Genjot Vaksinasi Tahap Dua di Tengah Keterbatasan Stok Vaksin
CNN Indonesia
Rabu, 17 Feb 2021 09:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Juru vaksin mempersiapkan untuk menyuntikkan vaksin Covid-19 Sinovac dosis pertama ke tenaga kesehatan dalam kegiatan vaksinasi massal di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2021. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah RI telah mengumumkan memulai program vaksinasi Covid-19 tahap kedua pada Rabu (17/2). Mereka yang menjadi target vaksinasiini adalah pelayan publik, lansia, dan pedagang pasar. Khusus pasar, salah satunya hari ini dilakukan vaksinasi pedagang Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada 16,9 juta petugas pelayanan publik dan 21,5 juta lansia yang menjadi target program vaksinasi Covid-19 gratis dari pemerintah. Itu artinya pemerintah membutuhkan kurang lebih 76,8 juta dosis vaksin untuk pemberian dua suntikan vaksin.
Pemerintah menargetkan vaksinasi tahap kedua ini rampung pada Mei 2021. Untuk kemudian dilanjutkan dengan vaksinasi untuk masyarakat umum yang ditargetkan selesai pada Maret 2022 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, sebelum bicara soal vaksinasi tahap kedua, vaksinasi tahap pertama yang menyasar 1,4 juta tenaga kesehatan (nakes) sendiri belum juga rampung hingga memasuki pekan ketiga Februari ini.
Data terakhir yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 per (15/2) memperlihatkan sebanyak 1.096.095 nakes telah mendapat suntikan dosis vaksin pertama, sementara 482.625 lainnya rampung menerima suntikan dosis kedua.
Kondisi temuan itu lantas berbeda dengan yang disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Kamis (11/2) lalu. Budi padahal sudah optimis penyuntikan vaksin virus corona yang menyasar nakes rampung pada Senin (15/2) kemarin. Optimisme Budi itu memang lebih cepat dari target vaksinasi nakes yang dijadwalkan rampung di akhir Februari.
Pemahaman esensial pemerintah [soal vaksinasi] ini berbeda dengan pemahaman esensialnya public health.Epidemiolog, Dicky Budiman
Dalam perkembangan vaksinasi tahap pertama sejak 14 Januari lalu, mulanya pemerintah tidak mengumumkan detail harian. Kemudian, pada awal Februari, pemerintah mulai mengumumkan perkembangan vaksinasi yang dipadukan dengan pengumuman kasus harian Covid-19 di Indonesia.
Pada saat itu, pemerintah mengumumkan sasaran vaksinasi nakes sebanyak 1.531.072. Data itu merupakan olahan dari data Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Kemenkes. Data itu terus mengalami perkembangan naik turun, hingga jumlah mulai tetap alias tidak bergerak per (9/2) dengan jumlah 1.468.764 nakes.
Terkait situasi terkini tersebut, Menkes Budi pada (8/2) lalu mengungkapkan kurang lebih 100 ribu nakes batal mendapat suntikan vaksin Covid-19. Ia menyebut sekitar 6,3 persen nakes dari target total penerima vaksin itu gagal divaksinasi dengan berbagai alasan, mulai dari kondisi kesehatan yang kurang baik seperti memiliki penyakit penyerta alias komorbid, hingga nakes yang sempat menjadi penyintas covid-19, pada saat itu.
Adapun bila dilihat lebih lanjut perkembangan vaksinasi nakes periode 1-15 Februari, rata-rata penyuntikan harian untuk vaksin dosis pertama 30-40 ribu nakes. Terlihat vaksinasi tertinggi dilakukan pada 10 Februari (124.139 nakes), sedangkan vaksinasi paling sedikit terjadi pada 7 Februari (7.222 nakes) yang divaksin dalam sehari di Indonesia.
Sedangkan untuk vaksinasi dosis kedua, terbanyak terjadi pada 13 Februari (69.881 nakes), sedangkan paling sedikit terjadi pada 7 Februari (1.924 nakes) yang menerima suntikan dosis vaksin kedua.
Seorang tenaga kesehatan mendapatkan vaksinasi dosis pertama vaksin Covid-19 Sinovac dalam kegiatan vaksinasi massal di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2021. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menilai vaksinasi tahap kedua yang bakal dilakukan sebelum tahap pertama rampung merupakan salah satu kesalahan dalam strategi vaksinasi pemerintah.
Dicky menyoroti target vaksinasi tahap kedua yang beberapa di antaranya merupakan target nonesensial dalam pandemi. Salah satunya yakni pedagang pasar dan petugas hotel, juga restoran.
Ia khawatir, vaksinasi yang dilakukan secara paralel akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan ketersediaan alias stok vaksin. Sehingga target esensial yang seharusnya mendapat vaksin akan tergeser dengan target vaksinasi nonesensial.
"Yang membuat saya bertanya dan memberikan kritik ini adalah, yang disebut pemahaman esensial pemerintah ini [soal vaksinasi] berbeda dengan pemahaman esensialnya public health. Kalau pemerintah lebih ke aktivitas ekonomi," kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (16/2).
Dicky mengatakan ada sejumlah alasan bahwa seharusnya vaksinasi tahap pertama dirampungkan terlebih dahulu sebelum memulai tahap kedua. Salah satunya, adalah untuk mencapai target penurunan angka kesakitan dan kematian Covid-19 yang menyasar orang berisiko tinggi seperti nakes dan lansia alias orang berusia 60 tahun ke atas.
Sehingga, bila pemerintah tidak segera melakukan penyuntikan vaksin covid-19 terhadap dua golongan itu, Dicky khawatir target capaian vaksinasi jangka pendek akan sulit terealisasi di Indonesia.
"Yang menjadi masalah adalah stok, terbatasnya suplai. Dengan kondisi itu, sudah harus dibagi-bagi dengan kelompok yang sebetulnya belum dalam dikategorikan esensial menurut public health, sehingga tujuan dalam jangka pendek menurunkan angka kesakitan dan kematian tidak akan tercapai," kata dia.
Oleh sebab itu, Dicky meminta pemerintah benar-benar tetap fokus untuk memprioritaskan golongan yang berisiko tinggi terpapar covid-19. Ia pun meminta pemerintah untuk memperbaiki komunikasi publik terutama saat menyampaikan kabar vaksinasi.
Dicky menyoroti pernyataan-pernyataan pejabat yang seolah sudah berhasil mengamankan stok vaksin untuk target 181,5 juta penduduk Indonesia. Padahal menurutnya, banyak negara maju di Eropa yang gagal memenuhi komitmen pengadaan vaksin imbas bahan baku vaksin yang susah, hingga kendala produksi vaksin di berbagai perusahaan penyuplai vaksin.
"Karena masalah utama kita itu di stok, maka dalam strategi pengendalian pandemi ini jangan bikin asumsi yang membahagiakan terus, itu tidak boleh," kata dia.
Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan pemerintah pusat RI memang mempercepat tahapan vaksinasi guna lebih cepat mencapai target kekebalan kelompok (herd immunity) terhadap virus corona.
Sebab, target itu hanya bakal tercapai bila Indonesia rampung melakukan vaksinasi terhadap 60-70 persen dari total 270 juta penduduk Indonesia. Dari hitungan itu, didapat 181.554.465 warga Indonesia menjadi sasaran vaksinasi yang terbagi dalam empat tahapan.
"Iya pelaksanaannya dipercepat tetapi tantangan ada pada ketersediaan vaksin, dan terutama nanti daerah daerah dengan geografis sulit ya," kata Nadia melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Selasa (16/2).
Meski tidak merinci secara keseluruhan, namun Nadia mengaku saat ini pihaknya tengah mengamankan belasan hingga puluhan vaksin yang bakal digunakan untuk dua tahapan vaksinasi usai tenaga kesehatan itu. Ia mengatakan, PT Bio Farma (persero) saat ini juga tengah memproduksi vaksin buatan sendiri dengan bahan baku asal Sinovac.
Total saat ini sebanyak 28 juta dosis vaksin telah tiba di Indonesia. Rinciannya, 3 juta vaksin jadi covid-19 jadi dari Sinovac, yaitu 1,2 juta dosis yang dikirim pada 6 Desember 2020 dan 1,8 juta dosis yang dikirim pada 31 Desember 2020.
Kemudian 15 juta dosis vaksin berbentuk bahan baku (bulk) pada 12 Januari, dan 10 juta dosis vaksin Covid-19 Sinovac bulk dan 1 juta dosis overfill vaksin pada 2 Februari lalu. Namun kemudian sebanyak 1.578.720 dosis vaksin telah terpakai sejauh ini.
"Sampai akhir Februari akan ada 7 juta vaksin yang sudah jadi dari Bio Farma," kata dia.
Pelaksanaan penyuntikan vaksin Covid-19 produksi perusahaan farmasi Sinovac untuk para tenaga kesehatan di Puskesmas Kecamatan Gambir, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2021. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Menkes Budi pada awal Januari 2021 lalu mengaku pihaknya telah mengamankan 426 juta dosis vaksin untuk memenuhi target vaksinasi 181,5 juta penduduk Indonesia.
Vaksin-vaksin tersebut berasal dari Sinovac 125 juta dosis dengan opsi penambahan 100 juta dosis, Novavax 50 juta dengan opsi 80 juta dosis, serta AstraZeneca 50 juta dengan opsi 50 juta dosis. Di sisi lain pihaknya juga tengah bernegosiasi bersama Pfizer untuk 50 juta dosis.
Lebih lanjut, selain stok vaksin, Nadia mengaku sejauh ini tidak ada tantangan serius dalam pelaksanaan vaksinasi di Indonesia. Perihal vaksinasi paralel yang bakal dilakukan, Nadia menyebut tidak ada kendala serius, sebab database yang digunakan pihaknya saat ini adalah data warga dari Direktorat Jenderal kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri serta BPJS Kesehatan.
Sebelumnya pada 28 Desember 2020, Budi Gunadi lewat Kepmenekes telah menetapkan tujuh merek vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia untuk menanggulangi pandemi. Tujuh merek vaksin yang tertuang dalam Kepmenkes HK.01.07/MENKES/12758/2020 itu adalah Yang diproduksi PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm), Moderna, Novavax Inc, Pfizer Inc. and BioNTech, dan Sinovac Life Sciences Co., Ltd.
Pemerintah RI telah mengumumkan memulai program vaksinasi Covid-19 tahap kedua pada Rabu (17/2). Mereka yang menjadi target vaksinasiini adalah pelayan publik, lansia, dan pedagang pasar. Khusus pasar, salah satunya hari ini dilakukan vaksinasi pedagang Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada 16,9 juta petugas pelayanan publik dan 21,5 juta lansia yang menjadi target program vaksinasi Covid-19 gratis dari pemerintah. Itu artinya pemerintah membutuhkan kurang lebih 76,8 juta dosis vaksin untuk pemberian dua suntikan vaksin.
Pemerintah menargetkan vaksinasi tahap kedua ini rampung pada Mei 2021. Untuk kemudian dilanjutkan dengan vaksinasi untuk masyarakat umum yang ditargetkan selesai pada Maret 2022 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, sebelum bicara soal vaksinasi tahap kedua, vaksinasi tahap pertama yang menyasar 1,4 juta tenaga kesehatan (nakes) sendiri belum juga rampung hingga memasuki pekan ketiga Februari ini.
Data terakhir yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 per (15/2) memperlihatkan sebanyak 1.096.095 nakes telah mendapat suntikan dosis vaksin pertama, sementara 482.625 lainnya rampung menerima suntikan dosis kedua.
Kondisi temuan itu lantas berbeda dengan yang disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Kamis (11/2) lalu. Budi padahal sudah optimis penyuntikan vaksin virus corona yang menyasar nakes rampung pada Senin (15/2) kemarin. Optimisme Budi itu memang lebih cepat dari target vaksinasi nakes yang dijadwalkan rampung di akhir Februari.
Pemahaman esensial pemerintah [soal vaksinasi] ini berbeda dengan pemahaman esensialnya public health.Epidemiolog, Dicky Budiman
Dalam perkembangan vaksinasi tahap pertama sejak 14 Januari lalu, mulanya pemerintah tidak mengumumkan detail harian. Kemudian, pada awal Februari, pemerintah mulai mengumumkan perkembangan vaksinasi yang dipadukan dengan pengumuman kasus harian Covid-19 di Indonesia.
Pada saat itu, pemerintah mengumumkan sasaran vaksinasi nakes sebanyak 1.531.072. Data itu merupakan olahan dari data Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Kemenkes. Data itu terus mengalami perkembangan naik turun, hingga jumlah mulai tetap alias tidak bergerak per (9/2) dengan jumlah 1.468.764 nakes.
Terkait situasi terkini tersebut, Menkes Budi pada (8/2) lalu mengungkapkan kurang lebih 100 ribu nakes batal mendapat suntikan vaksin Covid-19. Ia menyebut sekitar 6,3 persen nakes dari target total penerima vaksin itu gagal divaksinasi dengan berbagai alasan, mulai dari kondisi kesehatan yang kurang baik seperti memiliki penyakit penyerta alias komorbid, hingga nakes yang sempat menjadi penyintas covid-19, pada saat itu.
Adapun bila dilihat lebih lanjut perkembangan vaksinasi nakes periode 1-15 Februari, rata-rata penyuntikan harian untuk vaksin dosis pertama 30-40 ribu nakes. Terlihat vaksinasi tertinggi dilakukan pada 10 Februari (124.139 nakes), sedangkan vaksinasi paling sedikit terjadi pada 7 Februari (7.222 nakes) yang divaksin dalam sehari di Indonesia.
Sedangkan untuk vaksinasi dosis kedua, terbanyak terjadi pada 13 Februari (69.881 nakes), sedangkan paling sedikit terjadi pada 7 Februari (1.924 nakes) yang menerima suntikan dosis vaksin kedua.
Seorang tenaga kesehatan mendapatkan vaksinasi dosis pertama vaksin Covid-19 Sinovac dalam kegiatan vaksinasi massal di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2021. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menilai vaksinasi tahap kedua yang bakal dilakukan sebelum tahap pertama rampung merupakan salah satu kesalahan dalam strategi vaksinasi pemerintah.
Dicky menyoroti target vaksinasi tahap kedua yang beberapa di antaranya merupakan target nonesensial dalam pandemi. Salah satunya yakni pedagang pasar dan petugas hotel, juga restoran.
Ia khawatir, vaksinasi yang dilakukan secara paralel akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan ketersediaan alias stok vaksin. Sehingga target esensial yang seharusnya mendapat vaksin akan tergeser dengan target vaksinasi nonesensial.
"Yang membuat saya bertanya dan memberikan kritik ini adalah, yang disebut pemahaman esensial pemerintah ini [soal vaksinasi] berbeda dengan pemahaman esensialnya public health. Kalau pemerintah lebih ke aktivitas ekonomi," kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (16/2).
Dicky mengatakan ada sejumlah alasan bahwa seharusnya vaksinasi tahap pertama dirampungkan terlebih dahulu sebelum memulai tahap kedua. Salah satunya, adalah untuk mencapai target penurunan angka kesakitan dan kematian Covid-19 yang menyasar orang berisiko tinggi seperti nakes dan lansia alias orang berusia 60 tahun ke atas.
Sehingga, bila pemerintah tidak segera melakukan penyuntikan vaksin covid-19 terhadap dua golongan itu, Dicky khawatir target capaian vaksinasi jangka pendek akan sulit terealisasi di Indonesia.
"Yang menjadi masalah adalah stok, terbatasnya suplai. Dengan kondisi itu, sudah harus dibagi-bagi dengan kelompok yang sebetulnya belum dalam dikategorikan esensial menurut public health, sehingga tujuan dalam jangka pendek menurunkan angka kesakitan dan kematian tidak akan tercapai," kata dia.
Oleh sebab itu, Dicky meminta pemerintah benar-benar tetap fokus untuk memprioritaskan golongan yang berisiko tinggi terpapar covid-19. Ia pun meminta pemerintah untuk memperbaiki komunikasi publik terutama saat menyampaikan kabar vaksinasi.
Dicky menyoroti pernyataan-pernyataan pejabat yang seolah sudah berhasil mengamankan stok vaksin untuk target 181,5 juta penduduk Indonesia. Padahal menurutnya, banyak negara maju di Eropa yang gagal memenuhi komitmen pengadaan vaksin imbas bahan baku vaksin yang susah, hingga kendala produksi vaksin di berbagai perusahaan penyuplai vaksin.
"Karena masalah utama kita itu di stok, maka dalam strategi pengendalian pandemi ini jangan bikin asumsi yang membahagiakan terus, itu tidak boleh," kata dia.
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meninjau pelaksanaan vaksinasi massal dosis pertama kepada tenaga kesehatan di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2021. (Dok. Biro Setpres/Kris)
Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan pemerintah pusat RI memang mempercepat tahapan vaksinasi guna lebih cepat mencapai target kekebalan kelompok (herd immunity) terhadap virus corona.
Sebab, target itu hanya bakal tercapai bila Indonesia rampung melakukan vaksinasi terhadap 60-70 persen dari total 270 juta penduduk Indonesia. Dari hitungan itu, didapat 181.554.465 warga Indonesia menjadi sasaran vaksinasi yang terbagi dalam empat tahapan.
"Iya pelaksanaannya dipercepat tetapi tantangan ada pada ketersediaan vaksin, dan terutama nanti daerah daerah dengan geografis sulit ya," kata Nadia melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Selasa (16/2).
Meski tidak merinci secara keseluruhan, namun Nadia mengaku saat ini pihaknya tengah mengamankan belasan hingga puluhan vaksin yang bakal digunakan untuk dua tahapan vaksinasi usai tenaga kesehatan itu. Ia mengatakan, PT Bio Farma (persero) saat ini juga tengah memproduksi vaksin buatan sendiri dengan bahan baku asal Sinovac.
Total saat ini sebanyak 28 juta dosis vaksin telah tiba di Indonesia. Rinciannya, 3 juta vaksin jadi covid-19 jadi dari Sinovac, yaitu 1,2 juta dosis yang dikirim pada 6 Desember 2020 dan 1,8 juta dosis yang dikirim pada 31 Desember 2020.
Kemudian 15 juta dosis vaksin berbentuk bahan baku (bulk) pada 12 Januari, dan 10 juta dosis vaksin Covid-19 Sinovac bulk dan 1 juta dosis overfill vaksin pada 2 Februari lalu. Namun kemudian sebanyak 1.578.720 dosis vaksin telah terpakai sejauh ini.
"Sampai akhir Februari akan ada 7 juta vaksin yang sudah jadi dari Bio Farma," kata dia.
Pelaksanaan penyuntikan vaksin Covid-19 produksi perusahaan farmasi Sinovac untuk para tenaga kesehatan di Puskesmas Kecamatan Gambir, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2021. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Menkes Budi pada awal Januari 2021 lalu mengaku pihaknya telah mengamankan 426 juta dosis vaksin untuk memenuhi target vaksinasi 181,5 juta penduduk Indonesia.
Vaksin-vaksin tersebut berasal dari Sinovac 125 juta dosis dengan opsi penambahan 100 juta dosis, Novavax 50 juta dengan opsi 80 juta dosis, serta AstraZeneca 50 juta dengan opsi 50 juta dosis. Di sisi lain pihaknya juga tengah bernegosiasi bersama Pfizer untuk 50 juta dosis.
Lebih lanjut, selain stok vaksin, Nadia mengaku sejauh ini tidak ada tantangan serius dalam pelaksanaan vaksinasi di Indonesia. Perihal vaksinasi paralel yang bakal dilakukan, Nadia menyebut tidak ada kendala serius, sebab database yang digunakan pihaknya saat ini adalah data warga dari Direktorat Jenderal kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri serta BPJS Kesehatan.
Sebelumnya pada 28 Desember 2020, Budi Gunadi lewat Kepmenekes telah menetapkan tujuh merek vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia untuk menanggulangi pandemi. Tujuh merek vaksin yang tertuang dalam Kepmenkes HK.01.07/MENKES/12758/2020 itu adalah Yang diproduksi PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm), Moderna, Novavax Inc, Pfizer Inc. and BioNTech, dan Sinovac Life Sciences Co., Ltd.