendapat informasi bahwa Kepolisian Daerah Papua dan dalam waktu dekat akan melimpahkan perkara ini ke Polisi Militer Kodam untuk selanjutnya diproses dalam peradilan militer untuk disidangkan.

"Kami menyatakan agar proses hukum perkara pembunuhan ayah kami dapat dilakukan di pengadilan HAM. Supaya perkara ini dapat diperiksa secara seadil-adilnya dan pelaku dapat diproses setimpal dengan perbuatannya dan memberikan rasa keadilan bagi kami," tegasnya.

Selain menolak peradilan militer, Rode juga menolak proses autopsi jenazah mendiang Ayahnya. Penolakan itu menurut Anggota Tim Kuasa Hukum Keluarga Yeremia, Yohanis Mambrasar, merupakan salah satu bentuk budaya kepercayaan erat dari keluarga yang meyakini bakal ada bencana bila jenazah yang sudah dikebumikan diangkat lagi.

"Keluarga menolak autopsi karena mereka di keluarga sendiri menyampaikan bahwa mereka punya kebudayaan di Intan Jaya kalau dimakamkan diangkat lagi dari liang lahatnya ini kalau terjadi nanti akan ada masalah dalam keluarga," kata Yohanis.

Sebelumnya, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan pemerintah telah menyebut kemungkinan keterlibatan aparat atas meninggalnya tokoh agama tersebut.

Sementara Komnas HAM secara tegas menyebut nama pelaku yang menewaskan Pendeta Yeremia adalah Wakil Danramil Hitadipa, Alpius.

Keterangan itu diperoleh berdasarkan pengakuan Yeremia sebelum meninggal kepada dua orang saksi.

Serta pengakuan saksi-saksi lain yang melihat Alpius berada di sekitar kandang babi, tempat di mana Yeremia mengembuskan napas terakhir kali.

Namun sejauh ini belum ada penyidikan kasus hukum terkait penembakan pendeta Yeremia baik oleh Polri maupun TNI. 

(khr/pris)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK