Muhadjir Ungkap Alasan PPKM Lebih Longgar daripada PSBB

CNN Indonesia | Kamis, 28/01/2021 01:26 WIB
Muhadjir menyebut pendekatan apapun yang dilakukan pemerintah yang paling utama mesti dilakukan adalah mengetuk kesadaran masyarakat akan bahaya covid. Menko PMK Muhadjir Effendy. (Rusman - Biro Setpres)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memaparkan alasan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa Bali tak seketat PSBB saat awal digelar pada April 2020.

Aturan PPKM yang dia akui sedikit lebih longgar ini lantaran pemerintah berasumsi masyarakat telah memiliki kesadaran sendiri terkait protokol kesehatan.

"PPKM ini kita berlakukan agak lebih ringan dibanding April itu dengan asumsi tingkat kesadaran masyarakat itu sudah terbangun lebih baik dibanding April (2020)," kata Muhadjir melalui tayangan video yang telah diberi izin untuk dikutip, Rabu (27/1).


Namun melihat tingkat penularan saat ini Muhadjir mengaku PPKM Jawa Bali yang saat ini kembali diterapkan setelah periode pertama berakhir 25 Januari kemarin itu akan segera dievaluasi.

Kata dia, tak menutup kemungkinan pendekatan-pendekatan koersi atau pendekatan 'paksaan' akan kembali diterapkan.

"Nanti akan kita evaluasi seksama kalau memang masih perlu, dibutuhkan lagi pendekatan koersi pada waktu awal, kalau perlu ditingkatkan lagi nanti akan kita lakukan," kata dia.

Kesadaran Masyarakat

Dalam kesempatan itu, Mantan Menteri Pendidikan ini menyebut pendekatan apapun yang dilakukan pemerintah yang paling utama mesti dilakukan adalah mengetuk kesadaran masyarakat akan bahaya Covid-19 ini.

Menurut dia, jika terus menerus pendekatan koersi atau struktural diterapkan pemerintah tentu masyarakat pun akan lelah dan akan timbul perlawanan.

"Kita tidak mungkin kerahkan petugas terus untuk memelototi orang, ini tidak mungkin. Mestinya yang melototi itu ya dirinya sendiri, kesadaran," katanya.

Diakui Muhadjir rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terkait Covid-19 ini juga lantaran edukasi yang memang belum benar-benar menyentuh tingkat kesadaran warga. Selain itu rasa bosan dan lelah juga menjadi pendorong banyaknya protokol kesehatan yang dilanggar.

"Dan kedua juga mungkin ada faktor kelelahan, kebosanan dan yang ketiga mungkin ada faktor over ekspektasi terutama dengan datangnya vaksin," kata dia.

"Karena itu saya betul-betul imbau kepada masyarakat jangan terlalu over ekspektasi, berharap yang berlebihan dengan vaksin, karena perjalanannya masih panjang karena itu tetap harus disiplin patuhi prokes itu," jelasnya.

(tst/ain)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK