Epidemiolog Anggap PSBB Total Sudah Tidak Relevan

CNN Indonesia | Rabu, 02/12/2020 06:00 WIB
Epidemiolog menganggap penerapan PSBB Total di DKI Jakarta untuk mencegah penyebaran Covid-19 sudah tidak relevan. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI), Masdalina Pane, mengatakan bahwa penerapan PSBB total di DKI Jakarta untuk mencegah penyebaran Covid-19 sudah tidak relevan.

Masdalina menganggap penerapan PSBB transisi maupun PSBB total tidak banyak berpengaruh pada jumlah kasus positif Covid-19 di ibu kota. Sementara itu, masyarakat juga saat ini sudah acuh pada program pemerintah.

"PSBB total sudah. Transisi sudah berkali-kali. Apakah rem darurat lagi? Kasus tidak banyak berkurang, kan? Faktanya masyarakat sudah tidak peduli lagi apa kata pemerintah. Mau PSBB total, mau pun transisi, semua berjalan saja seperti biasa," kata Masdalina kepada CNNIndonesia.com, Selasa (1/12).


Ia kemudian menyatakan bahwa penarikan rem darurat berupa PSBB total setelah melakukan PSBB transisi membuktikan bahwa pemerintah daerah sebetulnya gagal memutus rantai penularan Covid-19 di tengah masyarakat.

Masdalina juga menegaskan bahwa pengendalian pandemi Covid-19 harus sistematis, sesuai dengan Pedoman Kementerian Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan Covid-19.

Dalam pedoman revisi lima tersebut, seluruh suspek wajib dilakukan swab. Kontak erat tanpa gejala tidak perlu melakukan tes swab, tapi wajib dikarantina selama 14 hari. Proses karantina juga harus diawasi betul oleh petugas kesehatan setempat atau Satgas Covid-19.

Selain itu, saat PSBB total juga petugas harus tegas dalam menindak pelanggar protokol kesehatan. Mobilitas dan aktivitas masyarakat juga harus dibatasi. Namun, dua aturan-aturan ini belum dianggap belum maksimal meskipun PSBB total sudah diterapkan.

"Inti dari pengetatan wilayah atau karantina adalah pembatasan mobilitas dan aktivitas warga, tapi harus benar implementasinya tapi jadi ambigu ketika PSBB diberlakukan bioskop dibuka, hotel tempat wisata hiburan malam juga dibuka," tutur Masdalina.

Meski demikian, ia menilai penanganan pandemi di DKI Jakarta lebih baik ketimbang provinsi lain. Selain karena data yang disajikan oleh pemerintah sudah lengkap, kapasitas testing juga tinggi. Terpenting, kata Masdalina, kasus tambahan kematian di DKI Jakarta rendah.

"Data lengkap, jumlah kasus stabil saja, yang penting kematian rendah, [jika] dibanding Jateng, Jatim, dan Sumsel. Kelihatannya kasus mereka rendah, tapi angka kematiannya tinggi," tutur Masdalina.

Sementara itu, kasus Covid-19 di Indonesia sendiri kembali mengalami lonjakan hingga mencapai rekor penambahan tertinggi pada 29 November lalu, yaitu 6.267 kasus.

[Gambas:Video CNN]

Kasus Covid-19 di DKI Jakarta juga tetap berada di atas angka 1.000 kasus per hari. Rekor penambahan harian terbanyak di DKI Jakarta terjadi pada 21 November lalu, sebanyak 1.579 kasus.

Setelahnya, penambahan kasus positif memang menurun, tapi tidak pernah kurang dari 1.000 kasus dalam sehari. Menurut data Satgas Covid-19 pada Senin (30/11), jumlah kasus positif di DKI bertambah 1.099 kasus.

Berdasarkan data yang sama, jumlah akumulasi kasus positif nasional sebanyak 538.883 kasus, 450.518 dinyatakan sembuh, dan 16.945 meninggal dunia.

(mel/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK