Anies 21 Heroes, Komunitas Klaim Tak Ada Jalur Sepeda di DKI

CNN Indonesia | Sabtu, 06/02/2021 05:59 WIB
Komunitas sepeda di Ibu Kota klaim tak ada jalur sepeda terkait Anies Baswedan masuk 21 Heroes 2021 versi lembaga asal Jerman, TUMI. Pesepeda melintas di jalur sepeda di Jakarta Timur. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah komunitas sepeda di Ibu Kota merepons capain Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang masuk dalam 21 Heroes 2021 menurut sebuah lembaga nirlaba pemerhati kebijakan transportasi urban asal Jerman, TUMI (Transformative Urban Mobility Initiative).

Ketua Tim Advokasi komunitas pekerja bersepeda Bike to Work Indonesia, Fahmi Saimima tidak sepakat dengan klaim 63 kilometer jalur sepeda di Ibu Kota yang dibangun Anies.

Menurut dia, tak ada jalur sepeda sesuai prosedur di DKI Jakarta. Sebab, sebagian besar jalur sepeda yang diklaim ada di sejumlah ruas jalan, kata Fahmi hanya jalan biasa yang dicat untuk lajur sepeda.


"Yang baru terealisasi 63 km, tapi bukan disebut jalur sepeda, karena ini masih berbagi dengan jalur kendaraan lainnya, dalam artian cuma jalan raya dicat jalur sepeda," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/2).

Fahmi menerangkan, jalur sepeda yang memenuhi syarat infrastruktur mestinya terpisah dengan jalur kendaraan lain. Pemisahan itu untuk memastikan keamanan pesepeda.

Pemisahan bisa dilakukan dengan kereb atau separator setinggi kurang lebih 35 sentimeter. Sementara, di sejumlah ruas jalan Ibu Kota, jalur yang diklaim khusus sepeda hanya menggunakan cat, dan dalam beberapa titik menggunakan traffic cone atau kerucut.

Fahmi turut menagih sejumlah janji Anies yang menyebut akan membangun atau menyediakan sejumlah fasilitas penunjang pesepeda di Ibu Kota, seperti pop-up bike dan bike lounge atau pit stop untuk sepeda.

Untuk pop-up bike atau pembatas jalur dengan traffic cone misalnya, keberadaannya saat ini kata Fahmi justru hilang. Lewat SK Gubernur, Anies kata Fahmi juga berjanji akan menyediakan parkir sepeda di semua gedung dan fasilitas umum di Ibu Kota.

"Jadi, prestasi tersebut akan kami anggap angin lalu jika janji untuk membuat jalur sepeda terproteksi dan bike lounge tidak dilaksanakan," ucapnya.

Kritik serupa juga diungkapkan Koordinator Komunitas pesepeda Jakarta Cycling Community (JKTCC) Ario Pratomo. Ia juga tak segan menyebut tak ada jalur sepeda di Ibu Kota.

Sejumlah jalur sepeda di Jakarta, kata Ario, hanya ramah digunakan saat hari libur atau akhir pekan. Itu pun hanya menggunakan pembatas jalan atau traffic cone. Sementara kondisi jalur itu masih belum ramah untuk alat transportasi sehari-hari.

"Bisa dibilang nggak ada jalur sepeda. Jadi kalau mau naik sepeda dari rumah ke tempat kerja atau tempat lain kita harus share dengan kendaraan lain," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/3).

Ario menantang Anies menata ulang ruas jalan di DKI untuk membenarkan klaim jalur sepedanya. Sebab, kata Ario, sebagian besar ruas jalan di DKI sejak awal memang bukan didesain untuk ramah pesepada.

"Harus ada penataan ulang. Karena hampir semua jalan di Jakarta memang dari awal tidak dirancang untuk sepeda. Karena jalur sepeda itu membutuhkan: satu, penelitian tersendiri. Dia butuh tempat parkir, safety juga, keamanan juga dan lain-lain," katanya.

Dianggap Tidak Relevan

Sejumlah pengguna transportasi meragukan klaim TUMI yang memasukkan Gubernur DKI Jakarta berjasa dalam perbaikan moda transportasi di Ibu Kota.

Salah seorang pengguna Transjakarta, Suci Amalia (24) menilai klaim TUMI berlebihan mendapuk Anies sejajar dengan 20 orang lain dari sejumlah negara berjasa terhadap perbaikan transportasi di DKI. Menurut di, kondisi transportasi di Jakarta tak sesuai dengan kondisi di lapangan.

"Tidak relevan antara award yang diperoleh Anies dan kenyataannya," ujar karyawan swasta asal Kebayoran Lama, Jakarta Selatan itu, Jumat (5/2).

Suci mencontohkan, belakangan ini ia malas menggunakan naik Transjakarta saat pergi ke tempat kerja karena jumlah armada yang sedikit, sehingga dia harus berdesak-desakan di jam sibuk kerja.

Menurut dia, kondisi itu rentan untuk terjadi tindak kriminal seperti copet. Apalagi, petugas dalam kendaraan biasanya juga lebih fokus terhadap laju kendaraan ketimbang mengawasi kondisi penumpang.

Kecuali soal kepadatan, Suci menilai kondisi transportasi umum di Jakarta, termasuk Transjakarta terbilang nyaman.

"Kalau dari segi fasilitas kendaraannya nyaman aja. Cuma yang bikin nggak nyaman padatnya saja. Jadi bau dan pengap," kata dia.

Sementara itu, pernyataan berbeda diungkapkan seorang pengguna kereta rel listrik (KRL) asal Bogor, Jawa Barat, Isty Puspitasari. Dia mengaku mengapresiasi kondisi KRL yang menurut dia terus mengalami perbaikan.

Ia senang karena Pemprov DKI terus memperbaiki sejumlah pemberhentian KRL dengan membangun underpass dan membuat menyediakan sejumlah fasilitas protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19.

Secara umum, dia mengaku merasa nyaman menggunakan KRL untuk pulang pergi dari rumah ke kantornya di bilangan Sudirman.

"Fasiltiasnya udah cukup baik. karena di mana-mana udah banyak tempat cuci tangan, hand sanitizer, tempat sampah, bangku buat duduk," ucap Isty.

(thr/ugo)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK